SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Di sebuah kampung kecil di pelosok, Dukun Sandro adalah figur yang sangat dihormati. Kumisnya melintang gagah, jubahnya berkibar setiap kali ia berjalan, dan suaranya lantang penuh wibawa. Warga selalu lebih dulu mendatanginya sebelum pergi ke Puskesmas.
Di sisi lain, ada Dokter Andi, seorang dokter spesialis yang telah bertahun-tahun bertugas di kampung ini. Meskipun ia lulusan terbaik dua universitas dan penelitiannya pernah masuk jurnal internasional, warga tetap menganggapnya “dokter kampung” biasa.
Pagi itu, saat Dokter Andi baru saja membuka kliniknya, Dukun Sandro datang dengan langkah penuh keyakinan. Tanpa dipersilakan, ia duduk di kursi pasien dan menyilangkan tangan di dada.
“Dok, saya sudah lama ingin bicara dengan Anda,” katanya serius.
Dokter Andi tersenyum tipis. “Silakan, Pak Dukun. Ada yang bisa saya bantu?”
Dukun Sandro mengelus janggutnya.
“Saya ini sudah puluhan tahun mengobati orang di kampung ini. Banyak yang sembuh berkat ramuan dan doa-doa saya,” akunya dengan congkak.
“Saya pikir, Anda ini perlu lebih banyak belajar soal kesehatan. Coba sering-sering baca buku. Kesehatan itu bukan cuma soal suntik-menyuntik atau kasih obat, tapi juga soal memahami energi tubuh dan keseimbangan alam,” lanjut dukun itu.
Dokter Andi hampir tertawa. Kalau saja Dukun Sandro tahu bahwa ia sudah menulis dua buku kesehatan yang dijual di Gramedia, mungkin ceritanya akan berbeda. Namun, dia memilih untuk diam dan mengangguk sopan.
“Benar sekali, Pak Dukun. Saya memang masih banyak belajar. Dunia kesehatan sangat luas, jadi saya selalu berusaha menambah ilmu,” ujar Andi.
Dukun Sandro mengangguk puas. “Bagus! Saya senang dokter bisa menerima masukan. Saya bukan orang sombong, kalau ada yang lebih tahu dari saya, saya juga mau belajar. Nah, kapan-kapan saya ajari Anda cara membuat ramuan herbal yang mujarab!”
Pasien yang mulai berkumpul mengangguk-angguk, seolah-olah Dukun Sandro adalah profesor yang sedang membimbing muridnya.
Sementara itu, Dokter Andi hanya tersenyum dalam hati berpikir, “Kalau aku kasih lihat CV-ku, kira-kira dia masih mau ngajarin aku nggak ya?“
Percakapan pagi itu menyebar dengan cepat. Warga mulai terbelah. Ada yang tetap percaya pada Dukun Sandro, ada yang mulai penasaran dengan Dokter Andi.
Suatu hari, seorang ibu datang ke klinik dengan wajah cemas. “Dok, tolong anak saya. Sejak semalam panasnya nggak turun-turun. Saya sudah kasih ramuan dari Pak Dukun, tapi belum sembuh juga.”
Dokter Andi menghela napas. Ini bukan pertama kali. Dengan sabar, ia memeriksa sang anak dan memberikan obat yang sesuai.
“Bu, ini infeksi. Saya kasih obat penurun panas dan antibiotik. Pastikan anak ibu banyak minum air dan istirahat cukup, ya,” katanya.
Sang ibu mengangguk ragu. “Tapi Pak Dukun bilang ini karena ada angin jahat yang masuk, dan harus dikeluarkan dengan ritual khusus.”
Dokter Andi tersenyum. “Kalau begitu, mungkin nanti saya harus bikin obat berbentuk dupa biar lebih meyakinkan.”
Beberapa hari kemudian, anak itu sembuh. Tapi, yang beredar di kampung bukan soal kesembuhannya, melainkan pernyataan Dukun Sandro di warung kopi: “Saya sudah bilang, kan? Ritual pembersihan angin jahat itu ampuh! Kebetulan saja dokter kasih obat.”
Dokter Andi yang mendengar berita itu hanya bisa menggelengkan kepala. “Kalau begitu, besok aku harus belajar meteorologi juga, biar bisa jadi ahli angin jahat.”
Desas-desus semakin panas, hingga akhirnya kepala desa mengadakan ‘adu ilmu’.
“Siapa yang bisa menyembuhkan pasien paling cepat dan efektif, dialah yang diakui sebagai penyembuh terbaik!” katanya.
Esoknya, seorang pasien dengan infeksi ringan didatangkan. Dukun Sandro langsung membaca mantra sambil menari-nari, mengusapkan daun ke tubuh pasien, dan meniup ubun-ubunnya.
Sementara itu, Dokter Andi hanya memberi obat dan meminta pasien beristirahat.
Beberapa jam kemudian, pasien Dokter Andi mulai membaik. Sementara pasien Dukun Sandro masih pusing.
Warga mulai bertanya, “Pak Dukun, kok pasiennya masih pusing?”
Dukun Sandro garuk-garuk kepala. “Ini anginnya bandel, mesti didoakan lagi!”
Tawa warga pecah. Kepala desa pun mengumumkan, “Mulai sekarang, kita harus lebih percaya ilmu yang berbasis bukti. Tapi, tentu saja, Pak Dukun tetap bisa membantu kalau ada yang mau pengobatan tambahan!”
Dukun Sandro tak mau kalah. “Baiklah, saya kalah kali ini, tapi saya tetap pegang tradisi!”
Dokter Andi tersenyum. “Tradisi itu penting, Pak Dukun, tapi kesehatan juga harus berbasis ilmu. Kalau kita bisa saling belajar, itu lebih baik.”
Namun, seminggu kemudian, ada kejadian yang lebih mengejutkan. Pada malam hari, Dukun Sandro diam-diam masuk ke klinik Dokter Andi.
“Dok… saya mau periksa. Perut saya melilit sejak tadi siang. Saya sudah coba ramuan saya sendiri, tapi nggak mempan,” katanya lirih.
Dokter Andi menatapnya, lalu tersenyum lebar. “Wah, Pak Dukun! Tumben ke sini? Mau periksa atau mau ngasih saya kuliah lagi tentang energi tubuh?”
Dukun Sandro terdiam. Warga yang melihat kejadian itu menahan tawa. Keesokan harinya, warung kopi ramai membicarakan satu hal, yaitu “Pak Dukun ternyata lebih percaya dokter daripada ramuan sendiri!”
Sejak saat itu, pasien di klinik Dokter Andi bertambah banyak. Dukun Sandro? Ia mulai membuka jasa baru: “Konsultasi Spiritual dan Motivasi Hidup” di warung kopi.
Suatu hari, ada warga bertanya, “Pak, kalau saya sakit gigi, harus gimana?”
Dukun Sandro menjawab, “Gampang! Taruh tangan di pipi, tarik napas… lalu pergi ke dokter gigi!”
Tawa warga pun pecah sekali lagi.
Catatan Redaksi:
Kirimkan cerpen terbaikmu dan dapatkan kesempatan diterbitkan di media ini, tanpa biaya! Kirim tulisan ke email redaksi@simpulrakyat.co.id atau WhatsApp di 085299598808, sertakan nama pena Anda. Ayo, bagikan ide kreatifmu melalui kata-kata!


Tinggalkan Balasan