SimpulRakyat.co.id, Manokwari – Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, resmi menutup Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat, Minggu (28/6/2026).

Prosesi penutupan yang berlangsung di Ruang Terbuka Publik (RTP) Borarsi dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah. Acara diawali dengan ibadah bersama sebelum diumumkannya para pemenang dari 12 kategori perlombaan.

Kontingen Sulawesi Utara keluar sebagai juara umum setelah mendominasi sejumlah kategori bergengsi. Atas prestasi tersebut, Sulawesi Utara berhak membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia.

Kontingen berjuluk Bumi Nyiur Melambai itu meraih Gold Champion pada kategori Paduan Suara Pria (PSP), Paduan Suara Wanita (PSW), Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC), serta Musik Gerejawi Nusantara (MGN). Mereka juga menyabet gelar Grand Prix kategori PSDC sekaligus membawa pulang Piala Menteri Agama.

Piala Bergilir Presiden dan Piala Menteri Agama diserahkan langsung oleh Menteri Agama kepada Ketua LPPD Sulawesi Utara sekaligus Ketua TP-PKK Sulawesi Utara,  Anik Yulius Selvanus Komaling.

“Capaian luar biasa Kontingen Sulawesi Utara harus menjadi pemantik semangat bagi daerah lain untuk meningkatkan mutu musik gerejawi sekaligus mempererat tali persaudaraan dan cinta NKRI lewat Pesparawi,” kata Nasaruddin.

Sementara itu, Kontingen Sulawesi Selatan juga mencatatkan hasil membanggakan. Dari sembilan kategori yang diikuti, Sulsel berhasil membawa pulang satu Gold Champion, lima medali emas, dan tiga medali perak.

Gold Champion diraih melalui kategori Paduan Suara Anak yang dibina LPPD Kota Palopo.

Lima medali emas lainnya diperoleh dari kategori Solo Anak usia 11-15 tahun, Solo Remaja Pemuda Putra, Paduan Suara Dewasa Campuran, Paduan Suara Pria, dan Musik Gerejawi Nusantara.

Adapun medali perak diraih pada kategori Solo Anak usia 7-10 tahun, Solo Remaja Pemuda Putri, dan Vokal Grup.

Penghargaan bagi Kontingen Sulawesi Selatan diserahkan langsung oleh Menteri Agama kepada Ketua Kontingen Sulsel, Alfred CB. Penyerahan tersebut turut disaksikan ratusan warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dan Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Papua Barat.

Dalam sambutannya, Nasaruddin menegaskan bahwa Pesparawi bukan hanya ajang kompetisi paduan suara, melainkan ruang memperkuat persaudaraan, toleransi, dan persatuan bangsa.

Ia mengatakan, selama penyelenggaraan Pesparawi, Papua Barat menjadi titik temu keberagaman masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai suku, bahasa, dan budaya.

“Melalui kidung pujian, kita merayakan indahnya hidup rukun dalam kebinekaan yang menjadi pilar utama NKRI,” ujar dia.

Menurut Nasaruddin, harmoni dalam musik mencerminkan pentingnya keberagaman yang saling melengkapi dalam kehidupan berbangsa.

Menteri Agama juga mengapresiasi tema “Pesparawi Nasional Ramah Lingkungan” yang diusung pada penyelenggaraan tahun ini. Menurut dia, tema tersebut sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama di bidang ekoteologi.

Ia menyebut kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral umat beragama, selain membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia.

Selama pelaksanaan Pesparawi, sekitar 8.000 peserta menerapkan berbagai kebiasaan ramah lingkungan, seperti membawa tumbler pribadi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memilah sampah.

“Kita telah membuktikan kepada dunia bahwa nilai-nilai spiritualitas dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan sebagai fondasi pembangunan negara yang berkelanjutan,” kata Nasaruddin.

Ia berharap kebiasaan tersebut terus diterapkan para peserta setelah kembali ke daerah masing-masing.

Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) sekaligus Direktur Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama, Dr Jeane Marie Tulung, mengatakan Pesparawi XIV tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga memperkuat moderasi beragama, kepedulian lingkungan, dan persatuan nasional.

“Pesan yang ingin kita sampaikan kepada dunia adalah bahwa Indonesia merupakan rumah yang aman bagi siapa saja. Dalam perbedaan, kita tetap bisa bernyanyi dalam satu harmoni dan menjaga alam ciptaan-Nya,” ujarnya.

Jeane menjelaskan, rangkaian kegiatan Pesparawi XIV meliputi perlombaan 12 kategori, Karnaval Budaya, pameran UMKM, aksi penanaman pohon di Pulau Mansinam, hingga Musyawarah Nasional LPPN yang menetapkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah Pesparawi Nasional XV pada 2029.

Ia juga menyebut gerakan membawa tumbler yang diwajibkan bagi seluruh kontingen berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai ajang dengan jumlah peserta terbanyak yang menggunakan tumbler.

Menutup laporannya, Jeane menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Kabupaten Manokwari, panitia pelaksana, TNI, Polri, relawan, serta seluruh masyarakat yang telah mendukung kelancaran penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIV. (James)