SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Nada duduk diam di depan piano, jemarinya gemetar di atas tuts hitam-putih. Biasanya, musik adalah pelariannya, tempat ia menenangkan diri. Namun malam itu, setiap nada terasa asing, hampa dan kosong.

Bayangan masa lalu menyeruak. Ardi, pria yang dulu ia cintai, kini hanya menjadi kepingan kenangan yang menyakitkan.

Kata-katanya masih menggantung di udara seperti not yang terhenti di tengah simfoni.

“Aku dan Rina…” ungkap Ardi terbata-bata.

Nada tidak perlu mendengar sisanya. Ia sudah tahu. Hatinya serasa dihantam ribuan palu godam, tapi ia hanya menatap kosong.

“Aku sudah tahu,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.

Ardi menunduk. “Sejak setahun yang lalu.”

Setahun. Jadi selama ini, setiap pelukan, setiap tatapan lembutnya… semuanya dusta?

Napas Nada tercekat. Dunia di sekelilingnya terasa kabur. Tapi ia tidak menangis. Tidak di depan pria yang telah mengkhianatinya. Ia mengambil tasnya dan melangkah pergi.

Namun, saat pintu tertutup di belakangnya, dunia yang ia kenal ikut runtuh.

Di sudut kota, sebuah kafe kecil dipenuhi suara dentingan gelas dan obrolan pelan. Nada duduk di atas panggung, gitarnya di pangkuan. Musik adalah satu-satunya tempat berpulangnya.

Setiap petikan senar adalah jeritan yang tak terdengar, setiap lirik adalah kepedihan yang tersimpan dalam nada-nada sunyi.

Saat ia selesai, suara serak seorang pria menarik perhatiannya.

“Suaranya dalam… tapi penuh luka,” ujar pria itu.

Nada menoleh. Seorang pria duduk di bangku dekat panggung, matanya teduh namun menyimpan rahasia.

“Razka,” ia memperkenalkan diri dengan anggukan kecil.

“Aku juga seorang musisi,” lanjutnya.

Malam itu, mereka berbagi kisah tentang musik dan perjalanan hidup. Bagi Nada, Razka hadir bak oase di tengah gurun kesendiriannya, seseorang yang memahami tanpa perlu banyak bertanya.

Malam-malam mereka dihabiskan dalam alunan nada, menciptakan lagu-lagu yang mengisahkan hidup.

Razka tak banyak bicara, tetapi dalam setiap petikan gitarnya, Nada menemukan ketenangan. Mereka berbagi bukan hanya musik, tetapi juga harapan, dan ketakutan yang terpendam.

Untuk pertama kalinya sejak lama, Nada merasa ia tidak sendirian.

Razka adalah ketenangan. Pelabuhan baru.

Nada mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa mencintai lagi. Namun, hidup selalu punya cara untuk merusak harmoni.

Suatu sore, Nada datang ke studio tempat mereka biasa berlatih. Tapi di sana, ia melihat sesuatu yang meremukkan hatinya.

Seorang wanita berdiri di ambang pintu, seorang anak kecil menggenggam tangannya. Saat melihat Razka, anak itu berlari dan menubruknya.

“Papa!”

Dunia Nada seakan berhenti.

Papa?

Razka menatapnya dengan wajah bersalah. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Siapa mereka, Razka?” tanya Nada dengan suara bergetar.

Razka menghela napas panjang. “Istriku… dan anakku.”

Seketika, udara di ruangan itu terasa menyesakkan.

Nada tertawa, sebuah tawa getir yang tidak sampai ke matanya. “Jadi, aku hanya selingan?”

Razka melangkah mendekat, tangannya terulur, tetapi Nada mundur.

“Kumohon, Nada. Aku tidak ingin menyakitimu.”

Nada menatapnya tajam, air mata menggenang di pipinya. “Tapi kau sudah melakukannya.”

Hujan turun.

Nada berjalan tanpa arah, membiarkan air hujan bercampur dengan air matanya. Dunia terasa kejam. Dua kali ia mencintai, dua kali ia dikhianati.

Namun, di tengah kehancuran itu, ia menyadari sesuatu.

Ia tidak butuh siapa pun untuk menyelamatkannya.

Ia bisa berdiri sendiri.

Dengan langkah mantap, Nada kembali ke kafe kecilnya. Ia duduk di atas panggung, mengangkat gitar, dan mulai bernyanyi.

Sebuah lagu tentang perpisahan. Sebuah lagu tentang kehilangan.

Namun, di antara kesedihan itu, ada keberanian.

Ketika Nada menyelesaikan lagu terakhirnya, tepuk tangan memenuhi ruangan. Tapi satu sosok di sudut menarik perhatiannya.

Seorang pria tua berdiri di sana, matanya berkaca-kaca.

“Suaramu… mengingatkanku pada ibumu,” suara pria itu lirih.

Nada menahan napas. Pria itu… ayahnya.

Lelaki yang telah pergi dari hidupnya bertahun-tahun lalu. Kini ia kembali, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menemani perjalanan putrinya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Nada tersenyum.

Mungkin, ini bukan akhir.

Mungkin, ini adalah awal melodi baru.

Bertahun-tahun kemudian, Nada berdiri di sebuah panggung yang jauh lebih besar. Ribuan orang menantinya.

Saat jemarinya menyentuh tuts piano, ia teringat semua yang telah ia lalui.

Pengkhianatan. Kesedihan. Luka yang mendalam.

Tapi kini, ia tidak lagi memainkan melodi yang patah.

Ia memainkan simfoni baru, simfoni yang ia ciptakan sendiri.

Nada menghirup napas dalam, memejamkan mata, lalu mulai bernyanyi.

Dan untuk pertama kalinya, musiknya tidak lagi tentang kehilangan. Tapi tentang kemenangan.