SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar kembali menggelar aksi unjuk kerja dalam kegiatan yang bertajuk Praktek Belajar Lapangan (PBL) I yang diadakan di Kelurahan Mappaselle, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep.
PBL I dilaksanakan dari tanggal 24 Februari dan berakhir 7 Maret yang akan datang, Selasa (03/03/2020).
PBL merupakan program berjenjang yang terdiri dari PBL I, PBL II, PBL III dan PBL IV. PBL I lebih mengedepankan observasi dan pendataan untuk lebih mengetahui keadaan masyarakat secara langsung, sehingga intervensi program kesehatan dalam PBL jenjang berikutnya dapat lebih terarah dan menyentuh langsung kepentingan masyarakat.

Tentu saja, sesuai dengan observasi dan pendataan mereka, dominan yang masih menjadi persoalan dasar kesehatan di masyarakat Indonesia tak terkecuali di kelurahan Mappasaile adalah masalah sanitasi.
Buruknya sanitasi suatu wilayah di samping karena persoalan perilaku juga sangat erat kaitannya dengan tingkat kepedulian dan perhatian pemerintah setempat.
Untuk persoalan pertama (perilaku) kehadiran mahasiswa PBL I ini diharapkan dapat memberi perubahan dasar dalam aspek pengetahuan masyarakat tentang pentingnya mempertahankan lingkungan hidup yang bersih, guna mencegah penyakit yang berbasis lingkungan, seperti diare dan demam berdarah yang saat ini menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan di musim penghujan.
Data yang mereka dapatkan di lapangan bahwa pemahaman masyarakat tentang pentingnya jamban masih kurang karena sebagian dari masyarakat masih membuang hajat di kali atau pekarangan belakang rumah.
Dalam hal kepedulian pemerintah setempat, kehadiran mahasiswa PBL 1 FKM UPRI ini dapat memberi advokasi kesehatan kepada stake holder (pengambil kebijakan) agar lebih serius memberi perhatian kepada pentingnya urusan sanitasi masyarakat.
Salah satu mahasiswa peserta PBL I, Berto mengatakan, berdasarkan pendataan dan wawancara langsung dengan masyarakat, belum ada mobil sampah masuk di lingkungan Kelurahan Mappasaile.
“Kerinduan mereka akan pengadaan mobil sampah akan menjadi langkah taktis untuk memindahkan vector penyakit tersebut alih-alih harus dibakar yang tentunya malah memperburuk kondisi udara karena dapat menjadi sumber polutan,” terang dia.
Lanjut dikatakan, persoalan sanitasi lainnya adalah kurangnya ketersediaan air bersih, masyarakat setempat berharap ada bak air penampungan yang disiapkan oleh pemeintah sehingga mereka tidak perlu lagi membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. (M Arif Alif)


Tinggalkan Balasan