Warning dalam Pengadaan Barang Jasa di Tengah Pandemi Covid-19 (Bagian VIII)

  • Whatsapp
Mamat Sanrego

SimpulRakyat.co.id, OPINI – LIMIT Indonesia sangat menyayangkan jika ada Pejabat Pengadaan memanfaatkan momentum status Keadaan Darurat, lalu seakan-akan harus panik.

Kemudian karena merasa panik, jangan sampai ada pihak telah membuat keputusan pengadaan barang jasa Pemerintah yang tidak mengacu pada Pasal 91 ayat (1) huruf p. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang Jasa.

Baca Juga

Pemerintah serta seluruh turunannya sebagaimana yang diatur oleh LKPP, tidak boleh diadakan dengan cara-cara langsung, memberikan bantuan secara tunai kepada pengguna tanpa dilandasi proses administasi pengadaan.

Namun, sebelumnya harus melalui penetapan kebutuhan terlebih dahulu, lalu kemudian menunjuk kepada penyedia yang pernah menyediakan barang yang sejenis pada satuan kerja dilingkungan pengguna dimaksud.

Banyaknya berita yang simpang siur terkait pengadaan barang jasa Pemerintah di tengah Pandemi Covid-19, maka sangat diperlukan informasi secara jernih, guna masyarakat tidak menduga-duga atas pelaksaanannya.

LIMIT Indonesia dalam kesempatan terakhir ini, sama sekali tidak berniat untuk menggurui, namun hal-hal yang bersifat teknis ada perlunya untuk diketahui oleh semua masyarakat, utamanya NGO.

Terlepas dari tujuan utama dalam memutus mata rantai Penyebaran Virus Corona Disease-2019 (Covid-19), perlu pula “memutus persekongkolan” atas pengadaan barang jasa di tengah Badai Pandemi Covid-19 dengan cara memperoleh informasi yang Jujur dari pihak -pihak yang terkait seperti:

1. Jumlah penyumbang selama situasi mewabahnya Covid-19, kemudian apa-apa saja sumbangan baik dalam bentuk barang ( jenis/item/merk maupun uang).

2. Siapa-siapa saja panitia penerima sumbangan, berikut sejak kapan didistribusikan ke penerima Sumbangan (Pengguna) misalnya Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik dan atau pihak lainnya, yang ditandai dengan tanda terima (hari/tanggal/bulan/tahun).

3. Realisasi anggaran untuk penanganan Covid-19, baik yang disumbangkan dalam bentuk barang atau uang dari APBD, berikut APBN maupun sumbangan dari pihak lain, seperti Yayasan maupun Organisasi Non Pemerintah dalam, maupun luar Negeri, serta Badan Usaha Swasta yang telah diterima sumbangannya oleh Panitia Penerima.

4. Kabupaten kota mana saja, baik yang sudah menerima maupun yang belum menerima bantuan barang atau uang dan yang paling penting adalah daftar aset yang sudah ada, sebelum adanya Covid-19 yang dikuasai oleh penerima bantuan, contohnya daftar aset ventilator dengan daftar aset yang sudah ada ditambah jumlah rekapitulasi bantuan ventilator selama pandemi Covid-19.

Berdasarkan poin-poin tersebut di atas, sebelum pengadaan dilaksanakan wajib untuk dibuat daftar kebutuhan barang berikut sistem pemanfaatannya yang harus benar-benar dimanfaatkan oleh pasien Covid-19.

LIMIT Indonesia sangat menyayangkan jika momentum pengadaan barang jasa Pemerintah dalam pelaksanaannya tidak sesuai Peraturan Perundang-undangan, seperti contohnya dilakukan dengan proses penunjukan langsung kepada penyedia yang bukan merupakan bagian dari daftar rekanan pada suatu unit kerja sebelum mewabahnya Covid-19.

Dengan gelagat tersebut, kita sama-sama berharap, agar tidak ada tindakan Pejabat Pengadaan yang melakukan dengan asal tunjuk, lalu saat pelaksanaannya penyerahan bantuan barang atau uang diarahkan dengan sedikit “penekanan” untuk langsung dibelanjakan oleh pengguna tanpa proses administrasi yang terukur.

Selain dari yang telah dijelaskan pada episode-episode yang lalu, LIMIT Indonesia tetap berharap dan mendoakan, semoga dalam kegiatan Pengadaan Barang Jasa, tidak sampai melibatkan pihak-pihak Pengawas Pengadaan dalam pendistribusian bantuan, baik dalam bentuk barang maupun uang.

Penulis: Mamat Sanrego

SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Disarankan Untuk Anda :