SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Malam ini, sekitar pukul 23.00 Wita, aku melangkah tanpa tujuan pasti menuju Taman Musafir, Pangkep.

Hanya ada satu keinginan sederhana—mengusir jenuh yang menumpuk setelah seharian terjebak dalam rutinitas.

Lampu taman yang temaram menyambut kedatanganku dengan kehangatan samar, seolah menawarkan ketenangan.

Setibanya di sana, aku memarkir sepeda motorku di depan Gazebo yang menjadi pusat keramaian malam ini. Dari kejauhan, suara nyanyian dan tawa terdengar membuncah.

Lagu dangdut dan tembang daerah mengalir deras, bercampur dengan gelak tawa yang tak bertepi. Orang-orang tampak asyik bernyanyi dan bercengkerama, seolah tak ada beban di dunia.

Aku mendekati keramaian itu, bukan untuk bergabung, tapi hanya ingin merasakan sedikit kehidupan di tengah kebosanan yang menghimpit, lalu mataku menangkap sosok gadis belia di belakang sebuah meja kecil, menjual nasi uduk.

Dia tampak lelah, wajahnya sedikit kusut, mungkin karena sudah semalaman melayani pembeli.

“Satu porsi nasi uduknya, Mbak,” sapaku, mencoba terdengar ramah.

Tanpa banyak bicara, ia menyiapkan pesananku dengan gerakan cepat. Wajahnya tetap datar, hanya sesekali melirikku dengan tatapan lelah.

“Ini, Kak,” ucapnya singkat, menyerahkan nasi uduk dalam bungkusan styrofoam putih.

Aku mengambil bungkusan itu, lalu memilih duduk di bangku taman yang agak jauh dari Gazebo, mencari ketenangan.

Aroma nasi uduk dan sambalnya menggoda, dan tak butuh waktu lama aku mulai menyantapnya. Meski sederhana, rasanya cukup memuaskan, mengganjal perutku yang sejak tadi kosong.

Tiba-tiba, suara gaduh dari arah Gazebo mengusik konsentrasiku. Tawa dan nyanyian mendadak terhenti, tergantikan oleh keributan.

Seorang pria paruh baya tampak berjalan sempoyongan, matanya merah, entah karena minuman atau amarah yang tertahan.

Ia menyeret seorang perempuan yang tampaknya adalah istrinya, memaksanya pulang dengan cara yang kasar.

“Pulang sekarang!” bentaknya keras.

Perempuan itu tertunduk takut, melangkah dengan pasrah mengikuti tarikan suaminya. Beberapa orang di sekitar mencoba menenangkan pria itu, tapi usahanya sia-sia.

“Jangan ikut campur urusan saya!” pekik pria itu dengan nada mengancam. Suasana jadi tegang seketika.

Aku hanya bisa terdiam, tercekat oleh pemandangan itu. Di balik keriuhan yang tadi terasa ceria, terselip kenyataan pahit yang muncul tanpa aba-aba.

Kehidupan memang penuh paradoks—di satu sisi ada tawa, di sisi lain ada luka yang tersembunyi.

Pria itu akhirnya menyeret istrinya pergi, meninggalkan taman dalam kemarahan. Perlahan, suasana di Gazebo kembali normal. Lagu-lagu kembali dinyanyikan, dan tawa seakan tak pernah berhenti. Namun bagiku, kejadian tadi seperti meninggalkan bekas yang sulit diabaikan.

Saat aku bangkit hendak pulang, gadis penjual nasi uduk itu tiba-tiba menghampiriku. “Kak, nggak bungkus lagi?” tanyanya dengan nada yang kali ini lebih hangat, sambil tersenyum kecil.

Aku sedikit heran, wajahnya tak lagi tampak masam seperti tadi. Aku balas tersenyum tipis.

“Tidak, di kost saya cuma sendiri” jawabku singkat.

Dia tertawa pelan. “Oh, begitu ya. Hati-hati di jalan, kak.”

Aku mengangguk, lalu beranjak meninggalkannya. Aku menyalakan motor dan bersiap untuk melaju pulang. Angin malam berembus lembut, membawa serta kenangan singkat tentang apa yang baru saja kulihat dan kurasakan.

Tawa kadang hanya menjadi selimut tipis yang menutupi kepedihan. Di setiap wajah yang tersenyum, mungkin ada cerita getir yang tersembunyi. Malam ini, aku diingatkan bahwa kehidupan tak selalu seperti yang terlihat di permukaan.

Dan seperti Taman Musafir ini—dengan nyanyiannya yang riuh dan sepinya yang menggigit—kehidupan pun terus berjalan, dengan tawa dan air mata berdampingan, tak bisa dipisahkan.

Sepanjang perjalanan, pikiranku berkelana. Malam ini, di Taman Musafir, aku mendapatkan lebih dari sekadar nasi uduk dan hiburan. Di balik tawa dan keramaian, aku menyaksikan potongan realitas yang jarang terlihat.