SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Dewa menangis tersedu-sedu di pojok kelas. Dia sendirian meringkuk membungkuk memegangi dadanya yang serasa sesak. Air matanya berhamburan membasahi lengan bajunya. Tidak ada yang peduli padanya. Bahkan semuanya seolah membiarkannya biar begitu saja. Teman sekelasnya hanya menertawai dan merundungnya. Dewa dikucilkan bagaikan najis yang harus dijauhi.

“Dasar anak haram,” ucap Luri teman sebangkunya. Ucapan itu begitu menusuk jantungnya. Karena sudah tak tahan dengan semua ocehan gelap itu, Dewa segera mengambil tas dan pergi dari kelas. Dia berlari meninggalkan sekolah.

“O Tuhan, apakah salah dan dosaku. Apakah ini yang harus kutanggung sebagai anak haram?” ucap Dewa menyendiri di tepi sebuah kolam.

Pemilik kolam menyangka Dewa akan mencuri ikan lele dan nila di kolam miliknya. Segera pemilik kolam melempar sandal kepada Dewa. Dewa ketakutan dan segera meninggalkan tempat itu.

Dewa hanya bisa kembali ke rumah. Hanya rumah yang mau menerima Dewa dan segala kesedihannya. Dia menutup pintu kamar dan memeluk guling. Air mata bertambah deras membasahi sekujur mukanya.

Dewa adalah anak yang tidak tahu menahu tentang asal-usulnya. Sejak kecil diasuh oleh pamannya. Sedangkan siapa ayah dan siapa ibunya dia tidak tahu-menahu. Bahkan ketika dia bertanya pada pamannya siapa ayah dan ibu kandungnya, pamannya seolah membungkam mulut dengan sengaja. Karena tahu jika Dewa belum siap mengetahuinya.

Dewa memukul tembok dan membanting buku di sebelahnya. Suaranya begitu keras sehingga membuat seisi rumah gaduh. Terdengarlah ocehan tangisannya sampai ke telinga bibinya. Bibinya segera beranjak menuju kamar keponakannya itu. Ditanyainya apakah penyebab suara tadi berasal dari kamar Dewa. Dewa hanya bisa menangis dan diam terpaku. Tidak dijawabnya suara bibinya yang dari luar bertanya padanya.

“Dewa, boleh bibi masuk kamar?”

“Boleh bi, silahkan masuk, tidak dikunci.”

“Apa yang kamu banting tadi?”

“Tidak ada bi.”

“Buku itukah?”

Dewa hanya bisa diam saja tanpa menjawabnya. Bibinya mengusap air matanya. Segera pula dipeluklah keponakannya itu.

“Bibi tahu apa yang kamu alami, pasti teman-temanmu merundungmu kan?” ucap bibinya.

Dewa diam dan pandangan matanya kosong.

Bibinya merasakan seolah-olah penderitaan batin dan beban hidup yang dialami Dewa begitu berat. Sejak kecil Dewa sudah diasuhnya bagaikan anak sendiri. Adiknya pergi merantau ke Sumatera untuk bekerja dan mengirim uang sesekali kepada bibi Dewa.

“Memang bajingan lelaki itu.”

“Siapakah bi?”

“Ayahmu. Ayah kandungmu.”

“Bibi tahu ayah saya?”

“Dia anak pejabat kelas wahid di daerah sini.”

“Bolehkah saya tahu namanya bi?”

“Namanya Yoki. Anak bos mebel yang kaya raya.”

“Lalu dimana dia sekarang?”

“Kabarnya dia kabur dengan mencuri emas milik ayahnya.”

Dewa sudah punya firasat buruk. Pasti apa yang dirasakannya dan dialaminya ini adalah karma dari orang tuanya. Dewa semakin ingin tahu apa dan siapa ayah dan ibuny. Dalam hatinya ingin bertanya tapi ragu. Keraguan itu tumbuh dari ketidaksiapannya mendengar kenyataan yang pahit. Memang kenyataan sangatlah pedih dan masam rasanya.

“Siapa ibu saya bi?”

“Ibumu adalah adikku.”

“Siapa namanya?”

“Dahlia.”

“Wow, nama yang indah.”

“Ibumu dulu seorang kembang desa. Banyak lelaki ingin melamarnya.”

“Karena dia cantik dan kenapa pula mau sama ayah saya?”

“Ibumu sebenarnya banyak yang suka. Mulai dari pengusaha sukses, aparat, bahkan pegawai pemerintahan. Tapi ibumu lebih memilih ayahmu karena cinta.”

“Kenapa orang menyebut saya selalu dengan sebutan anak haram?”

“Karena ibumu dan ayahmu tidak pernah menikah.”

“Berarti saya dilahirkan diluar pernikahan?”

Bibinya hanya bisa menganggukkan kepala. Itu tandanya benar apa dugaan Dewa selama ini. Selama ini dia merasa dia tidak seperti yang orang lain tuduhkan. Tetapi benar semua apa yang dikatakan orang lain di luar sana. Orang-orang sangat membenci Dewa. Seolah menganggap Dewa adalah kutukan yang terlahir ke dunia dan tidak diinginkan.

“Kenapa saya tidak dibuang saja?”

“Ibu mana yang tega membuang anaknya?”

“Banyak berita beredar wanita hamil di luar nikah membuang anaknya.”

“Ibumu sangat menyayangimu. Bahkan dia rela mati demi dirimu.”

“Tapi kenapa saya tidak pernah berolah kasih sayang dan pelukan ibu?”

“Ibumu terlalu banyak menanggung malu di sini. Jadi dia putuskan untuk tinggalkan desa ini.”

Dewa menyadari betapa bajingan ayahnya itu. Dewa mampu merasakan beban penderitaan dan beban batin yang dirasakan oleh ibunya. Akibat kebejatan dari ayahnya sendiri, ibunya kini tidak punya kehidupan yang bahagia. Bahkan dalam hati, Dewa merasa seolah mungkin ibunya merasa malu punya anak seperti Dewa.

“Apa saya suatu saat bisa berjumpa dengan orang tua saya?”

“Kalau ibumu boleh dan itu pasti. Tetapi kalau ayahmu jangan dan tidak usah.”

“Kenapa begitu bi?”

“Dia adalah lelaki bangsat yang liar dan keji.”

“Sekeji apakah bi?”

“Sekeji pembunuh dan pemerkosa.”

Dewa seolah bingung sendiri. Kenapa dia tidak pernah tahu wajah ibunya terpasang di dinding rumah. Dan kenapa pula ibunya tidak pernah berkomunikasi dengannya. Dia merasa ragu jika apa yang dikatakan bibinya itu kebenaran. Dewa mengganti baju dan keluar. Dia berjalan meninggalkan rumah dan berteduh di bawah angsana.

Orang-orang sekampung yang rumahnya dilewati Dewa memandang Dewa dengan tatapan sinis. Mereka seolah burung hantu dan kematian bagi Dewa. Dewa hanya berjalan tertunduk lesu menghadap tanah. Kakinya gemetar. Seluruh badannya menggigil. “Dasar anak haram,” ucap tetangganya yang lewat depan mukanya.

Ucapan itu mengiris hati dan gendang pendengaran Dewa. Rasanya dosa dan karma yang tidak pernah dia lakukan harus dia yang menjadi tumbalnya. Bukan hanya teman sebaya Dewa saja, tetapi juga seluruh orang menganggap Dewa anak yang haram. Tidak pernah diharapakan yang terlahir ke dunia dan dibesarkan dengan ketidakmauan. Hanya ada kekecewaan dan penyesalan serta tumpahan tangis dan doa dari tumpukan dosa-dosa yang menggunung yang telah mengubur Dewa hidup-hidup.

Tiba-tiba telepon bibi berdering. Bibi beranjak meninggalkan Dewa menuju dapur. Dewa hanya menguping dan melihatnya dari pojok pintu dengan sebelah mata. Dilihatnya bibinya nampat terkaget dan menangis. “Apa, tidak mungkin, astaga,” ucap bibinya dengan suara tinggi.

“Ada apa bi?”

“Diam dulu kamu nak!”

“Ibumu.”

“Siapa ibu saya, mana dia?”

“Ibumu mati dibunuh oleh orang di sana.”

“Di sana dimana?”

“Di Taiwan. Ibumu kerja di sana.”

“Astaga…”

“Sayang sekali hidupmu nak. Kamu tidak pernah melihatnya, tapi kini dia sudah menjadi mayat.”

“Mama…”

“Memang dasar brengsek ayahmu itu. Lelaki tidak tahu diri. Selama ini yang membiayai hidupmu adalah ibumu. Kamu sekolah dan uang jajan itu dari ibumu. Uang ibumu.”

Dewa hanya bisa meratapi nasib yang malang. Kini dia tidak punya lagi ibu maupun ayah. Dia hanya sebatang kara. Dibesarkan oleh bibinya yang dia anggap sebagai ibunya sendiri. Di daun pintu dia terduduk lemas, menangisi kematian ibunya.

Penulis: Muhammad Lutfi, penulis buku Pelaut, Berlayar, Bunga Dalam Air. Sampai saat ini berkegiatan sastra dengan menulis buku-buku sastra dan menulis esai. Esainya berjudul Pertanian Masa Darurat merupakan esai juara pertama dari kegiatan yang diadakan oleh Serikat Mahasiswa Indonesia.

Catatan Redaksi:

Kirimkan cerpen terbaikmu dan dapatkan kesempatan diterbitkan di media ini, tanpa biaya! Kirim  tulisan ke email redaksi@simpulrakyat.co.id atau WhatsApp di 085299598808, sertakan nama pena Anda. Ayo, bagikan ide kreatifmu melalui kata-kata!