SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Budaya “Tammu Taung” di Pulau Pajenekang, Desa Mattiro Deceng, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, tak pernah sepi pengunjung dalam setiap perayaan tersebut, khususnya wisatawan lokal, Jumat (20/9/2019).

Diketahui, setiap tahunnya, warga setempat antusias menyambut perayaan tersebut, khususnya ibu-ibu di pulau ini sibuk mempersiapkan kebutuhan budaya itu, dengan membuat berbagai macam kue, terutama keu yang terasa manis-manis.

Kue manis ini punya sejarah tersendiri oleh warga Pulau Pajenekang, dimana saat itu Puang Gallarang Assamaja/Amminasa (bernazar). “Kalau saya tidak mendapatkan kesulitan dari Pemerintah Belanda sampai di Pulau Pajenekang, maka kami keluarga penduduk Pulau Pajenekang akan mengadakan acara syukuran ‘tene-tene pammai’ dengan makanan serba manis,” tertulis dalam lontara setempat dari sejarah 1930.

Dalam kesempatan ini, Kepala Desa Mattiro Deceng Hasrar menyampaikan, selaku kepala desa mengapresiasi kegiatan festival budaya atau “Tammu Taung” Pulau Pajenekang yang diselenggarakan tiap tahunnya oleh warga setempat.

“Tentunya kearifan lokal Pulau Pajenekang masih terjaga sampai sekarang. Seperti kita ketahui, meskipun kita di tengah zaman milenial atau zaman now yang notabene zaman di mana kita serba digital, canggih. Tapi Alhamdulillah masyarakat Pulau Pajenekang, baik orang tua dan remaja, mereka bahu-membahu tetap menjaga ritual festival budaya ini,” ujar Hasrar.

Camat Liukang Tupabbiring, diwakili Staf Kecamatan, H Jaharuddin, S.Sos dalam sambutannya, “Hari ini kita telah mendengar dimana telah dibacakan dari keluarga besar Puang Naimang, proses terjadinya Pulau Pajenekang dahulu dengan begitu susah payah, sehingga terbentuklah yang namanya Pulau Pajenekang yang sampai saat ini masih eksis di wilayah Kabupaten Pangkep. Mudah mudahan apa yang kita laksanakan pada hari ini, khususnya masyarakat Pulau Pajenekang, Desa Mattiro Deceng bisa lebih baik lagi,” kata H Jaharuddin.

Lanjut dia katakan, kegiatan hari ini sangat luar biasa dari tahun sebelumnya, “Di tahun ini saya perhatikan Alhamdulillah panitia saya beri jempol karena saya perhatikan banyak kegiatan yang dilakukan dibanding tahun lalu”.

“Semoga tahun yang akan datang lebih semarak lagi untuk itu kami meminta pemerintah desa bisa ditingkatkan lagi anggarannya,” ucap dia.

Sementara itu, Kapolsek Liukang Tupabbiring Aris Sumarsono mengatakan, “Tammu Taung” ini salah satu budaya yang perlu kita jujung tinggi di Pulau Pajenekang, ini bukan sekadar memperingati, tapi perlu kita menghayati, karena di dalamnya ada tokoh Syekh mengawali adanya Pulau Pajenekang ini.

“Untuk mendukung budaya atau tradisi ini, tentunya tidak akan berjalan lancar tanpa ada dukungan dari kita semua, semoga kedepan acara ini bisa lebih terkoordinir dengan baik. Oleh karena itu, marilah kita hargai budaya ini dengan kegiatan-kegiatan yang baik, di luar dari kegitan yang melanggar aturan yang berlaku di negara kita ini,” imbaunya.

“Saya yakin, dengan dukungan semua pihak akan lebih baik lagi kedepannya, dimana panitia bisa bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Pangkep dan dinas terkait. Kuncinya mari kita jaga keamanan, jangan dinodai dengan tindakan yang dilarang, kami sangat berterima kasih kepada masyarakat atas kerjasamanya sehingga sampai detik ini tidak ada temuan, maupun laporan adanya dugaan pelanggaran seperti adanya yang mengkonsumsi minuman keras dan obat terlarang, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih banyak atas terjaganya keamanan selama acara ini berlangsung,” ucap Aris Sumarsono.

Kapolsek Liukang Tupabbiring ini juga mengatakan, salah satu penarik perhatian investasi masuk di wilayah kita adalah keamanan. “Sekali lagi kami ucapkan terimakasih banyak atas kerjasama panitia, pemerintah desa dan masyarakat atas keamanan, karena inilah selalu perhatian kami menjaga keamanan selalu kondusif”.

Acara ini ditutup dengan membaca doa oleh Ustadz Sampara, dilanjutkan pertunjukkan Paraga, dimana masyarakat dan tamu dari berbagai daerah sangat menikmati atraksi dari Paraga tersebut.

Penulis: Ismail K