SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Hari ini, aku mengetuk pintu rumahku sendiri. Pintu itu tidak terkunci. Hanya berdebu, seolah lama tak disentuh, lama tak diingat. Engselnya berderit pelan saat kudorong, bunyinya tipis namun cukup membuat dadaku berdesir, seperti suara seseorang yang sejak lama menunggu, tetapi tak pernah berani memanggil.
Aku melangkah masuk.
Rumah ini pernah kutinggali sepenuh hati. Pernah menjadi tempat aku pulang dengan langkah ringan, menanggalkan letih, dan merasa cukup. Itu dulu. Sebelum aku terlalu sering bertamu ke hati orang lain. Sebelum aku terbiasa berdiri di ambang pintu yang bukan milikku, menunggu isyarat kecil, berharap disilakan masuk, berharap dianggap layak menetap.
Udara di dalam terasa pengap. Debu menempel di lantai, di meja, di sudut-sudut yang jarang disapa cahaya. Tidak ada yang benar-benar rusak di sini. Rumah ini hanya ditelantarkan. Seperti aku yang dulu memilih pergi tanpa pamit pada diri sendiri.
Langkah kakiku pelan, nyaris ragu. Setiap sudut terasa asing sekaligus akrab. Ada kenangan yang menggantung, ada percakapan lama yang tak pernah dituntaskan. Di ruang tamu, kursi masih di tempatnya. Di dinding, pigura kosong menggantung miring, seolah sesuatu pernah dipajang lalu dilepas begitu saja.
Di sudut ruang itu, seseorang duduk memeluk lututnya.
Ia kurus. Bahunya turun, seperti memikul beban yang terlalu lama dipanggul sendirian. Wajahnya pucat. Matanya cekung, menatap lantai dengan pandangan kosong, pandangan orang yang terlalu lama menunggu tanpa kepastian. Aku mengenalnya tanpa perlu bertanya. Ia adalah aku, versi yang kutinggalkan, versi yang kupaksa bertahan saat aku sibuk mengejar hal-hal di luar diriku.
Aku berdiri beberapa langkah darinya. Tidak berani mendekat. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba mengeras di tenggorokanku.
Di dinding, sebuah cermin tergantung miring. Retak di salah satu sisinya membelah bayangan menjadi dua. Aku menatap pantulan wajahku yang utuh dan yang terbelah lama hingga sesuatu yang selama ini kutahan runtuh begitu saja.
Aku menangis.
Bukan karena dia. Bukan karena cinta yang tak terbalas. Bukan pula karena aku kalah dalam sebuah pilihan.
Aku menangis karena akhirnya sadar betapa kejamnya aku pada diriku sendiri.
“Maaf,” bisikku.
Suara itu nyaris tak terdengar, tapi jantungku langsung berdetak lebih cepat, seperti menuntut penjelasan yang selama ini kutunda.
“Maaf karena memaksamu berdetak kencang untuk nama yang salah,” kataku lirih.
“Maaf karena membiarkanmu berharap pada sesuatu yang tak pernah benar-benar berniat tinggal.”
Aku duduk di lantai. Menunduk. Menyentuh kakiku yang penuh lecet, bekas perjalanan panjang yang tak pernah kuistirahatkan. Aku ingat betapa seringnya aku berkata, sedikit lagi, sabar sebentar lagi, nanti juga sampai. Padahal yang kukejar tak pernah benar-benar menoleh.
“Maaf,” ucapku lagi.
“Aku memaksamu berlari mengejar bayangan. Setiap kali kau hampir sampai, aku menyuruhmu berlari lebih jauh.”
Aku terdiam lama.
Baru sekarang kusadari, hidup bukan hanya soal memiliki. Bukan tentang memenangkan hati seseorang. Ada saatnya seseorang memang hanya singgah, bukan untuk dimiliki, tapi untuk mengajarkan batas. Ada rasa yang hadir bukan untuk dipelihara, melainkan untuk disadari lalu dilepaskan.
Selama ini aku seperti pengemis di istana orang. Berdiri di beranda, menunggu pintu dibukakan, menunggu namaku disebut. Aku menundukkan harga diriku sendiri demi secuil perhatian, seolah itulah satu-satunya cara untuk merasa berarti.
Padahal, di dalam diriku sendiri, ada singgasana yang kubiarkan kosong.
Aku sibuk mencari cahaya di mata orang lain, sampai lupa bahwa lampu di kamarku sendiri telah lama padam. Aku berharap diselamatkan, padahal aku tak pernah sungguh-sungguh mencoba menyelamatkan diriku sendiri. Aku menunggu seseorang datang dan berkata bahwa aku cukup, sementara aku sendiri tak pernah mengatakannya.
Hari ini, aku mengambil sapu.
Debu-debu pengharapan yang tak pernah kembali kusapu pelan-pelan. Aku tahu, tidak semua debu bisa langsung hilang. Ada yang menempel keras karena terlalu lama dibiarkan. Tapi aku tetap menyapu, satu sudut demi satu sudut, tanpa tergesa.
Aku menambal atap keyakinanku yang bocor. Tidak rapi. Tidak sempurna. Tapi cukup agar hujan tak lagi langsung jatuh ke dada setiap kali ingatan lama datang mengetuk.
Aku membuka jendela. Cahaya masuk perlahan, tidak menyilaukan, hanya cukup untuk mengingatkanku bahwa pagi selalu ada, meski semalam terasa panjang.
Lalu aku memeluk diriku sendiri.
Erat. Seolah takut kehilangan lagi.
“Kau berharga,” kataku pelan.
“Dengan atau tanpa dia.”
“Kau utuh, meski tak dipilih.”
“Kau layak dicintai, bahkan oleh dirimu sendiri.”
Ziarah ini tidak ramai. Tidak ada perayaan. Tidak ada janji besar yang berisik. Hanya keheningan yang akhirnya terasa damai, keheningan yang tidak lagi menakutkan.
Aku tidak lagi menunggu tamu. Aku tidak lagi berdiri di ambang pintu orang lain. Aku memilih tinggal. Aku pulang ke rumahku sendiri.


Tinggalkan Balasan