SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Aku percaya, rumah tidak hanya dibangun dari semen dan bata, tapi dari kepercayaan. Dari janji yang diam-diam ditegakkan di antara sesama manusia. Dan kepercayaan itu, sekuat apa pun fondasinya, ternyata bisa roboh juga.

Namanya Arya. Kami membangun media ini dari sebuah ruko sempit yang lebih mirip gudang ketimbang kantor. Meja bekas pinjaman, satu laptop tua yang harus gantian, dan koneksi internet yang kadang putus saat berita sedang naik.

Tapi di antara malam-malam lembur dan liputan berbekal ongkos sendiri, Arya adalah orang yang paling setia menempel pada idealisme kami, yang sering kali terlalu besar untuk ditanggung oleh kenyataan.

Dia bukan hanya rekan. Ia seperti kakak. Dan mungkin karena itu, pengkhianatannya terasa begitu telak.

Sore itu, Pangkep gerimis. Aku sedang menyusun rencana pemindahan redaksi ke rumah tua di Jalan Cendana, sebuah properti sederhana yang sudah kuincar sejak tahun lalu.

Sebuah rumah dengan halaman kecil, jendela kayu, dan langit-langit tinggi yang bisa kami sulap jadi ruang redaksi permanen. Tidak mewah, tapi cukup untuk jadi simbol bahwa kami bukan media musiman.

Lalu sebuah pesan WhatsApp masuk dari Elya, bendahara kami.

“Kak, kita ada masalah besar. Saldo perusahaan minus Rp475 juta. Semuanya ditarik atas nama Arya, bertahap selama tiga bulan terakhir. Aku telusuri satu per satu, dan… ini nyakitin banget.”

“Sebagian besar ditarik tunai, sisanya transfer ke rekening pribadi. Ada bukti transaksi di situs judi slot, bar, klub malam, dan beberapa pengeluaran tanpa nota. Aku sudah simpan semua buktinya,” tulis Elya.

Aku membaca itu dua kali. Lalu tiga kali. Tapi tidak ada jumlah yang bisa menandingi rasa sesak saat menyadari: orang yang paling kaupercaya bisa jadi orang pertama yang mencuri dari belakangmu.

Malam itu, aku memanggil Arya ke kantor. Kantor sementara kami, ruko kontrakan yang kami sewa sejak media ini berdiri.

Ia datang dengan wajah letih. Tapi tidak kulihat penyesalan di matanya. Hanya kepasrahan.

“Aku nggak akan berdalih,” katanya, pelan.

“Bagus. Simpan aktingmu,” jawabku.

Dia tertawa kecil. Entah karena gugup, atau karena tahu: di hadapan kepercayaan yang hancur, semua pembelaan terdengar sia-sia.

“Aku kecanduan,” ujarnya.

“Awalnya cuma iseng. Lalu mulai besar. Aku panik. Aku…”

“Uang perusahaan kau habiskan buat judi? Dugem? Minuman keras juga?” potongku, tanpa memberi ruang pembelaan.

Dia menunduk. Mengangguk. Seperti pria yang akhirnya mengakui kebusukan dirinya sendiri di depan cermin.

Aku duduk diam. Tapi di kepalaku, semua kenangan melintas, Arya yang dulu menemaniku begadang menyunting naskah, Arya yang ikut menyusun kode etik redaksi, Arya yang menolak dibayar dua bulan karena kas perusahaan minus. Kini, semua itu seperti naskah yang dikoyak dan dibakar sendiri oleh penulisnya.

“Aku percaya kamu,” kataku pelan.

“Aku kasih jabatan itu karena kuyakin kamu bisa jaga amanah. Tapi ternyata, kamu justru palu yang merobohkan rumah yang kita bangun sama-sama,” kesalku.

“Maaf,” katanya. Kata yang terlalu ringan untuk mengganti apa yang hilang.

Uang Rp475 juta bukan cuma soal angka. Itu adalah akumulasi dari gaji-gaji yang ditunda, liputan yang dibiayai sendiri oleh reporter, serta kerja malam minggu anak-anak magang yang tak pernah mengeluh. Uang itu seharusnya menjadi kunci rumah redaksi baru kami.

Tapi rumah itu kini telah dibeli orang lain. Hilang. Bersama harapan yang kami tempel di dinding Google Sheet sejak tahun lalu.

Beberapa hari kemudian, Arya datang lagi. Tapi bukan membawa uang. Dia membawa permohonan.

“Jangan laporkan saya ke polisi. Kasihan anak sama istriku. Mereka tidak tahu apa-apa,” pintanya.

“Saya salah. Tapi saya masih manusia. Saya bisa berubah.”

Aku ingin menjawab bahwa manusia juga punya batas. Termasuk batas atas pengkhianatan. Tapi aku diam. Kadang, diam lebih adil daripada omelan.

Elya, yang sejak awal menangani keuangan, akhirnya bicara juga. Ia tidak marah. Tapi nadanya membuat seluruh ruang kerja jadi sunyi.

“Kalau Kakak diam, kami semua belajar satu hal, kejahatan bisa dimaafkan, asal pelakunya orang dalam,” ucapnya pelan.

Kalimat itu seperti batu yang menghantam kaca depan idealismeku.

Aku merenung lama. Bukan untuk membela Arya, tapi untuk bertanya pada diri sendiri, siapa yang sedang kuselamatkan, dia, atau egoku, agar sejarah perusahaan ini tidak ternoda di tahun-tahun awalnya.

Akhirnya, aku buat keputusan.

Arya tak kupecat. Tapi aku copot dari jabatan direktur, cabut aksesnya dari sistem, dan memberinya tenggat waktu tiga bulan untuk mengembalikan dana. Jika tidak, laporan akan masuk ke pihak berwenang.

Dia menerima keputusan itu dalam diam. Tapi aku tahu, sesuatu dalam dirinya patah. Dan mungkin, memang harus begitu. Karena luka hanya mengajarkan jika ia benar-benar terasa.

Hari ini, rumah tua di Jalan Cendana telah jadi kantor properti digital. Cat dindingnya diganti warna abu metalik. Plang merah besar bertuliskan “Innovest Property Digital Hub” berdiri tegak di halamannya.

Aku berdiri di seberang pagar, diam.

Di benakku, rumah itu masih seperti dulu. Jendela kayu tua, halaman kecil, ruang diskusi, dinding yang kami isi dengan kutipan karya terbaik. Ruang podcast sederhana, anak-anak magang yang ramai, tumpukan buku jurnalistik di sudut ruang. Semua tinggal kenangan.

Yang tersisa sekarang hanya sunyi dan papan iklan.

Dua bulan kemudian, Arya kembali. Dia membawa sebagian uang. Katanya, motor sudah dijual. Barang di rumah pun mulai dilego. Istrinya sudah tahu. Tapi belum pergi.

“Aku tidak minta dikasihani,” katanya, matanya basah.

“Tapi kamu harus tahu… hidup dengan rasa bersalah kadang lebih menyakitkan daripada hukuman itu sendiri.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, tanpa marah. Tapi juga tanpa kehangatan.

“Aku percaya kamu bisa berubah,” jawabku.

“Tapi percaya itu tidak sama dengan lupa.”

Ia diam. Lalu duduk di kursi pojok, tempat kami biasa ngopi dulu.

“Kopi di sini masih pahit?”

Aku menyesap. “Pahit. Tapi jujur. Tidak kayak kamu kemarin-kemarin.”

Rumah itu mungkin tak pernah jadi milik kami. Tapi aku belajar sesuatu yang lebih penting, rumah bisa dibangun ulang. Kantor bisa disewa lagi. Uang bisa dicari pelan-pelan.

Tapi kepercayaan, sekali roboh, tak selalu bisa didirikan kembali.

Dan di dunia jurnalisme, integritas adalah satu-satunya fondasi yang tak bisa dicicil.

Catatan Redaksi:

Kirimkan cerpen terbaikmu dan dapatkan kesempatan diterbitkan di media ini, tanpa biaya! Kirim  tulisan ke email redaksi@simpulrakyat.co.id atau WhatsApp di 085299598808, sertakan nama pena Anda. Ayo, bagikan ide kreatifmu melalui kata-kata!