SimpulRakyat.co.id, Luwu – Kondisi Objek Wisata Pantai Mangrove Babana di Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, yang kini terbengkalai mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata Kabupaten Luwu. Pemerintah mengakui minimnya pembinaan terhadap pengelolaan destinasi tersebut dan berjanji segera melakukan monitoring. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu (01/07/2026).
Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Kabupaten Luwu, Yuni Thamrin, menyampaikan apresiasi atas perhatian masyarakat terhadap kondisi objek wisata yang pernah menjadi salah satu destinasi favorit di Luwu itu.
“Kami sampaikan terima kasih banyak atas perhatiannya terhadap objek wisata Pantai Babana Temboe. Status pengelolaan wisata itu dikelola oleh BUMDes Temboe,” ujar Yuni.
Menurutnya, berdasarkan informasi dari aparat desa, awal mula terbengkalainya kawasan wisata tersebut dipicu oleh pandemi Covid-19. Saat itu kunjungan wisatawan terhenti sehingga tidak ada pemasukan untuk membiayai operasional maupun pemeliharaan fasilitas.
“Akibat pandemi Covid, pengunjung tidak ada sehingga sumber penghasilan untuk biaya pemeliharaan juga tidak ada,” jelasnya.
Yuni juga mengakui bahwa pembinaan dan pengawasan dari pihak dinas terhadap pengelola masih belum berjalan maksimal.
“Kami memang menyadari kurangnya pembinaan dan pengawasan terhadap wisata tersebut. Insya Allah dalam waktu dekat kami akan melakukan monitoring dan memberikan pembinaan kepada pengelola, serta bersama-sama membenahi wisata tersebut,” katanya.
Sebelumnya, Pantai Mangrove Babana yang diresmikan pada 26 Oktober 2019 sempat menjadi primadona wisata di Kabupaten Luwu. Destinasi yang menawarkan panorama muara, hutan mangrove, dan pesisir pantai itu ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
Namun, berdasarkan pantauan di lokasi, berbagai fasilitas kini mengalami kerusakan. Gazebo dipenuhi semak belukar, sejumlah bangunan penunjang mulai lapuk, akses menuju beberapa titik tertutup tanaman liar, sedangkan Jembatan Pelangi yang dahulu menjadi ikon wisata telah roboh dimakan usia.
Seorang warga, Iwan, menyatakan kondisi tersebut sangat disayangkan karena dulunya objek wisata ini mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Dulu sangat ramai. Banyak pengunjung datang dari berbagai daerah untuk menikmati pemandangan dan berfoto di Jembatan Pelangi. Warga juga banyak yang berjualan sehingga ekonomi ikut terbantu. Sekarang sudah lama sepi karena fasilitas rusak dan tidak terkelola,” ungkapnya.
Warga berharap rencana monitoring dan pembinaan yang disampaikan segera direalisasikan agar Pantai Babana kembali hidup sebagai destinasi unggulan.
Dengan potensi alam berupa kawasan mangrove, muara, dan pesisir yang masih asri, masyarakat menilai tempat ini masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan kembali. Harapannya, kunjungan wisatawan meningkat dan perekonomian warga Desa Temboe kembali bergeliat.


Tinggalkan Balasan