JOIN Takalar Sebut Fitnah RS Panen Duit di Tengah Pandemi Covid-19 Sangat Keji

  • Whatsapp

SimpulRakyat.co.id, Takalar – Informasi salah yang beredar tentang pemakaman pasien PDP yang dituduh Covid-19, serta hoax mengenai dana Rp321 juta setiap pasien Corona membuat banyak fitnah keji yang muncul kepada pihak tenaga medis.

Sikapi hal itu, Dewan Pimpinan Daerah Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Kabupaten Takalar, Aimal Situru mengatakan, disadari bersama, saat ini para tenaga medis sedang berjuang untuk menolong warga yang menderita Covid-19.

Baca Juga

“Seyogyanya, statement itu tidak dilontarkan karena menurut saya itu kurang tepat,” tutur Ketua DPD JOIN Takalar.

Menyoal prosedur pemakaman pasien PDP dan soal dana ini juga digaungkan oleh seorang laki-laki atas nama Andi Baso Ryadi Mappsulle keluarga dari pasien yang meninggal di rumah sakit Bhayangkara beberapa hari lalu.

“Saya sedih melihat atas meninggalnya. Namun, seharusnya jangan sampai kita mengeluarkan pernyataan itu ke masyarakat karena memunculkan fitnah dan mengubah mindset kita seolah wabah ini adalah ajang bisnis,” jelasnya lagi.

Lanjut dikatakan, kondisi dikeluarkannya pernyataan tersebut, yang ditujukan kepada rumah sakit dimana disisi lain tenaga medis sedang berjuang untuk nyawa orang lain.

“Dan sejauh ini kita belum memiliki fakta bahwa pihak rumah sakit jadikan wabah ini sebagai lahan bisnis dan ini fitnah keji,” tegas Aimal.

Mewakili para pewarta di DPD JOIN Takalar, Aimal berharap statement itu ditiadakan dan jangan merubah pola pikir masyarakat terhadap rumah sakit dan tenaga medis.

“Kami meminta dengan hormat kepada keluarga pasien yang telah mengeluarkan stetmen mengenai angka Rp321 juta/pasien untuk segera memperlihatkan butki secara transparan kepada masyarakat dan kepada pihak kepolisian,”

“Setahu kami tidak ada angka Rp321Juta/pasien dalam SK Menteri keuangan yang ada adalah pemberian santunan kematian Rp300 juta kepada tenaga medis yang meninggal saat melaksanakan tugas berdasarkan keputusan menteri kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/278/2020 tentang pemberian insentif dan tunjangan kematian bagi bagi tenaga medis yang menangani Covid-19,” terang Aimal.

Angka itu, kata Aimal, merupakan santunan untuk tenaga medis jika meninggal akibat tertular Covid-19 saat bertugas dan itupun ia yakin tidak ada tenaga medis yang berharap mati demi santunan itu.

“Seyogyanya pihak yang mengeluarkan statement tersebut untuk meminta maaf ke masyarakat jika memang tidak memiliki bukti yang kuat. Dan terakhir, mari tetap ikuti protokoler kesehatan karena pandemi Covid-19 ini belum berakhir,” tutup Aimal Situru. (**)

Disarankan Untuk Anda :