SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Sore itu, ketika matahari hampir tenggelam di ufuk barat, ponselku bergetar. Detak jantungku seolah ikut bergetar bersamanya. Sebuah pesan singkat muncul di layar.

“Kak, bisa ketemu?” tulismu.

Hanya beberapa kata sederhana, tetapi entah mengapa, pesan itu seolah membuka kembali semua harapan yang telah lama terpendam.

Setelah berhari-hari tanpa kabar darimu, akhirnya pesan itu datang. Perasaanku langsung campur aduk—antara lega dan rindu yang tak tertahankan.

Selama ini, kupikir kau menghindar, menjauh perlahan. Namun ternyata, semua itu hanyalah salah paham yang kuperbesar dalam benakku.

Kau mengajakku bertemu di sebuah kafe dekat Pantai Losari, di Kota Makassar. Tanpa berpikir panjang, aku segera bersiap. Tak peduli jarak yang harus kutempuh, sepeda motor buntutku kembali menjadi teman setia.

Sore itu, aku meninggalkan Pangkep dengan hati berdegup kencang, seolah setiap kilometer yang kulewati adalah jarak menuju kerinduan yang akan segera terobati. Perjalanan terasa ringan meski udara sore itu sedikit dingin.

Sesampainya di Makassar, malam telah tiba. Lampu-lampu kota mulai menyala, dan angin pantai menyapa lembut. Di kafe yang kau sebutkan, di bawah cahaya lampu temaram, aku melihatmu duduk sendirian di sudut ruangan.

Kau tampak sederhana dengan kaos hitam dan rambut terurai. Wajahmu yang teduh menyapaku dengan senyum hangat yang selama ini aku rindukan.

Aku berdiri sejenak di depan pintu, memandangi sosokmu, memastikan bahwa ini nyata—bahwa kau benar-benar ada di hadapanku setelah semua prasangka dan jarak yang memisahkan.

Ketika aku akhirnya mendekat, kau tersenyum tipis, sedikit canggung namun penuh kelegaan.

“Maaf, beberapa minggu ini aku tak menghubungimu,” katamu sembari menyodorkan menu makanan dan minuman.

Kau bercerita bahwa dua minggu terakhir ini sangat sibuk. Kini, kau ditugaskan di Kota Makassar, setelah mengabdi di Pangkep selama lebih dari setahun.

“Pantas saja kau seperti menghilang,” pikirku sambil tersenyum. Semua prasangka burukku perlahan lenyap bersama penjelasanmu.

“Aku tahu, aku salah karena tidak kasih kabar sama sekali,” ujarmu.

“Tapi aku baca semua cerpen sindiranmu, loh. Lucu juga.” kau menambahkan dengan senyum nakal yang membuatku tersipu.

Ternyata, tulisan-tulisan kecil yang kutulis tentang perasaan terabaikanku selama ini tak luput dari perhatianmu.

Kita tertawa bersama, suasana yang semula canggung berubah hangat. Waktu terasa melambat malam itu, seolah dunia memberi kita ruang untuk mengobrol, berbagi cerita dan rasa yang telah lama mengendap.

Setelah kafe mulai sepi, kita keluar dan berjalan menyusuri Anjungan Pantai Losari. Suara ombak pelan terdengar di kejauhan, dan angin malam yang sejuk mengiringi langkah kita.

Aku merasa nyaman berjalan di sampingmu, dan seolah semua yang belum terucap selama ini kini menemukan jalan keluar.

“Kak, di tempat ini jangan bawah pikiranmu ke masa lalu,” ujarmu tiba-tiba.

Suaramu lembut, tapi ada ketegasan di sana. Aku menoleh ke arahmu, sedikit terkejut.

“Aku tahu, kau masih teringat seseorang yang pernah meninggalkanmu. Tapi aku tak mau kau berbagi hati dengan masa lalu,” pintamu.

Kata-katamu membuatku terdiam. Kenangan lama menyeruak—bayangan orang yang dulu pernah mengisi hidupku, yang masih sering menghantui pikiranku.

Namun, di sisimu malam itu, aku merasa beban itu mulai terlepas. Kau memberiku alasan untuk melangkah maju, untuk menutup lembaran lama.

Setelah beberapa saat berjalan dalam diam, aku memberanikan diri bertanya.

“Apa aku pantas mendampingimu? Aku cuma seorang wartawan biasa, aku baru merintis usaha media lokal, dan itu pun masih jauh dari kata mapan,” tanyaku sembari menunduk, aku takut melihat reaksimu.

Kau menghentikan langkah, meraih dan menggenggam tanganku. “Kak, jangan merendah diri begitu,” katamu lembut.

“Karir, jabatan, itu bukan hal utama buatku. Urusan rezeki, jodoh, maut, semuanya Allah yang atur. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa” imbuhmu memberi semangat.

Aku tersentuh dengan kata-katamu. Kau tidak peduli dengan status atau posisi. Kau hanya peduli dengan kehadiranku. Kata-katamu seperti angin segar yang merontokkan semua keraguan di hati ini.

Malam itu, di bawah langit Makassar yang cerah, setiap keraguan, setiap rasa takut, dan rindu yang terpendam akhirnya terjawab.

Sebelum kita berpisah, kau berbisik lembut, “Kak, jangan tinggalkan aku.” Suaramu menyentuh hatiku. Dalam nada yang penuh harapan dan sedikit ketakutan, aku bisa merasakan betapa dalamnya perasaanmu.

“Aku janji, aku tidak akan pergi. Kisah kita baru saja dimulai,” balasku, berusaha meyakinkan dia.

Kau tersenyum, wajahmu bercahaya. “Kisah ini boleh kau tulis, tapi jangan utuh, ya!” pintamu.

“Siap!” jawabku singkat, penuh semangat.

“Besok aku jemput, ya. Tak usah naik motor buntut lagi,” pungkasmu sambil mengedipkan mata.

Aku mengangguk, tertawa kecil. Malam itu, dengan sinar bulan yang lembut menyelimuti kita, aku tahu bahwa ini adalah awal baru—bukan hanya tentang mengakhiri masa lalu, tetapi juga tentang mulai menulis kisah baru, kisah kita bersama.