“Aku memilih membuatmu kesal atau merasa Ilfeel, bukan karena benci, tapi agar kamu bisa pergi tanpa rasa bersalah. Dengan begitu, aku tak perlu mengganggu hidupmu lagi“
SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Pagi ini, tubuhku terasa berat, seolah ada beban tak tertanggungkan. Kepala berdenyut, dan demam membuat seluruh badanku menggigil.
Kertas-kertas dan laptop di meja kerja hanya tergeletak tak terurus. Aku tak bisa memaksakan diri untuk meliput kegiatanmu hari ini.
Dengan berat hati, aku mengetik pesan singkat: “Hari ini saya tidak bisa kawal kegiatannya, berhubung lagi kurang fit.”
Pesan itu kukirim via WhatsApp, berharap kamu membalasnya. Minimal, sebuah kalimat sederhana: “Tidak apa-apa, semoga cepat sembuh.”
Tapi ponselku tetap sunyi. Satu menit, lima menit, hingga satu jam berlalu. Tak ada tanda-tanda kamu akan membalas.
Setiap kali ada notifikasi masuk, hatiku berdegup kencang, berharap hanya untuk kecewa, karena itu bukan darimu.
Aku mencoba menenangkan diri: “Ini bukan kesalahanmu. Kamu yang memilih jalanmu sendiri”
Aku tahu mengapa kamu kini diam. Ini dampak dari keputusan yang kuambil. Aku sengaja membuatmu kesal, bahkan mungkin membuatmu ilfeel. Bukan karena aku membencimu—sama sekali bukan.
Aku hanya ingin kamu pergi tanpa merasa bersalah. Dengan begitu, kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang, tanpa aku menjadi beban.
Kita memang tak punya ikatan khusus. Kamu seorang pejabat dengan segala kesibukanmu, sementara aku hanya wartawan yang mencatat setiap langkahmu, mengabarkan agenda-agenda yang kamu gelar.
Kita adalah rekan kerja, sebatas mitra. Namun, entah bagaimana, dalam pertemuan-pertemuan itu, perasaanku mulai berubah, meski itu sulit kumengerti.
Awalnya, aku senang menjadi bagian dari rutinitasmu. Mendampingimu saat liputan, melihat senyummu ketika berhasil mencapai target, atau sekadar mendengarkan rencanamu di sela-sela perjalanan.
Tapi perlahan, rasa senang itu menjadi lebih dalam, lebih rumit. Aku tahu, jika terus seperti ini, aku hanya akan terseret lebih jauh.
Maka aku mulai menciptakan jarak. Aku berhenti mengikuti akun media sosialmu agar tak perlu melihat unggahan tentang rutinitasmu yang bisa memicu rindu. Aku mengurangi obrolan yang tak perlu dan berusaha menyebalkan.
Kamu pasti kesal. Itu yang aku inginkan. Aku ingin kamu melihatku sebagai seseorang yang tak penting, seseorang yang pantas kamu tinggalkan tanpa rasa bersalah.
Ponselku masih diam. Pesan yang kukirim tadi pagi tetap tak berbalas. Perasaan sepi semakin menyesakkan. Aku tahu, aku yang memulai semua ini, tetapi tetap saja, rasanya tak mudah.
Hari-hari bersamamu telah menjadi kebiasaan. Kini, ketika aku mencoba menghentikannya, aku merasa seperti kehilangan sebagian diriku. Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Ini yang terbaik,” bisikku dalam hati.
Kamu bebas mengejar mimpimu tanpa perlu memikirkan aku. Dan aku, akan belajar hidup tanpamu, sedikit demi sedikit.
Malam ini, sebelum tidur, aku menatap ponselku sekali lagi. Masih tak ada balasan. Aku tahu, kamu sudah mulai pergi, dan itu yang kuharapkan. Namun, kenapa perasaan ini begitu menyakitkan?
Aku menutup mata dan mengirimkan doa dalam diam: “Ya Allah, semoga dia bahagia, dan menggapai seluruh impiannya.”
Di situlah aku menyadari sesuatu. Terkadang, menyayangi bukan soal memiliki. Mencintai adalah belajar melepaskan, meski dengan cara yang paling sulit—membuatnya pergi tanpa pernah tahu seberapa besar aku peduli.


Tinggalkan Balasan