SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Mia menarik napas dalam-dalam. Pagi itu, udara pesantren Aljabbar berembus pelan, membelai rambutnya yang masih basah oleh wudhu. Suara lantunan doa dari masjid menyeruak ke seluruh penjuru asrama, membungkus setiap sudut dengan kekhusyukan. Tapi hati Mia penuh riuh.

Gadis itu berdiri menatap cermin – gadis tomboi yang biasanya tegas, kini memandangi dirinya dengan rasa yang tak bisa ia jelaskan. Seragam lusuh di tubuhnya tak pernah bisa menutupi letih yang perlahan tumbuh sejak hari pertama ia tiba di pesantren itu.

Mia dulunya gadis pemberani dan penuh semangat. Anak sulung dari lima bersaudara dalam keluarga sederhana, ia tumbuh dengan tanggung jawab besar yang bukan miliknya. Ibunya terlalu pelit bahkan untuk sekadar memberi uang jajan.

Segala yang dibutuhkan adik-adiknya selalu ia yang pikirkan, selalu ia yang tanggung. Karena itu, saat mendengar tentang pesantren, Mia tak ragu. Ia ingin bebas. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa embel-embel “pengganti ibu” atau “penjaga rumah.”

Namun di pesantren, Mia malah menemukan tantangan baru. Bukan hanya jadwal ketat atau aturan kaku, tapi kenyataan bahwa dirinya harus belajar menjadi “wanita anggun.” Ia, yang terbiasa lompat pagar dan memanjat pohon, kini harus duduk tegak dan bersuara lembut.

Untungnya, Mia punya geng: Muandja – Muda Anti Derita. Isinya para gadis nekat dan setia, tempat Mia merasa punya rumah kedua. Mereka sering menyelinap keluar pesantren, menonton film di rumah warga, tertawa sampai tercekik, lalu lari sembunyi saat petugas ronda pesantren melintas. Dalam kebandelan itu, ada kebahagiaan yang tak tergantikan.

Namun hidup di pesantren tak melulu soal petualangan. Suatu hari, dalam ekskul hafalan ayat-ayat suci, Mia mengenal Indra – seorang santri pendiam yang memiliki pesona sunyi. Mereka tak banyak bicara, tapi dalam diam, Mia merasa tenteram. Tatapan mata Indra seperti danau yang tenang, dan di sanalah Mia merasa hatinya perlahan larut.

Tapi kemudian datang teka-teki baru: surat dari seorang pengagum rahasia. Mia menemukannya di bawah bangkunya- tulisan tangan rapi, penuh humor dan puisi sederhana. Surat itu membuat harinya lebih hidup. Ia membalas, dengan malu-malu, menulis di balik kertas bekas latihan i’rab. Dan jawaban pun datang. Dari sanalah Mia mengenal Ade.

Ade adalah lawan dari Indra. Ia lucu, terbuka, dan hangat. Saat bertemu di pasar pesantren, Mia sering pura-pura tak melihat, tapi jantungnya tak pernah bisa bohong. Bersama Ade, Mia merasa dilihat sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai anak sulung yang harus kuat, bukan sebagai santri yang harus patuh. Ia hanya Mia.

Kebiasaan buruknya – klepto yang muncul karena tekanan hidup – perlahan hilang. Ia tak lagi mengincar barang teman-temannya, tak lagi mencuri sekadar karena merasa kekurangan. Bersama Ade dan teman-temannya, Mia merasa cukup. Bahkan prestasinya membaik, ia mulai mencintai pelajaran, dan diam-diam, menjadi andalan ustadzah di bidang tafsir.

Namun badai datang saat semuanya tampak tenang.

Ibunya tiba-tiba datang ke pesantren. Bukan untuk menjenguk, tapi untuk menyerahkan surat—surat yang membuat Mia terdiam lama: rumah tangga orang tuanya retak, dan biaya pendidikannya berasal dari hasil menjual empang terakhir mereka.

“Mia, ini terakhir. Kamu harus jadi anak yang membanggakan,” suara ibunya terdengar tegas, tapi tatapannya kosong. Tak ada pelukan, tak ada isak. Hanya beban baru yang dititipkan.

Hari-hari Mia berubah muram. Apalagi saat surat dari Ade berhenti datang. Ia menunggu. Hari demi hari, tak ada jawaban. Sampai suatu pagi, ia menerima surat lain – pendek dan dingin.

“Maaf, kita cukup sampai di sini.”

Tanpa penjelasan. Tanpa alasan.

Hatinya remuk. Mia merasa kehilangan segalanya: cinta pertama, rumah, dan harapan. Ia mencoba bertahan, tapi saat ayahnya tak mengirim uang saku dan kabar dari rumah hilang begitu saja, Mia mulai goyah. Kebiasaan lamanya datang lagi – ia mengambil barang teman, bukan karena ingin, tapi karena bingung harus bagaimana.

Sampai akhirnya, malam itu tiba. Mia kabur dari pesantren. Hanya membawa tubuhnya dan pakaian yang melekat. Ia berjalan kaki sampai terminal, naik bus kota, dan pulang ke rumah. Tapi rumah bukan lagi rumah. Ibunya tak ada. Ayahnya diam, linglung. Mia kembali menjadi orang dewasa sebelum waktunya.

Waktu berlalu. Mia pindah sekolah, lalu bekerja, lalu menikah. Ia menutup rapat masa lalunya. Tak ada teman lama yang ia hubungi. Tak ada pesantren yang ia kunjungi. Bahkan saat nama Ade muncul dalam obrolan dengan seorang teman lama, Mia hanya diam. Ia tak ingin membuka luka yang sudah ia kubur dalam.

Namun hidup selalu punya caranya sendiri membuka kenangan.

Satu hari, undangan Reuni Akbar Pesantren Aljabbar muncul di layar ponselnya. Entah mengapa, Mia memutuskan datang. Mungkin karena anaknya mulai bertanya, “Ibu dulu sekolah di mana?” Mungkin karena ia ingin tahu apakah luka itu sudah sembuh.

Di sana, ia melihat wajah-wajah yang pernah ia sayangi. Tawa teman-teman geng Muandja yang kini berjilbab rapi. Gurutta yang dulu galak kini duduk dengan tongkat, senyumnya menghangatkan. Mia hanya mengangguk. Ia tak ingin menyesal. Ia hanya ingin mengingat.

Hingga sebuah kabar membuat dadanya bergetar.

“Ade datang, loh. Tapi dia cuma sebentar. Katanya ada urusan keluarga.”

Mia terdiam.

Ia tak sempat bertemu. Tak sempat berkata apa-apa. Tak sempat menjelaskan bahwa ia baik-baik saja sekarang—meski dulu hancur karenanya, karenanya semua.

Mia duduk di bawah pohon mangga di sudut pesantren, tempat dulu ia dan Ade pernah berbagi surat. Hatinya diam-diam menyesap larik-larik rindu. Bukan pada orang lain – tapi pada dirinya sendiri yang dulu.

Ia menghela napas.

Dalam ingatannya, pesantren bukan hanya tempat pendidikan. Tapi tempat pertama kali ia mengenal cinta, kecewa, dan bertahan hidup dengan cara yang tak diajarkan siapa pun.

Penulis: Mitha

Catatan Redaksi:
Kirimkan cerpen terbaikmu dan dapatkan kesempatan diterbitkan di media ini, tanpa biaya! Kirim tulisan ke email redaksi@simpulrakyat.co.id atau WhatsApp di 085299598808, sertakan nama pena Anda. Ayo, bagikan ide kreatifmu melalui kata-kata!