SimpulRakyat.co.id, Cerpen Reflektif – Malam itu hujan turun pelan. Gerimis tipis menggantung di udara, membuat lampu-lampu jalan tampak buram seperti dilihat melalui kaca yang berembun. Angin membawa aroma tanah basah yang biasanya membuat pikiran saya tenang.
Tetapi malam itu tidak. Malam itu saya melihat sesuatu yang membuat saya gagal tidur. Sesuatu yang hingga hari ini masih muncul setiap kali saya memejamkan mata.
Saat itu saya sedang duduk sendirian di teras rumah. Secangkir kopi di samping saya perlahan kehilangan uapnya. Telepon genggam berada di tangan, menampilkan video demi video yang lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan berarti.
Saya hampir melewati video itu.
Hampir.
Namun jempol saya berhenti saat membaca judulnya.
“Istri hamil dianiaya preman di Medan.”
Dada saya mendadak terasa tidak nyaman. Saya menekan tombol putar. Dan beberapa menit kemudian, saya berharap tidak pernah melakukannya.
Di layar, seorang perempuan muda terlihat terdesak di pinggir jalan. Wajahnya pucat, gerakannya panik. Beberapa pria mengelilinginya.
Suara teriakan bercampur dengan deru kendaraan yang terus melintas. Orang-orang berdiri di sekitar lokasi kejadian. Sebagian mengangkat telepon genggam. Sebagian lainnya hanya menonton.
Saya terus menunggu.
Seseorang pasti akan maju.
Siapa saja.
Seorang pengendara motor.
Pedagang di pinggir jalan.
Pejalan kaki yang kebetulan lewat.
Siapa pun.
Tetapi tidak ada yang bergerak. Lalu sesuatu yang membuat dada saya sesak terjadi. Salah seorang pelaku menendang perut perempuan itu.
Saya membeku. Karena itu bukan sekadar perut seorang perempuan. Di sana ada kehidupan yang sedang tumbuh. Ada seorang anak yang bahkan belum sempat melihat dunia. Ada harapan sebuah keluarga yang seharusnya dijaga.
Tanpa sadar, genggaman saya pada telepon genggam semakin erat. Namun ternyata bukan tendangan itu yang paling lama tinggal di kepala saya. Melainkan seorang laki-laki.
Suaminya. Ia berada di sana. Sangat dekat, bahkan begitu dekat hingga ia menyaksikan semuanya.
Ia melihat istrinya didorong.
Ia melihat istrinya dipukul.
Ia melihat istrinya yang sedang mengandung ditendang di bagian perut.
Dan ketika dirinya sendiri dipukul serta ditempeleng para pelaku, ia tetap berada di atas sepeda motor.
Tidak ada perlawanan. Tidak ada upaya melindungi. Tidak ada tindakan yang mampu menghentikan kekerasan itu.
Hanya tatapan seorang lelaki yang tampak sama takutnya dengan perempuan yang sedang disakiti di hadapannya.
Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya. Mungkin ia panik, mungkin ia kalah jumlah, atau mungkin tubuhnya membeku oleh ketakutan yang datang begitu mendadak hingga ia kehilangan kemampuan untuk bertindak.
Saya tidak tahu.
Tetapi satu pertanyaan terus menghantam kepala saya.
Bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang sedang mengandung ketika orang yang paling diharapkan melindungi justru terlihat sama tidak berdayanya?
Video itu berakhir.
Namun kegelisahan saya baru saja dimulai. Malam semakin larut. Hujan masih turun.
Saya sudah mematikan telepon genggam. Tetapi bayangan perempuan itu tidak ikut menghilang.
Saya mencoba membaca buku. Tidak berhasil.
Mencoba menonton televisi. Tidak fokus.
Mencoba tidur. Lebih gagal lagi.
Setiap kali memejamkan mata, adegan itu muncul kembali. Seorang perempuan yang berusaha bertahan. Kerumunan yang hanya menyaksikan. Dan seorang suami yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Menjelang tengah malam, saya bangkit dari tempat tidur. Langkah saya membawa diri ke ruang tamu. Di sana tergantung sebuah foto lama. Foto Ayah.
Saya berdiri cukup lama di depannya.
Wajah yang sudah puluhan tahun saya kenal itu seakan menarik saya kembali ke masa kecil. Tiba-tiba saya teringat sebuah percakapan yang nyaris terlupakan.
Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kami sedang duduk di bawah pohon mangga di samping rumah. Tanpa alasan yang saya pahami, Ayah bertanya,
“Kalau ada orang yang diganggu di depanmu, apa yang akan kau lakukan?”
Saya menjawab cepat.
“Memanggil orang lain.”
Ayah tersenyum.
“Itu bagus.”
Saya merasa jawaban saya benar.
Namun beliau melanjutkan,
“Tapi jangan pernah membiasakan dirimu menjadi penonton.”
Saya mengernyit.
“Maksudnya?”
Beliau menunjuk seekor ayam yang sedang dikejar anjing di halaman.
“Lihat itu.”
Saya melihat.
“Kalau semua orang hanya menonton, siapa yang akan menolong?”
Saya tidak mampu menjawab. Saat itu saya menganggapnya hanya nasihat biasa. Kalimat orang tua yang akan hilang bersama waktu.
Ternyata saya salah. Karena malam ini, puluhan tahun kemudian, kalimat itu kembali terdengar begitu jelas. Jangan pernah membiasakan dirimu menjadi penonton.
Keesokan harinya saya pergi ke makam Ayah. Bukan karena sebuah tradisi. Ada saat-saat ketika hidup terasa terlalu bising oleh pertanyaan dan kegelisahan. Pada saat-saat seperti itulah, saya selalu merasa ingin kembali mendekat kepadanya.
Makam itu berada di bawah rindangnya pohon ketapang. Angin bertiup pelan. Daun-daun kering jatuh satu demi satu.
Saya duduk cukup lama. Dan di sanalah saya kembali teringat pada satu kata yang sejak kecil begitu akrab di telinga saya.
Siri’.
Sebagai orang Bugis, terlebih berasal dari keluarga yang selalu menghormati nilai-nilai leluhur, kata itu bukan sesuatu yang asing.
Tetapi saya baru benar-benar memahaminya setelah dewasa.
Dulu saya mengira siri’ hanya soal rasa malu. Soal harga diri. Soal menjaga nama baik.
Ternyata tidak, siri’ jauh lebih besar daripada itu.
Siri’ adalah kesadaran bahwa manusia memiliki martabat. Bahwa kehormatan bukan sekadar sesuatu yang dibanggakan, melainkan sesuatu yang harus dijaga.
Pada diri sendiri.
Pada keluarga.
Dan pada sesama manusia.
Karena tidak ada kehormatan dalam membiarkan kezaliman berlangsung di depan mata ketika kita masih memiliki kemampuan untuk mencegahnya.
Di makam Ayah, saya kembali teringat video yang saya tonton semalam. Dan perlahan saya merasa semuanya saling terhubung.
Nasihat Ayah. Nilai siri’. Dan ajaran agama yang selama ini saya dengar.
Saya teringat sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah.
Dulu saya mengira kekuatan yang dimaksud hanya soal fisik. Ternyata tidak. Kekuatan juga berarti keberanian.
Keberanian untuk berdiri ketika yang lain memilih diam.
Keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu itu salah.
Keberanian untuk melindungi ketika orang lain membutuhkan perlindungan.
Bukan untuk menjadi penindas.
Bukan untuk mencari musuh.
Tetapi agar tidak sepenuhnya tak berdaya ketika kezaliman datang mengetuk pintu kehidupan.
Beberapa hari kemudian saya membaca berita bahwa para pelaku telah ditangkap. Saya merasa lega. Hukum memang harus ditegakkan. Korban berhak mendapatkan keadilan.
Namun anehnya, yang terus menghantui saya bukan wajah para pelaku. Mereka sudah jelas salah.
Yang terus muncul justru wajah-wajah lain. Wajah-wajah biasa.
Orang-orang yang berdiri di sekitar lokasi kejadian. Orang-orang yang mungkin pagi harinya mengantar anak ke sekolah. Orang-orang yang mungkin dikenal sebagai tetangga yang baik. Orang-orang yang mungkin tidak pernah berniat menyakiti siapa pun.
Tetapi pada hari itu mereka memilih menjadi penonton.
Dan semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa bahaya terbesar dalam sebuah masyarakat bukan hanya keberadaan orang-orang zalim.
Bahaya terbesar muncul ketika orang-orang baik kehilangan keberanian untuk bertindak.
Malam itu hujan kembali turun. Persis seperti malam ketika saya pertama kali melihat video tersebut.
Saya berdiri di depan jendela. Memandangi titik-titik air yang menempel di kaca. Lalu saya melihat pantulan diri sendiri.
Dan untuk kali pertama, pertanyaan yang selama ini saya arahkan kepada orang lain berbalik menghampiri saya.
Bagaimana jika saya berada di sana?
Bagaimana jika perempuan itu adalah saudara saya?
Istri saya?
Anak saya?
Bagaimana jika saya berdiri di antara kerumunan itu?
Apakah saya akan maju?
Apakah saya akan membantu?
Ataukah saya juga akan diam sambil berharap orang lain yang bertindak?
Saya tidak segera menemukan jawabannya. Karena keberanian memang mudah dibicarakan ketika kita berada di tempat yang aman. Tetapi jauh lebih sulit ketika bahaya benar-benar berdiri di depan mata.
Namun malam itu saya memahami satu hal. Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut. Semua orang takut.
Ayah benar.
Yang membedakan manusia bukan apakah ia memiliki rasa takut atau tidak.
Yang membedakan adalah apa yang ia lakukan ketika ketakutan itu datang.
Tetap diam. Atau tetap berdiri.
Saya memejamkan mata sejenak. Dan sekali lagi mendengar suara Ayah.
“Jangan pernah membiasakan dirimu menjadi penonton.”
Ketika saya membuka mata, hujan masih turun. Dunia masih berjalan seperti biasa. Tetapi ada sesuatu yang berubah dalam diri saya.
Saya akhirnya memahami mengapa agama mengajarkan pentingnya menjadi kuat.
Saya akhirnya memahami mengapa leluhur Bugis menjunjung tinggi siri’.
Dan saya akhirnya memahami bahwa martabat manusia tidak hilang ketika ia kalah melawan kezaliman.
Martabat manusia mulai hilang ketika ia berhenti berusaha melawannya.
Sejak malam itu, setiap kali melihat ketidakadilan, saya tidak lagi bertanya apa yang dilakukan orang lain.
Saya justru bertanya kepada diri sendiri: Jika hari itu tiba, akan menjadi manusia seperti apakah saya?
Dan saya berharap, ketika saat itu datang, saya tidak termasuk orang-orang yang hanya berdiri dan menonton.


Tinggalkan Balasan