SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Makassar selalu menyimpan kenangan tersendiri bagi Arif, terutama sejak pertemuannya dengan Elya, gadis yang telah mencuri hatinya sejak awal.
Mereka bertemu di sebuah acara sastra lokal, dan dari obrolan sederhana tentang puisi, hati mereka semakin terikat.
Di bawah langit Makassar yang seringkali dihiasi awan-awan kelabu, mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi mimpi, dan pada suatu hari, Elya membuat janji yang Arif anggap akan bertahan selamanya.
“Aku akan menunggumu, Arif,” ucap Elya di tepi Pantai Losari, suaranya diiringi suara ombak yang tenang.
“Kamu pergi dulu saja ke Toraja, jalani tugasmu sebagai wartawan. Aku akan ada di sini, menanti kepulanganmu,” kata Elya.
Dengan hati penuh cinta, Arif meninggalkan Makassar, membawa janji itu di dadanya, percaya bahwa apa yang mereka miliki tak akan goyah meskipun jarak memisahkan.
Tugas di Toraja sebagai wartawan memang menguras tenaga dan waktu, tapi setiap detiknya Arif selalu memikirkan Elya. Setiap hari, dia menantikan pesan-pesan darinya yang selalu menjadi pengobat rindu.
Namun, semakin lama, pesan-pesan itu semakin jarang datang. Awalnya, Arif mencoba mengerti, berpikir bahwa mungkin Elya sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi, hati kecilnya tak bisa mengelak dari rasa cemas yang kian membesar. Ada sesuatu yang berubah, meskipun Arif tak bisa menjelaskan apa itu.
Suatu hari, saat sedang menyelesaikan tugas lapangan di Toraja, sebuah kabar yang tak pernah ia bayangkan datang melalui pesan singkat dari salah satu teman lamanya.
Pesan itu singkat, namun menghancurkan segala keyakinan yang selama ini ia pegang erat: “Elya menikah. Dengan Reza.”
Dunia Arif seketika runtuh. Reza adalah sahabatnya sejak kecil, orang yang selalu ada di sisinya, orang yang ia percayai sepenuh hati.
Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya bahwa sahabatnya sendiri yang akan meminang wanita yang ia cintai. Elya, yang pernah berjanji untuk menunggu, kini justru memilih orang yang selama ini ia anggap keluarga sendiri.
Dengan hati yang hancur, Arif segera kembali ke Makassar, berharap ini semua hanya kabar yang tak benar. Namun ketika tiba, kenyataan menamparnya lebih keras daripada yang ia kira. Elya dan Reza sudah bertunangan, bahkan persiapan pernikahan mereka sudah hampir selesai. Arif berdiri di depan rumah Elya, tak tahu harus berkata apa.
Ketika akhirnya mereka bertemu, Elya tak bisa menatap matanya. “Maafkan aku, Arif,” ucap Elya lirih.
“Aku tak pernah bermaksud menyakitimu, tapi semuanya berubah. Reza… dia ada di sini saat kamu jauh,” kilah Elya
Arif terdiam, menahan segala rasa sakit yang berdesir di dadanya. “Kau yang berjanji akan menungguku,” suaranya terdengar lemah, hampir tak terdengar di antara hiruk-pikuk kota.
Elya hanya bisa menunduk. “Janji itu… aku kira aku bisa memegangnya. Tapi hidup tak selalu seperti yang kita harapkan.”
Arif menatap Elya untuk terakhir kalinya sebelum pergi, meninggalkan kota yang kini hanya menyimpan kenangan pahit.
Cinta yang pernah ia jaga, janji yang pernah ia pegang erat, kini hanya menjadi serpihan-serpihan yang berserakan di sepanjang jalanan Makassar.
Di balik senyum Reza, sahabat yang pernah ia percayai, Arif hanya menemukan pengkhianatan.
Di Toraja, angin pegunungan yang dingin menjadi satu-satunya penghibur. Di sanalah ia merenungi kisahnya, mencoba menerima kenyataan bahwa tidak semua janji bisa ditepati, dan tidak semua cinta berakhir bahagia.
Namun, satu hal yang pasti, Arif tahu bahwa meskipun hatinya hancur, hidup harus terus berjalan.
Di bawah langit Toraja yang kelabu, Arif akhirnya melepaskan segalanya, belajar untuk merelakan cinta yang tak bisa ia miliki.


Tinggalkan Balasan