Ahmad Nur Ramadhani, Siswa Berprestasi Bidang Tenis Meja yang Terlupakan

  • Whatsapp

SimpulRakyat.co.id, Biak Nufor – Anak bungsu dari empat bersaudara, yang lahir dari pasangan Abas SP dan Ana Hamidatul Mualimah pada 25 November 2002 diberi nama Ahmad Nur Ramadhani.

Sebagai anak tetangga di kompleks Perumahan Pertanian Kabupaten Biak Nufor, ia selalu melihat dan mengamati apa dan bagaimana didikan orangtuanya terhadap keempat anak-anak mereka.

Baca Juga

Dhani, sang anak bungsu memiliki spesifikasi khusus di bidang olah raga tenis meja.

Sejak Sekolah Dasar (SD) Yapis 1 Biak, Dhani dilatih guru olah raganya, bermain tenis meja di sekolah.

Keinginan kuat Dhani berprestasi di bidang tenis meja mendorong dia meminta ayah-ibunya membeli menja pingpong untuk dilatihan di rumah.

Tak jarang saya pun menjadi teman sparing di sore hari dan selalu dikalahkan Dhani.

Prestas Dhani yang Semakin Meningkat

Melihat perkembangan Dhani yang begitu pesat, ayah-ibunya mencari pelatih untuk mematangkan Dhani, terutama melatih teknik-teknik smash dan spin yang akurat tepat sasaran yang bisa membuat lawan terkalahkan.

Demikian pelatih Wandi Widodo dan Agus Soleh TNI Angkatan Laut sehingga, Markas TNI Angkatan Laut Biak menjadi tempat Dhani diasah ketangkasannya.

Sang pelatih utama Wandi Widodo dan Agus Soleh begitu bersemangat melaihat perkembangan Dhani yang cepat menangkap setiap instruksi yang diajarkan.

Sang pelatih mencoba mendorong Dhani mengikuti Turnamen O2SN (Olimpiade Olah Raga Sekolah Dasar) Tingkat Kabupupaten Biak Numfor pada tahun 2012, di kala Dhani masih kelas tiga SD Yapis 1.

Pada turnamen tingkat kabupaten 2012, Dhani menggodol juara 2 pada single putra.

Pada tahun yang sama, Dhani mengikuti Turnamen O2SN tingkat Provinsi Papua, Dhani mampu mendapat peringkat tiga.

Pada 2013 turnamen tenis menja O2SN tingkat Kabupaten Biak Numfor, Dhani sudah meraih peringkat satu, bahkan turnamen tenis meja tingkat provinsi Papua tahun 2013, Dhani mampu menggodol peringkat satu.

Atas prestasi itu, Dhani mewakili Provinsi Papua mengikuti turnamen tenis menja O2SN tingkat Nasional di Balikpapan pada Juli 2013.

Abas SP sang ayah Dhani mengatakan, sejak tahun 2014 Dhani menggodol juara tenis meja di hampir semua event turnamen tenis menja di Biak, entah sigle atau double putera.

“Turnamen O2SN tingkat kabupaten Biak Numofor selalu Dhani mendapat juara satu. Atas prestasi itu, Dhani mewakili Biak Numfor mengikuti open turnamen tenis meja di provinsi Papua dan Dani pun mendapatkan juara satu kategori kelompok U-16,” kata Abas.

Lanjut dijelaskan, Dhani ditunjuk mewakili provinsi Papua mengikuti turnamen O2SN tingkat nasional di Jakarta.

Sementara ibu Dhani, Ana Hamidatul Muhalimah menuturkan, sejak 2014 sampai sekarang, Dhani selalu menjuarai berbagai even turnamen tenis meja baik di tingkat kabupaten, maupun tingkat regional Papua seperti di Nabire dan Raja Ampat, Papua Barat.

“Bahkan lima kali mewakili Kabupaten Supiori mengikuti turnamen tenis meja regional Papua dan Papua Barat di Biak selalu mendapatkan peringkat satu,” ujar Ana Hamidatul Muhalimah.

Kurangnya Perhatian Dana Pembinaan Pemerintah Daerah

Jika melihat prestasi Dhani sejak kelas tiga SD (Sekolah Dasar) sampai posisi sekarang, Dhani sudah kelas XII SMA Negeri 1 Biak, bulan Oktober 2020 ini, Dhani masih meraih peringkat satu turnamen tenis meja memperebut pialah Danrem Cup.

Baru kali ini Dhani diberi hadiah uang sebesar Rp4 juta, demikian ayah Dhani, Abas, SP menjelaskan dengan nada suara yang agak sedih.

“Dhani terlupakan dari perhatian Pemerintah Daerah Biak Numfor maupun Provinsi Papua. Mendorong berhasilnya Dhani sampai saat ini jujur saja, baru satu kali dibantu oleh pemerintah daerah Biak Numfor ketika Dhani mengikuti turnamen O2SN tingkat provinsi Papua,”

“Itu pun kami menggunakan dana pribadi ke Japura pulang pergi, baru digantikan dana yang tidak sesuai dengan pengeluaran yang kami gunakan selam turnamen tingkat provinsi,” terang dia.

Lanjut Ayah Dhani, Abas menjelaskan, anggaran daerah dalam rangka pembinaan atlit-atlit dalam berbagai cabang olah raga selalu disiapkan melalu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun.

“Sayangnya perhatian daerah sebagai stimulus peningkatan prestasi siswa yang merupakan asset daerah, bangsa dan negara seperti Dhani, kurang mendapat perhatian,”

“Sampai hari ini, lanjut Abas, SP, anak kami Dhani berprestasi pada cabang olah raga tenis meja hanya karena dorongan orangtua agar anak Dhani berprestasi dengan biaya apa adanya,”

“Syukur Alhamdullillah… Dhani dan saudara-saudaranya tidak banyak mengeluh, terlebih Ibu Dhani, Ana Hamidatul Mualimah yang selalu menyiapkan kebutuhan Dhani setiap kali mengikuti pertandingan tenis meja turnamen apa saja baik di Biak maupun di luar Biak,” jelas dia.

Dhani dan Mimpi Masa Depan

Tempat berlatih di Koops III TNI Angkatan Udara sekarang ini dan berprestasi di bidang olah raga tenis meja, Dhani menjadi siswa favorite di kalangan TNI.

Bahkan dari pihak TNI Angkatan Udara sudah menawarkan Dhani untuk kelak setelah tamat bisa masuk menjadi anggota TNI AU.

Bagi Dhani, menjadi perwira TNI bukan mimpinya. Ia ingin mengikuti jejak ayahnya menjadi ahli pertanian dan kelak bercita cita menjadi seorang Aparat Sipil Negara.

Dhani menyadari, bahwa tidak semua generasi muda bercita-cita menjadi petani. Justeru bagi Dhani kondisi resesi dunia terutama kondisi Covid-19 banyak sekali usaha yang mengalami pasang surut alias bangkrut.

Para petani justeru mengalami surplus income melalui penjualan hasil-hasil pertanian yang sudah pasti dibutuhkan semua orang untuk hidup.

Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari adalah pilihannya setelah lulus dari SMA tahun depan.

Papua telah membentuk kepribadian dan kecintaan Dhani pada pilihan Manokwari tempat kuliahnya dan kelak Dhani berharap setelah tamat, dapat mengabdikan diri di tanah kelahirannya, Manokwari.

Konklusi

Dhani merasa sedih ketika tidak mendapat perhatian layaknya saudara-saudara lain yang mendapat dukungan penuh dalam bidang olah raga tenis meja.

Dari mimiknya, bisa terbaca betapa harapan dan impiannya diperlakukan seperti saudaranya yang lain.

Namun, pada akhirnya Dhani hanya berpasrah, jika Allah berkehendak, apa yang diimpikannya bisa digapai melalui perjuangan belajar tekun, bahkan berlatih lebih giat lagi agar kelak juga bisa menjadi juara di tingkat nasional dalam berbagai turnamen tenis meja yang diikutinya.

Penulis: Paulus Laratmase
(Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia
Biak Papua)

Berita Menarik Lainnya