Kemunafikan Merasa di Atas Kebenaran

  • Whatsapp
Ketua Umum PWOIN, Feri Rusdiono. (Foto: Istimewa)

“Hubungan agama dan manusia adalah tema abadi yang tak pernah sepi dari pro dan kontra”

SimpulRakyat.co.id, OPINI – Topik yang paling banyak diungkap adalah seputar posisi agama dalam kehidupan manusia: adakah kehidupan menyempurnakan keberagamaan (Pendapat Pertama), ataukah keberagamaan menyempurnaan kehidupan (Pendapat Kedua).

Baca Juga

Masing-masing pendapat memberikan argumentasi logis dalam ruang pemikiran manusia.

Setiap pendapat memiliki basis dukungan yang kuat, baik dalam konteks kekuatan gagasan, kekuatan jumlah pendukung, maupun kekuatan kualitas dukungan.

Pendapat Pertama relative berkembang di kehidupan tradisional (Negara berkembang, pedesaan), sedangkan Pendapat Kedua relative berkembang di kehidupan modern (Negara maju, perkotaan).

Basis Keyakinan

Baik Pendapat Pertama maupun Pendapat Kedua sejatinya mendasarkan gagasannya pada keyakinan. Pendapat Pertama menjadikan doktrin-doktrin agama sebagai basis keyakinan, sedangkan Pendapat Kedua menciptakan doktrin-doktrin yang disintesa dari pengalaman hidup dan kehidupan, kemudian menjadikan doktrin tersebut sebagai basis keyakinan.

Satu fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa doktrin agama ikut terbawa dalam doktrin-doktrin pada Pendapat Kedua, baik bersifat positif searah, maupun negative berlawanan arah.

Fakta ini logis mengingat sejarah panjang kehidupan manusia adalah sejarah yang berpusat pada doktrin dan tradisi keberagamaan, yang para pelaku Pendapat Kedua adalah bagian dari objek sejarah tersebut.

Maka, adalah mustahil menafikan sama sekali pengaruh agama dari kehidupan besar bumi, manusia dan bukan manusia.

Titik Temu

Hal yang menarik adalah baik Pendapat Pertama maupun Pendapat Kedua bertemu di satu titik: realitas kehidupan yang menyepakati bahwa kehidupan manusia adalah media untuk meraih kebahagiaan. Apakah kebahagiaan itu? Adalah kenyamanan dalam hidup.

Kritik oleh Pendapat Pertama kepada Pendapat Kedua adalah: Untuk apa memiliki kehidupan sempurna, jika tidak bahagia; sedangkan kritik Pendapat Kedua kepada Pendapat Pertama adalah: Kebahagiaan yang bersumber dari doktrin-dokrin non realitas adalah kebahagiaan abstrak.

Masing-masing sesungguhnya ingin menuduh bahwa lawannya tidak bahagia, atau menghakimi bahwa lawannya tidak akan bisa bahagia jika tetap mengikuti pendapat yang berseberangan dengan pendapatnya.

Kenyataannya, ada bukti inkonsisten yang berseberangan dengan teori kebahagiaan masing-masing pendapat –apapun penyebab inkonsisten itu– yang seperti membantah kedua pendapat, yaitu fakta bahwa pada masing-masing kubu pendapat bermunculan orang-orang yang mengklaim dirinya bahagia atau terlibat bahagia.

Pun pada masing-masing kubu pendapat bermunculan orang-orang yang mengklaim dirinya tidak bahagia atau tidak terlihat bahagia.

Fakta lainnya, terjadi kasus-kasus migrasi antar penganut pendapat yang beralih dari kehidupan satu pendapat ke kehidupan pendapat lain, bahkan remigrasi, setelah beralih ke pendapat lain kemudian kembali ke pendapat pertama, pun bukan tidak mungkin terjadi re-remigrasi.

Maka sesungguhnya baik migrasi, remigrasi, maupun re-remigrasi adalah dalil bahwa pokok persoalan yang mendorong pilihan hidup manusia adalah kebahagiaan. Ingin mendapatkan bahagiaan, maka seseorang memilih salah satu pendapat di satu waktu.

“Yang Benar” dan “Sebaiknya?”

Pertanyaan yang menarik diungkapkan adalah: Pendapat mana yang benar?

Pendapat Pertama, yang menyatakan bahwa kehidupan menyempurnakan keberagamaan, ataukah Pendapat Kedua, yang menyatakan bahwa keberagamaan menyempurnakan kehidupan?

Sulit untuk berada di tengah, memberikan jawaban yang memuaskan kedua pihak, mengingat kedua pendapat menjadikan keyakinan sebagai dasar -karena keyakinan adalah sumber kebenaran, yang mendasarisesuatu dianggap benar.

Dengan asumsi tidak merubah keyakinan masing-masing pendapat, maka tidak mungkin memberikan jawaban yang ‘benar’ menurut kedua pihak.

Situasi yang paling mungkin adalah membiarkan masing-masing pihak memberikan jawaban sesuai keyakinannya, apa yang disebut toleransi, sepertinya itulah keputusan yang adil: Bersikap toleransi kepada yang tidak sependapat.

Beberapa teks doktrin keagamaan (Pendapat Pertama) bahkan menegaskan ‘benarnya’ sikap toleransi, bahwa dalam hubungannya dengan keyakinan tidak boleh ada paksaan.

Pada Pendapat Kedua pun terdapat doktrin toleransi berkenaan dengan keyakinan tersebut, yaitu berhubungan dengan prinsip egalitarian, kesetaraan dan keterbukaan.

Dengan demikian para penganut pendapat manapun, seharusnya dan sejatinya bisa bersikap toleransi kepada penganut pendapat lain.

Hanya saja di setiap kehidupan manusia (kenyataannya) selalu ada ruang bagi gagasan dan perilaku ekstrim, maka pada kedua pendapat tersebut di atas, sikap dan penganut ekstrimisme pun pasti bermunculan.

Pada umumnya pendekatan mereka adalah putih-hitam yang meyakini bahwa kehidupan itu harus putih (putih menurut pendapat mereka) dan tak boleh ada hitam, serta meyakini sebagai dosa jika masih ada hitam, oleh karenanya hitam harus dimusnahkan. Demikian menurut penganur ekstrimisime di kedua kubu.

Perhatikanlah bahwa yang diyakini sebagai hitam oleh penganut ekstrimisme adalah yang diyakini sebagai putih oleh penganut ekstrimisme pada pendapat lainnya.

Namun yang lebih membahayakan adalah keyakinan bahwa: “yang hitam harus dimusnahkan” karena mereka salah, sedangkan yang salah harus dihukum agar menjadi benar.

Sesungguhnya keyakinan terakhir itulah yang harus dihindari dan diminimalisir, dengan kata lain tidak boleh ada pemaksaan apalagi pemusnahan oleh siapapun kepada siapapun.

Tidak boleh ada kelompok yang pendekatan berfikirnya adalah ekstrimisme. Siapapun dan dimanapun, pemikiran ekstrim adalah pangkal munculnya permusuhan dan peperangan.

Penegasannya “yang benar dan sebaiknya” adalah tidak berlaku ekstrim, siapapun dia dan di manapun berada pada salah satu dari dua pendapat.

Pendapat Ketiga

Pendapat ketiga bisa juga bukan pendapat, namun hanya saduran, yang meresum dua pendapat sebelumnya.

Dikatakan bahwa keberagamaan beriringan dengan kehidupan. Keberagamaan adalah kehidupan, demikian pula kehidupan adalah keberagamaan. Keduanya menyatu, dua dalam satu. Keduanya bisa berjalan seiring.

Namun jika dicermati, boleh jadi Pendapat Pertama-lah yang menyerukan Pendapat Ketiga. Penjelasannya adalah karena Pendapat Ketiga memberikan ruang bagi keberagamaan dan kehidupan sekaligus, sehingga member ruang luas bagi Pendapat Pertama.

Apakah Pendapat Ketiga merupakan sikap kompromi Pendapat Pertama? Ataukah Pendapat Ketiga sesungguhnya bagian dari doktrin substansif Pendapat Pertama yang terkubur (atau dikubur) bersama panjangnya sejarah kehidupan manusia?

Bukan sikap bertanggung jawab jika jawaban atas hal ini disandarkan pada vonis, asumsi, dan dugaan. Apalagi vonis dari rival Pendapat.

Yang fair adalah menelaah sumber asli Pendapat Pertama, doktrin-doktrin mereka, baru kemudian mengambil kesimpulan.

Beberapa poin penting secara logis menjelaskan bahwa sebagian doktrin-doktrin Pendapat Pertama mendukung sacara kuat Pendapat Ketiga.

Terdapat irisan luas antara keberagamaan dan kehidupan, sehingga bagi mereka kehidupan adalah praktek keberagamaan dan keberagamaan adalah rambu kehidupan.

Keberagamaan diklaim tidak mengekang kehidupan, bahkan memberikan arah, inspirasi, dan percepatan.

Lantas mengapa Pendapat Kedua menolak Pendapat Ketiga? Adalah karena sesungguhnya mereka –Pendapat Kedua- tidak saja memilih kehidupan realitas namun juga menolak keberagamaan sekaligus.

Jadi ada tiga prinsip yang tidak boleh dilanggar oleh Pendapat Kedua, yaitu Memilih Kehidupan Realitas, Menemukan Kebahagiaan, dan Menolak Pendapat Pertama.

Inilah trilogy prinsip Pendapat Kedua. Hal mana berbeda dengan Pendapat Pertama yang menghilangkan prinsip “Menolak Pendapat Lawan”.

Jika demikian halnya, sesungguhnya Pendapat Pertama lebih bijak. Dia tidak memiliki dendam.
Lebih logis, dan lebih toleran.

Dialog

Sebagai sesama warga bumi yang memberikan ruang bagi perbedaan, dialog adalah cara berkomunikasi yang elegan, karena dialog adalah tradisi berbasis ilmu dan pemikiran.

Di satu sisi, dialog adalah gelanggang untuk menegaskan pendapat yang dianggap benar, sekaligus berbagi kebenaran itu kepada penganut ‘kesalahan’ agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Di sisi lain, dialog adalah kesempatan bermartabat untuk memperkaya makna kebenaran yang dianut dan meluruskan bagian kebenaran yang dianggap masih bengkok.

Maka, dalam dialog diperlukan keterbukaan, ketulusan, dan ketajaman telaah, serta mengindarkan diri dari ekstrimisme dan pemahaman tentang harga diri secara keliru.

Ruang Imaginer Pendapat Pertama?

Salah satu doktrin yang (hampir) mustahil diterima oleh Pendapat Kedua adalah Teori Kehidupan Setelah Kematian.

Sandaran berfikir Pendapat Kedua yang tidak bisa keluar dari bingkai kebumian menghalangi doktrin tersebut, sekaligus menjadi dalil bagi Pendapat Kedua bahwa kesalahan Pendapat Pertama adalah mutlak yang tidak mungkin diberikan ruang toleransi.

Menurut Pendapat Kedua, kehidupan setelah kematian adalah ruang imaginer yang mustahil.

Terhadap vonis tersebut, sekali lagi, perlu dikembalikan kepada poin yang logis dan disepakati, bahwa titik temu Pendapat Pertama dan Pendapat Kedua adalah kebahagiaan dan toleransi –sebagaimana telah diuraikan di atas.

Maka, meskipun Pendapat Kedua menolak hidup sesudah mati, namun karena keyakinan tersebut sangat diyakini oleh pendapat lawannya, sikap toleransi harus dipilih.

Lebih elegan lagi jika sikap toleransi tersebut diperluas dengan dialog tentang hidup sesudah mati, yang di dalamnya bisa ditelaah secara mendalam aspek teoritis maupun praktisnya.

Telaah teoritis hidup sesudah mati adalah pusat topik yang menjadi sumber perbedaan pendapat, sehingga perlu mendapatkan perhatian besar dan mendalam.

Biarlah masing-masing penganut Pendapat memaparkan pandangannya mengenai hal tersebut dan penganut Pendapat rivalnya menyimak dan menyampaikan pandangannya mengenai topic yang sama.

Kemudian masing-masing Pendapat mengambil kesimpulan hasil dialog.

Telaah praktis hidup sesudah mati pun urgen untuk dipaparkan, karena realitas teori ‘imaginer’ hidup sesudah mati adalah pengaruhnya saat ini di kehidupan manusia.

Konsep dasar telaah berkisar pada pengaruh bagi kehidupan secara keseluruhan saat ini, bagi mereka yang meyakininya, dan bagi mereka yang tidak meyakininya.

Dialog dan sikap toleransi tentang hidup sesudah mati yang dikembangkan oleh masing-masing Pendapat, setidaknya sampai pada pernyataan kepada pihak lawannya, bahwa Pihak Pertama mengatakan kepada Pihak Kedua: Setidaknya kalau hidup setelah kematian benar adanya, maka kami telah mempersiapkan bekalnya; sedangkan Pihak Kedua mengatakan kepada Pihak Pertama: Jika kalian percaya kepada kehidupan sesudah kematian, silakan saja menjalani kehidupan yang lebih sulit.

Kedua pernyataan berbeda tersebut di atas tentang hidup sesudah mati tidak berarti mengharuskan masing-masing Pendapat mempunyai keyakinan seperti pernyataannya.

Sangat mungkin (bisa jadi seharusnya) masing-masing Pendapat tetap meyakini sebagaimana mereka selama ini memiliki keyakinan tentang hidup sesudah mati.

Pendapat Pertama tetap meyakini bahwa hidup sesudah mati adalah benar dan pasti terjadi yang harus dipersiapkan bekalnya selama di dunia. Pendapat Kedua (bisa) tetap meyakini bahwa tidak ada hidup sesudah mati (karena bagi mereka hal itu tidak ada)

Bukan Kemunafikan

Apakah itu artinya dalam bertolensi harus bersikap munafik? Beda di mulut beda pula di hati? Tentu saja tidak demikian. Silakan dicermati sekali lagi uraian di atas.

Tak satupun kalimat yang mengarah pada perilaku munafik

Apa yang dikatakan oleh Pendapat Pertama kepada Pendapat Kedua atau sebaliknya dalam bertolensi tidak berseberangan dengan apa yang diyakini oleh masing-masing.

Pendapat Pertama tetap meyakini bahwa hidup sesudah mati adalah kebenaran, demikian pula Pendapat Kedua tetap meyakini bahwa tidak ada hidup setelah mati.

Namun apa yang diyakini di dalam hati mereka dinyatakan secara proporsional kepada Pihak lain dengan tujuan menghargai keyakinan Pihak lain tersebut.

Sikap menghargai seperti ini akan melahirkan persahabatan dan persaudaraan, sehingga tercipta kedamaian bersama.

Kebenaran Hanya Satu

Terlepas dari sikap teguh dalam keyakinan dan toleransi antara dua pihak yang berbeda keyakinan, sesungguhnya kebenaran itu satu. Hanya saja setiap pihak tidak berhak mengklaim hanya dirinya saja yang benar, orang lain salah.

Jika dia penganut Pendapat Pertama, maka doktrin keagamaan mengajarkan bahwa kebenaran adalah domain Tuhan yang manusia tak berhak memonopoli dan memaksakannya kepada orang lain selama orang lain itu tidak memaksakan kebenaran menurut mereka.

Jika dia penganut Pendapat Kedua, maka prinsip egalitarian, kesetaraan, dan toleransi mengharuskannya memberikan ruang kepada orang lain yang berbeda pendapat dengannya, serta tidak ada hak untuk memaksakan suatu pendapat yang dianggapnya benar kepada orang lain.

Lantas apa urgensi penegasan bahwa kebenanaran itu hanya satu? Penegasan ini perlu diungkapkan agar setiap manusia bersungguh-sungguh meraih kebenaran yang sebenar-benarnya, karena bagaimanapun manusia harus memahami bahwa akal punya keterbatasan.

Kesungguhan untuk meraih kebenaran yang sebenarnya akan membuat manusia tidak gegabah merumuskan atau memilih kebenaran yang diyakininya.

Dia akan menelaah, menguji, membuktikan, dan mengupayakan sekuat tenaga agar benar-benar yang terbaiklah yang menjadi pilihannya.

Kemudian terhadap pilihan orang lain, terutama pilihan yang berbeda dengan pilihannya, maka akan dikembalikan kepada sikap terbaik dalam perbedaan.

Boleh jadi dialah yang benar, maka dia berharap mendapatkan kebahagiaan terbaik.

Jika dia benar berarti orang lain salah, maka untuk orang lain itu, dia berharap tetap mendapatkan kebaikan terbaik dalam batas-batasan kesalahaannya.

Demikian pula jika dialah yang salah dan orang lain yang benar, hal inipun bukan tidak mungkin.

Jika ternyata demikian, dia yang salah, maka dia berharap mendapatkan kebahagiaan tertinggi yang bisa diperoleh dalam batas-batas kesalahan itu dan kepada orang lain yang berada dalam kebenaran, maka dia memahaminya sebagai hal yang sudah semestinya, barangkali karena orang lain lebih sungguh-sungguh menemukan kebenaran, atau bisa jadi karena orang lain memiliki berbagai kelebihan sehingga sampai pada kebenaran.

Bagi dirinya yang berada dalam kesalahan akan mengusahakan sedapat mungkin untuk memperbaiki kesalahannya selama memungkinkan.

Terakhir, keyakinan yang benar adalah harapan setiap orang, namun mendapatkan keyakinan yang benar saja tidak cukup.

Sikap yang benar dalam mengkomunikasikan keyakinan yang benar tersebut sama pentingnya dengan mendapatkan keyakinan yang benar.

Bersamaan dengan keyakinan yang dianggap paling benar oleh manusia, selalu tersisa ruang kesalahan, baik sedikit maupun banyak. Itulah sebabnya menghargai keyakinan orang lain adalah niscaya, bahkan hal itu bagian dari keyakinan yang benar.

Penulis: Feri Rusdiono (Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Online Independen Nusantara-PWOIN)

SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Disarankan Untuk Anda :