SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Malam itu, hujan rintik-rintik membasahi jalanan kota. Di sebuah rumah kecil, seorang suami, sebut saja Arif, duduk di sudut kamar, menangis tersedu-sedu.
Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang tirus. Sahabatnya, yang datang berkunjung, tertegun melihat kondisi sahabatnya itu.
“Kenapa kau menangis seperti ini, Arif?” tanya sahabatnya dengan lembut, sambil duduk di sampingnya.
Arif menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan perasaannya yang tengah berkecamuk. Dengan suara lirih, ia menjawab, “Istriku sedang sakit demam.”
Sahabatnya mengerutkan kening, bingung.
“Apakah sebegitu cintanya kau pada istrimu, sehingga dia demam saja kau menangis begitu dalam?” tanyanya lagi, tak menyangka bahwa rasa cinta bisa begitu besar sampai menggerus ketabahan seorang lelaki.
Arif tersenyum pahit. “Kau tahu siapa istriku?” tanyanya retoris, seolah pertanyaan itu hanya perlu dijawab dengan kenyataan hidup yang diajalani.
Lalu, dengan suara parau, Arif mulai menceritakan kisahnya.
“Aku ini orang miskin, kau tahu. Tak punya pekerjaan tetap. Setiap hari, keluargaku hanya bisa makan kacang, itu pun kalau aku berhasil membawanya pulang. Jika tidak, istriku hanya minum air atau berpuasa. Seringkali aku merasa tak layak sebagai suaminya,” tutur Arif ke sahabatnya itu dengan suara bergetar.
Sahabatnya menatapnya dengan iba. Tapi ia tetap mendengarkan, membiarkan Arif melanjutkan ceritanya yang semakin memilukan.
“Beberapa waktu lalu,” lanjut Arif.
“Keluarga mertuaku mengundang kami untuk berkunjung ke rumah mereka. Istriku berasal dari keluarga kaya, kau tahu. Ketika kami tiba di sana, mereka menyambut kami dengan penuh kehangatan. Di meja makan, berbagai hidangan mewah telah disiapkan. Tapi aku tak menemukan istriku di sana. Aku pun bertanya kepada ibu mertuaku, ‘Di manakah dia, Bu?'” kenang Arif.
Sahabatnya mendengarkan dengan seksama, matanya mulai berair, seolah merasakan derita yang dirasakan sahabatnya itu.
“Ibu mertuaku menjawab, ‘istrimu sedang di dapur, dia mencari kacang. Katanya dia sudah bosan dengan lauk pauk dan daging, sehingga dia sangat ingin makan kacang’,” lanjut Arif.
Arif berhenti sejenak, suaranya tertahan oleh rasa bersalah. “Saat mendengar itu, ayah mertuaku langsung memelukku sambil berkata, ‘Terima kasih, menantuku. Kau telah mencukupi nafkah anakku dengan baik, sampai dia bosan makan daging dan malah ingin mencoba makan kacang’.”
Arif terisak, menahan tangis yang kembali menguasai dirinya. “Saat itu dadaku terasa sesak, menahan tangis. Dan ketika pulang ke rumah, aku tak bisa lagi menahannya. Aku peluk istriku erat-erat. Betapa aku bersyukur memiliki istri sepertinya, yang begitu menjaga kehormatanku di hadapan orang lain, bahkan di hadapan orang tuanya sendiri. Padahal aku tahu, setiap hari dia hidup kekurangan di sini, bahkan sampai tak makan sama sekali.”
Sahabatnya terdiam, tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa merasakan betapa dalam cinta dan pengorbanan yang dibalut dalam kehidupan sederhana mereka.
“Dan tahu apa yang istriku katakan padaku?” tanya Arif, suaranya lirih tapi penuh makna.
“Dia hanya tersenyum dan berkata, ‘Aku berkewajiban menjaga kehormatanmu, karena istri adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri. Karena itu, istri adalah kehormatan suaminya, begitu juga pun sebaliknya, suami adalah kehormatan bagi istrinya’,” lanjut Arif.
Kata-kata istrinya itu begitu dalam, begitu berarti, dan membuat Arif merasa lebih kuat dari sebelumnya. Dengan segala kekurangan yang mereka miliki, mereka tetap bersama, saling melindungi, saling menghormati, dan yang terpenting, saling mencintai.
Malam itu, sahabatnya pulang dengan hati yang penuh haru. Ia menyadari, cinta yang sesungguhnya tidak diukur dari materi atau kemewahan, tetapi dari seberapa dalam seseorang bersedia menjaga dan melindungi kehormatan pasangannya, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.


Tinggalkan Balasan