Membangun Generasi Millenial yang Anti Hoax

  • Whatsapp
Rully Rahadian (Ketua Lembaga Konservasi Budaya Indonesia dan Wakil Ketua Umum PWOIN)

SimpulRakyat.co.id, OPINI – Dalam kisaran waktu belakangan ini kita sering dihebohkan dengan kata atau istilah Hoax. Merujuk kepada kondisi Indonesia sendiri yang sampai hari ini kelihatan relatif aman-aman saja, tidak seharusnya membuat kita lalai dan meninggalkan kewaspadaan terhadap situasi negara dan bangsa kita.

Tentunya ancaman Hoax ini menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat yang memahami arti kejujuran sebagai nilai kebenaran yang dipahaminya.

Muat Lebih

Jika mengamati lingkungan sekitar kita yang terlihat senyap, memang betul senyap, karena secara senyap pula negara kita sedang “diacak-acak” oleh para aktor asing maupun dari dalam tubuh kita sendiri, karena negara ini sudah menjadi target penguasaan pihak-pihak yang ingin menikmati kekayaan Indonesia secara ekonomi.

Bagaimana tidak, Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya raya akan hasil bumi, serta ragam budaya hasil karya para leluhur yang tidak ternilai harganya. Sayangnya, masyarakat Indonesia secara umum tidak menyadari bahwa negaranya dalam posisi yang rentan dan rawan terhadap penguasaan bangsa asing yang sangat berambisi mengeksplorasi kekayaannya. Artinya, kita selau harus siap dalam situasi perang ketika bangsa asing masuk dan menguasai bangsa serta negara kita.

Permasalahan paling krusial yang terjadi saat ini adalah perang kontemporer atau perang masa kini yang tidak seperti perang konvensional yang selama ini kita pahami. Perang bersenjata yang mengandalkan kekuatan senjata dan fisik, serta strategi tempur dalam menguasai wilayah yang ingin dijajah nya lebih mudah dipetakan. Tetapi bentuk perang alternatif masa kini sangat sulit untuk dibaxa secara kasat mata, dan tidak ada musuh nyata dalam bentuk fisik. Oleh karena itu bentuk perang yang seperti itu disebut perang Asimetris atau Assymetric Warfare. Istukah yang lebih populer disebut Proxy War.

Perang asimetris ini tidak menggunakan senjata, tetapi merubah pola pikir masyarakat negara target, sehingga masyarakatnya menjadi apatis, tidak nyaman di negara sendiri, memecah belah persatuan antar suku, agama dan ras, bahkan antar keluarga. Ini bentuk perang yang sangat mengerikan, jauh lebih berbahaya daripada perang fisik yang terlhat jelas musuhnya, dan jelas arah perlawanannya.

Salah satu strategi yang digunakan adalah merusak mental dan moral bangsa melalui kegiatan dunia maya yang digandrungi anak muda yang sering disebut Generasi Milenial, dan juga sudah menjadi kebutuhan primer dalam komunikasi berbasis internet. Untuk merusak mental dan moral bangsa dalam strategi Perang Asimetris ini adalah melakukan aktivasi strategi Hoax.

Hoax atau yang dalam bahasa sederhananya diartikan dalam istilah Kabar Bohong. Bahasan yang sedikit ilmiah,  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘hoaks’ adalah ‘berita bohong.’ Dalam Oxford English dictionary, ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’. Sayangnya, banyak netizen yang sebenarnya mendefinisikan ‘hoax’ sebagai ‘berita yang tidak saya sukai’.

Di sini jelas bahwa Hoax bukan hal sepele yang bisa kita abaikan. Intensitas Hoax yang melanda bangsa ini sudah memasuki titik jenuh, karena hampir detiap detik kegiatan menyebar hoax terjadi melalui media sosial yang hampir sebagian besar warga negara ini memanfaarkannya sebagai sarana komunikasi dan sarana mencari berita.

Bisa dibayangkan jika masyarakat kita tidak waspada terhadap Hoax dan mudah termakan, hancurlah bangsa dan negara yang kita cintai ini. Tidak akan ada serangan fisik terhadap negara kita, apalagi dihancurkan oleh senjata nukilr kelas satu. Indonesia adalah negara yang diincar sumber daya alamnya karena kekayaannya yang berlimpah. Yang jadi target serangan adalah pola pikir bangsa yang berdasarkan Ideologi kita Pancasila. Jika benteng terakhir kita bobol, maka hancurlah bangsa ini karena Hoax.

Generasi Millenial kita sebagai target utama dalam perang Asimetris ini seharusnya kita jaga dan lindungi dari derasnya arus Hoax yang merasuki dunia maya dari berbagai lini. Konsep Perang Asimetris yang menggunakan Hoax sebagai senjata, bertujuan menggiring opini publik khususnya para Generasi Millenial ini melalui Cyber Attack atau Serangan Siber yang sangat gencar dan kompleks.

Lebih jauh lagi, peran para aktor yang disponsori pihak yang ingin menguasai bangsa dan negara ini secara ekonomi terus membuat strategi yang semakin kompleks dan canggih, sehingga Hoax yang mereka lontarkan ke ranah publikpun bisa mempunyai kaidah kebenaran yang akhirnya diterima Generasi Millenial ini sebagai sebuah produk yang dianggap valid dan terlegitimasi.

Melihat kondisi seperti itu tentunya membuat kita khawatir akan masa depan generasi harapan bangsa. Generasi Millenial kita diharapkan kelak akan menjadi para pemimpin di dalam ikatan bangsa dan negara yang kita cintai bersama. Kita harus yakin bahwa hal ini bukan akhir segalanya. Masih ada harapan yang terbentang luas di depan, karena Generasi Milenial ini mempunyai karakter yang khas yang berbeda dengan generasi Y atau generasi sebelumnya.

Generasi Milenial mempunyai karakter mandiri, mudah bosan, serba instan, senang multitasking, cenderung tidak ingin menjadi follower, dan ada beberapa hal yang menjadi kekhasan mereka. Dari karakter mereka ini bisa diterapkan beberapa konsep dalam mengantisipasi Hoax via Cyber Attack, melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal yang dikemas sesuai dengan gaya hidup dan pola pikir yang relevan dengan generasi mereka.

Kesadaran mereka akan kekayaan budaya bangsanya sendiri akan mampu menangkal serangan Cyber berupa hunjaman Hoax yang masif dan berkala. Generasi Millenial yang berbudaya diharapkan akan mampu menjadi benteng pertahanan bangsa yang memang sengaja dihancurkan budayanya, sehingga terbentuklah karakter yang anti sosial, cenderung egosentris, jauh dari pamahaman akhlak mulia dan cerdas secara mental spiritual.

Untuk itu, kita harus bekerja bersama-sama dalam membangun karakter Generasi Millenial yang menjadi tumpuan harapan kita bersama untuk menghindari Hoax, dan harus bersikap anti terhadap Hoax. Upaya dalam membangun karakter mereka ini salah satunya adalah menggunakan internet secara benar dan bertanggung jawab. Arahkan agar mereka menjauji hal-hal yang tidak penting, selalu cek dan ricek atas berita atau kabar yang diterima, dan mulailah bersikap empatik dan santun kepada sesama, hormat kepada yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda.

Yang terpenting dalam membangun karakter mereka ini adalah menanamkan kejujuran dan berpijak pada realita yang ada. Terjadinya Hoax leluasa melenggang dalam derasnya arus informasi, salah satunya adalah tipisnya nilai kejujuran dan bersikap tidak apa adanya. Hoax memang dibuat sebagai alat kebohongan. Jika generasi Millenial ini mempunyai karakter benci terhadap kebohongan, diharapkan pula mereka akan menjauhi segala hal yang berbau kebohongan dan bersikap antipati terhadap Hoax.

Penulis: Rully Rahadian (Ketua Lembaga Konservasi Budaya Indonesia dan Wakil Ketua Umum PWOIN)

Pos terkait