SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Suatu siang ada guru berdiri di depanku. Aku guru dan dia juga guru. Tapi namanya guru bekecot. Melihat tampangnya yang berambut putih mirip kotoran kera itu aku saja sudah muak. Wajahnya hitam seperti kulit kabel gosong. Aku sungguh jijik melihat mukanya. Sudah jelek, ditambah perangainya jelek pula. Orang macam apa itu. Sudah tak laku, tidak pantas hidup.

Suatu ketika aku sudah masuk kerja ke salah satu sekolah menengah pertama. Dia yang bernama inisial yang tak kusebut namanya saja. Itu dia sudah buat gara-gara denganku. Mungkin karena aku anak kepala sekolah. Aku sungguh jijik melihat mukanya. Apalagi dia guru mesum. Tidak mau bergaul dengan lelaki dan hanya mau bergaul dengan wanita-wanita.

Bagaimana negara ini mau maju jika ada masih sosok guru seperti itu. Coba kamu bayangkan, ada guru lelaki tua, mesum, perangainya buruk, jelek pula sikapnya kepada sesama insan. Manusia lain pasti akan langsung menguburnya hidup-hidup. Aku saja muak.

Pernah saat itu aku masuk jam 7.15. Telat 15 menit. Mungkin karena dilapori siswi yang jadi mata-matanya itu dia langsung pasang mata menunggu kedatanganku. Aku datang semuanya sepi, senyap. Kukira biasa-biasa saja. Tiba-tiba dia datang dari arah belakangku sambil memaki-maki aku.

“Guru datang setengah 8 guru apa he?”

Matanya sambil melotot. Tidak memberi ampun ibaratnya. Aku hanya bisa diam. Kalau aku ladeni mungkin kesempatan buat dia bisa keluarkan aku dari sekolahan. Saya hanya bisa diamkan saja. Anak-anak yang jadi mata-matanya dalam kelas tertawa semua.

Saya merasa dipermalukan. Dia melihat dengan senyum sinis dan dendam. Saya pikir kembali. Oh iya, ayah saya kepala sekolah. Kemarin ayah saya cerita, dia baru memarahi orang yang tidak tertib dan tidak punya etika. Ternyata setelah saya selidiki orang itu yang dimaksud ayahku.

Memang dia itu tidak punya kesehatan mental yang baik. Seperti teroris di Jakarta yang jidatnya menghitam dan kalau berjalan melenggak-lenggok seperti orang baru sok gede. Saya pikir, dia itu pangkatnya apa, jabatannya apa, kok bisa sombong setengah mati.

Saya ceritakan itu pada ayah saya ketika sampai rumah. Saya merasa dilecehkan. Tidak ada harga dirinya saya di pekerjaan saya. Lebih saya keluar saja. Tidak jadi guru juga bisa makan. Jalan rejeki banyak tempatnya.

“Pak, saya keluar saja dari sekolahan itu!”

“Ada apa kok mau keluar?”

“Saya tidak betah dengan guru bahasa inggris itu!”

“Biarkan saja, dia memang tidak waras!”

“Tidak, preman dia itu, bukan orang pendidik!”

Ibu tiba-tiba datang menengahi. Ibu seolah tahu apa yang sedang saya pikirkan. Dia dudukkan saya di tepi bangku. Dan mengelus kepala saya.

“Jangan dihiraukan orang macam itu!”

“Memang sekolah punya dia kah? Saya sudah difitnah sampai mati!”

“Biarkan saja, nanti dia yang pasti cepat mati!”

“Amin!”

Saya hanya bisa mengamini doa ibu saya. Sebab saya tahu doa ibu itu keramat. Saya yakini dooa ibu saya itu sangat mandi dan manjur sekali. Sebab saya juga sedikit tahu tentang ilmu agama.

“Kamu diapakan dia?”

“Saya difitnah habis-habisan!”

“Biar ayahmu yang urus ini!”

“Biar dia berantem dengan kakak saya!”

“Jangan, dia pasti terkencing-kencing!”

“Biar mampus saja!”

Ibu hanya terdiam. Dia ajak saya pergi ke luar rumah. Dan membeli mie ayam di dekat gapura kampung. Di situ tempat saya dan ibu saya terbiasa menikmati udara segar di luar. Mie ayam yang sejak dulu sudah terkenal akan kedahsyatan bumbunya yang enak itu.

“saya mau cerita, Bu!”

“Iya ceritakan saja!”

“Tadi pagi saya ambil soal tes kelas 9. Saya masuk ruang panitia, dia sudah pasang badan, bajunya dikeluarkan dan sambil melotot menirukan gaya bos dia melototi saya. Coba kamu jadi saya, gimana perasaan kamu, Bu?”

“Kurang ajar, benar-benar sombong dan tidak tahu diri. Dia itu siapa, hanya orang tak punya pangkat saja lagaknya seperti juragan.”

“Betul bu.”

“Bekecot itu namanya. Lelaki berlendiri. Suka cari-cari masalah. Kalau diladeni melempem seperti banci kekencingan.”

“Besok saya bacok saja dia.”

“Jangan, kalau mati malah kamu yang dipolisikan!”

“Lalu apa yang harus saya perbuat?”

“Saya hanya diam bagaikan babu?”

“Biar waktu yang menjawab.”

Saya puas dengan pendapat yang diberikan oleh ibu saya. Biar waktu yang menjawab itu memang betul seperti apa yang saya ingin katakan. Sudah banyak kasus seperti dia, akhirnya stroke selama hidupnya. Matinya susah. Guru bahasa inggris itu semoga saja cepat menyusul seperti itu.

Itu doa saya. Dan saya tahu bahwa orang seperti itu hanya mesum dan suka bergaya cari-cari masalah saja. Kalau dibacok sampai mampus ya saya yang dipenjara. Percuma hukuman kalau kita tidak bisa menikmati dendam kita.

Pagi harinya saat itu saya lihat kesombongan hewan bekecot itu sudah sedikit berkurang. Kalau lihat saya biasanya suka kepala diputar-putar seperti pawang hujan. Bajunya selalu dikeluarkan seperti anak muda yang sok gaul.

Ternyata dia dimarahi kepala sekolah akibat kesombongannya. Lihat saja, lumpuh seumur hidup pasti guru bahasa inggris bekecot itu. Lebih tepatnya bekecot. Karena wajahnya jelek, rambutnya seperti tai kera. Otaknya mesum.

Saya berani bilang mesum karena kalau lihat anak siswi sedang bermain olahraga dan menyanyi dia lalu ikut joget-jogetan sambil tangannya diputar-putar seperti sedang di diskotik. Wah, bisa rusak kalau rahasia seperti ini tidak diketahui publik.

Publik harus tahu dan segera tahu. Apalagi pemerintah. Namanya preman berkedok guru sekolah. Menjijikkan! Beh, seperti rasanya mau saya sembelih dia itu. Semoga disembelih orang seperti itu. Tidak ada gunanya hidup. Buat apa, hanya jadi lalat dalam hidup.

Ayah saya memanggil saya. Saya dipanggil ke kantor. Lalu segera saya datang ke ruang kantor dan duduk berdua dengan ayah saya. Dia ceritakan apa yang belum saya ketahui.

“Sudah, pikiranmu bebaskan! Mengajar dengan tekun!”

“Iya pak.”

“Sampah itu sudah saya singkirkan. Sebenarnya mau saya pindah, tapi saya tidak tega.”

“Iya pak.”

“Sudah saya gertak di depan meja saya tadi.”

“Katanya iya, sambil anggukkan kepala.”

“Siap pak.”

Lalu saya kembali lagi keluar. Dan biasanya dia yang melotot seolah mau menendang saya, sekarang dia hanya bisa melotot sebentar lalu senyum dendam yang saya lihat dalam senyumannya. Kalau orang lain jadi aku mungkin sudah dibunuhnya guru bahasa inggris macam itu.

Itu kan memang orang yang tidak tahu diri. Gayanya setinggi langit dan sok sekali. Kalau duduk tidak suka betah dengan teman sebangku cowok. Dia sukanya suka menggoda teman-teman cewek dan meniru gaya Dilan. Wah, bisa repot negeri ini kalau ada bekecot seperti itu. Harus cepat-cepat dikasih garam biar mampus saja.

Tetapi saya selidiki lagi, dia masih cari kekurangan saya di sekolah. Dia cari lewat tukan kebun sekolah. Dia selalu tanyakan saya sudah masuk kelas apa belum. Seperti juragan saja dia. Pangkatnya sama dengan saya. Sekolahnya lebih tinggi saya. Tidak level bagi saya orang macam itu. Hanya menjadi duri saja. Semoga sumpah ibuku mendoakan musuh saya itu stroke selamanya benar-benar terkabul.

Penulis:

Muhammad Lutfi, lahir di Pati, merupakan penulis sejumlah buku, antara lain Asuh, Lorong, Berlayar, Balada Untung Suropati, Ngek Geng, dan Murtad. Berkegiatan di Rumput Sastra dan menyukai kesenian lukis.

.Catatan Redaksi:

Kirimkan cerpen terbaikmu dan dapatkan kesempatan diterbitkan di media ini, tanpa biaya! Kirim  tulisan ke email redaksi@simpulrakyat.co.id atau WhatsApp di 085299598808, sertakan nama pena Anda. Ayo, bagikan ide kreatifmu melalui kata-kata!