SimpulRakyat.co.id, Makassar – Aksi unjuk rasa yang sejak siang berlangsung damai di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, berubah menjadi tragedi mencekam, Jumat (29/8/2025).
Gedung DPRD Kota Makassar hangus dilalap api, empat orang tewas, dan sejumlah pejabat nyaris terjebak di tengah kepungan massa.
Amarah massa dipicu oleh kenaikan gaji anggota dewan dan pajak daerah yang dinilai mencekik warga. Namun, protes yang awalnya fokus pada keadilan itu melebar menjadi kritik keras atas kematian pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang dilindas mobil taktis Brimob.
Bara kemarahan akhirnya benar-benar menjelma api, melahap simbol demokrasi kota.
“Awalnya damai, tapi begitu isu kematian pengemudi ojek online muncul, massa mulai tidak terkendali. Semua orang panik ketika api tiba-tiba muncul,” kata seorang warga di lokasi.
Sekitar pukul 20.00 Wita, rapat paripurna DPRD bersama Pemkot Makassar masih berlangsung di lantai tiga membahas APBD Perubahan 2024. Tiba-tiba, teriakan “ada api” terdengar dari dalam gedung. Peserta rapat berhamburan keluar.
Di luar, ribuan massa yang sudah memenuhi halaman DPRD kian beringas. Batu beterbangan, pagar roboh, dan teriakan menggema. Tak satu pun aparat kepolisian terlihat di lokasi, meninggalkan ruang kosong pengendalian.
Api menjalar cepat. Dalam hitungan menit, lantai tiga dan empat dilalap si jago merah. Dari dalam, jerit minta tolong terdengar, tetapi sulit dijangkau.
Tragedi ini merenggut empat korban jiwa, yakni S, Kepala Seksi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, tewas setelah melompat dari lantai empat, SR, ajudan seorang anggota dewan, terjebak di ruang sidang dan ditemukan tewas terbakar, BD, anggota Satpol PP yang bertugas di DPRD, juga melompat dari lantai empat. Ia sempat dirawat di rumah sakit, tetapi kemudian meninggal, dan UB, staf Humas DPRD, ditemukan tewas terbakar di dalam gedung.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama wakilnya berhasil dievakuasi menggunakan sepeda motor lewat pintu belakang dekat musala DPRD.
Hingga menjelang tengah malam, api kian tak terkendali. Gedung DPRD Kota Makassar luluh lantak, dan kobaran merembet hingga gedung DPRD Provinsi Sulsel yang berada di kompleks sama. Ribuan massa masih bertahan, sebagian hanya menonton, sebagian lain melampiaskan amarah dengan teriakan dan lemparan batu.
Ketegangan baru mereda sekitar pukul 03.00 Wita, Sabtu (30/8), setelah Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Windiyatno, turun langsung menemui massa. Dengan pengeras suara ia menyerukan agar warga menghentikan amuk.
“Makassar ini rumah kita. Jangan kita biarkan hancur,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan