SimpulRakyat.co.id, Luwu – Sejumlah wartawan di Kabupaten Luwu menginisiasi aksi kemanusiaan dengan membuka donasi untuk membantu memperbaiki rumah reot di Desa Senga Selatan, Kecamatan Belopa. Gerakan ini digagas oleh wartawan senior TV One, Haswadi, setelah dirinya turun langsung melakukan liputan khusus di lokasi dan menyaksikan kondisi rumah yang memprihatinkan.
“Mungkin saja nanti ada bantuan pemerintah, tapi itu kan prosedural, tentu prosesnya panjang, sehingga akan lama. Sementara sekarang kondisinya darurat, sering hujan, ini butuh cepat, sehingga kita open donasi,” Ungkap Haswadi.

Haswadi dalam liputannya menceritakan kisah keluarga Muhlis (53). Di rumah kecil berdinding papan lapuk yang ia tinggali bersama istri dan lima anaknya, hujan berarti deretan ember, baskom, hingga panci dikebut keluar dari dapur. Bukan untuk memasak, melainkan menampung air yang menetes deras dari atap bocor.
Malam hari, keluarga ini kerap terjaga bukan karena dingin, tetapi karena lantai yang basah diguyur rembesan hujan. Anak-anak sering kali terbangun sambil menggigil, sementara sang ibu hanya bisa mengusap kepala mereka, berusaha menenangkan di tengah rasa cemas.
“Kalau hujan deras, kami semua terpaksa pindah ke pojok ruangan yang agak kering. Kadang tidur berdesakan, asal tidak basah,” tutur Muhlis dengan tatapan kosong, menyimpan letih dan pasrah.
Ironisnya, hingga kini keluarga Muhlis belum pernah tersentuh program bantuan bedah rumah. Penyebabnya sepele: kelengkapan administrasi yang tak terpenuhi. “Katanya belum bisa, karena ada syarat-syarat yang belum lengkap. Saya orang kecil, hanya bisa pasrah,” ucapnya lirih.
Rumah kayu yang ditempati keluarga ini nyaris tak layak huni. Dinding papan banyak yang lapuk dan miring dimakan usia, atap rumbia penuh lubang. Saat cerah, sinar matahari menembus celah dinding; namun saat hujan, rumah itu berubah seperti tenda darurat yang kebanjiran.
Kontras sekali, rumah reot Muhlis berdiri di desa yang sama dengan para pejabat dan politisi. Di balik deretan bangunan megah dengan cat mengilap dan pagar besi kokoh, ada sebuah rumah sederhana yang seakan menjerit diam-diam, menanti uluran tangan.
Meski hidup dalam keterbatasan, Muhlis tetap berusaha tegar. Harapannya sederhana, anak-anaknya bisa belajar dengan tenang dan tidak lagi ketakutan setiap kali hujan mengguyur. “Saya ingin anak-anak punya masa depan lebih baik. Kalau soal rumah, biarlah seadanya, asal mereka bisa sekolah,” katanya pelan.
Kisah keluarga Muhlis adalah potret getir ribuan keluarga miskin lain yang terlewat dari perhatian pemerintah, hanya karena selembar dokumen administrasi. Di tengah derasnya pembangunan, masih ada rumah-rumah dengan atap bocor, dinding rapuh, dan penghuni yang hanya mendambakan hal sederhana: bisa tidur dengan tenang, tanpa dihantui suara air yang menetes dari langit.


Tinggalkan Balasan