SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Aku benci perasaan ini. Rasa yang membuatku seperti anak kecil yang kehilangan arah setiap kali dia muncul.

Tanganku selalu berkeringat, padahal tak ada alasan rasional untuk merasa seperti itu. Seolah-olah aku berusaha menggenggam sesuatu yang tak kasat mata, tapi entah apa.

Jantungku berdebar kencang, tak terkendali. Dentumannya serampangan, tak mengikuti ritme yang seharusnya, seperti drum yang dipukul tanpa pola.

Mulutku seakan terkunci rapat. Aku ingin bicara, banyak hal yang ingin kuucapkan, tapi seolah ada beban tak terlihat yang menahan setiap kata untuk keluar.

Semua yang biasanya memenuhi kepalaku—logika, pengetahuan, ketajaman analisis—lenyap begitu saja. Padahal, logika adalah andalanku. Logika yang selama ini membantuku melewati segala tantangan. Tapi saat bersamanya, semuanya buyar.

Aku wartawan. Setiap saat aku berbicara dengan pejabat-pejabat tinggi, dari gubernur hingga bupati. Aku melemparkan pertanyaan-pertanyaan tajam tanpa rasa takut.

Bahkan, saat berhadapan dengan mereka yang terkenal sulit, aku selalu bisa menemukan celah. Aku terbiasa menggali informasi dari balik wajah-wajah yang terlatih untuk menyembunyikan kebenaran. Tapi kenapa, ketika di depannya, aku tak bisa? Kenapa aku, yang terbiasa mengendalikan keadaan, justru menjadi tidak berdaya?

Di hadapannya, aku bukan lagi aku. Aku menjadi sosok yang lemah, seseorang yang rapuh dan mudah diombang-ambingkan.

Perasaan ini, entah bagaimana, menolak untuk dikendalikan. Setiap kali aku mencoba menenangkan diri, tubuhku selalu memberontak. Tangan gemetar, keringat mulai membasahi telapak, dan suara yang seharusnya lantang, menghilang entah ke mana.

“Kenapa aku bisa seperti ini, bodoh!” gerutuku pada diri sendiri.

Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah yang tampak asing bagiku. Di sana ada seorang pria, tapi dia terjebak dalam perasaannya sendiri. Seolah segala hal yang selama ini kukenali tentang diriku menghilang begitu saja. Bagaimana mungkin aku, yang selalu percaya diri, bisa takluk pada seorang wanita?

Dia… wanita itu… berbeda. Ada sesuatu tentangnya yang tak bisa kuterjemahkan dengan kata-kata. Cara dia berbicara, bagaimana matanya menatapku, selalu membuatku merasa tak pernah cukup.

Setiap gerakannya halus, penuh keyakinan, tetapi juga membingungkan. Di depannya, aku merasa kecil, tak berdaya. Aku, wartawan yang selalu siap dengan kata-kata, tak mampu berkata apa-apa.

“Ya Allah,” bisikku dalam hati. “Kembalikanlah hatiku seperti dulu, sebelum aku mengenalnya. Sebelum perasaan ini menghancurkan dinding kepercayaan diriku.”

Aku ingin kembali seperti semula—tenang, terkendali, dan tidak diombang-ambingkan oleh perasaan yang tak bisa kuterjemahkan ini.

Namun, semakin hari, semakin aku merasa bahwa ada sesuatu yang telah berubah. Dan meskipun aku berusaha menyangkalnya, aku tahu bahwa wanita itu adalah alasan di balik perubahan ini.

Tanpa aku sadari, mungkin aku telah jatuh cinta padanya. Tapi ini bukan cinta seperti yang kubayangkan. Cinta yang tak bisa kuatur dengan logika, cinta yang justru meruntuhkan tembok-tembok yang selama ini kubangun dengan keras. Perasaan ini datang tanpa permisi, tanpa bisa kuusir.

Yang membuat segalanya semakin sulit adalah ketika aku tidak melihatnya, walaupun hanya sehari, aku mulai merasakan rindu yang tak terjelaskan. Rindu yang seharusnya bisa kukendalikan.

Aku ini wartawan, seorang yang selalu menganalisis situasi dengan cermat dan rasional. Namun, pada kenyataannya, perasaan ini selalu menang. Setiap kali dia tidak di sekitarku, pikiranku terus tertuju padanya. Bagaimana mungkin aku bisa merasa seperti ini?

Dan yang lebih mengkhawatirkan, aku takut jika perasaan ini akan mengganggu fokusku. Aku sedang membangun bisnis media massa, sesuatu yang telah lama menjadi impianku.

Mimpi yang kukerjakan dengan susah payah sejak 2018, namun sekarang… seakan-akan perasaan ini mengalihkan segalanya.

Fokusku terbagi, semangatku tergerus oleh pikiran-pikiran tentang dia. Bagaimana aku bisa mencapai targetku jika setiap kali duduk di meja kerja, wajahnya yang hadir di benakku?

Aku tahu bahwa aku harus segera mengambil kendali. Perasaan ini, rindu yang melumpuhkan, tidak bisa kubiarkan terus mengganggu langkahku.

Aku tidak bisa membiarkan mimpi yang sudah kubangun hancur hanya karena aku tak mampu mengendalikan perasaan ini.

Tapi… aku tetap membenci perasaan ini. Aku benci kehilangan kendali atas diriku sendiri. Perasaan ini membuatku rapuh, sementara aku terbiasa menjadi kuat.

Tapi entah kenapa, semakin aku berusaha menyingkirkannya, semakin kuat pula perasaan itu mencengkeramku.

Aku tahu, aku harus segera berbicara padanya, menyampaikan apa yang kurasakan. Namun, ketakutan itu masih ada—ketakutan yang tak pernah kumiliki sebelumnya. Aku takut dia akan menolakku, atau lebih buruk lagi, takut aku akan terlihat bodoh di matanya. Aku, seorang yang selalu tampil percaya diri, tiba-tiba menjadi pengecut dalam urusan ini.

Sementara itu, aku hanya bisa berdoa. Berdoa agar Allah memberiku kekuatan, agar hatiku kembali tenang, dan agar aku bisa memahami diriku lebih baik lagi.

Hingga saat itu tiba, aku akan terus berjuang melawan perasaan ini—perasaan yang membuatku merasa kecil di hadapan wanita yang kucintai, meski aku tak pernah memintanya. Perasaan ini mungkin adalah takdir, tapi aku belum siap menerimanya.