SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Di sebuah kafe kecil pinggir pantai, letaknya tak jauh dari perbatasan Barru-Pangkep.

Saat itu senja berpendar lembut menyelimuti suasana, beriring angin laut yang sepoi-sepoi menerbangkan aroma asin yang khas.

Aku sedang duduk di meja pojok, menikmati secangkir kopi hitam, kulihat seorang wanita masuk dari pintu sebelah kanan.

Wanita itu berambut pirang dengan gaun merah yang ‘memeluk’ tubuhnya dengan sempurna.

Matanya ‘menyapu’ ruangan dan ketika bertemu mata denganku, dia tersenyum. Senyumnya itu—ah, senyum yang manis penuh rahasia.

Aku merasa tersentak, namun aku balas tersenyum dan mengangguk kecil. Dia berjalan mendekat, hak sepatunya berbunyi ritmis di lantai kayu kafe.

“Apakah kursi ini kosong?” tanyanya dengan suara lembut yang mendayu.

“Kalau tidak, saya rela mengosongkannya untuk Anda” jawabku, setengah bercanda.

Dia tertawa kecil, lalu duduk. “Nama saya Dewi” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Syahrul,” jawabku sambil menjabat tangannya.

“Senang bertemu denganmu” lanjutku.

Obrolan kami dimulai dengan hal-hal ringan. Tentang cuaca, kopi, hingga tentang pantai yang indah. Tapi segera, obrolan itu beralih ke topik yang lebih pribadi.

“Apakah kau sering ke sini?” tanyanya sambil menatap mataku dalam-dalam.

“Cukup sering. Tempat ini selalu memberiku inspirasi,” jawabku.

“Mencari inspirasi untuk apa?” dia bertanya, penuh rasa ingin tahu.

“Aku seorang penulis. Kadang aku menulis cerita tentang orang-orang yang kutemui di sini,” kataku sambil tersenyum nakal.

“Oh, begitu? Lalu apa yang akan kau tulis tentangku?” dia menantang, mata birunya berkilau.

Aku tertawa kecil, lalu menjawab, “Seorang wanita cantik berambut pirang yang masuk ke kafe, membawa kehangatan, dan mungkin punya banyak kisah untuk diceritakan, tapi lebih memilih mendengarkan.”

Dia tersenyum, kali ini lebih lebar. “Kau pandai merayu, Syahrul.”

“Mungkin,” kataku sambil menatap matanya.

“Tapi aku lebih tertarik untuk mendengarkan ceritamu,” ujarku merayu dia.

Dewi menghela napas pelan, menatap secangkir kopinya sejenak sebelum mulai bercerita.

Dia bercerita tentang kehidupannya sebagai seorang janda, tentang suaminya yang meninggal dalam kecelakaan mobil setahun yang lalu.

Dewi juga mengungkapkan tentang bagaimana dia mencoba memulai kembali hidupnya dengan semangat baru, meski masih sering dilanda kesedihan.

“Sulit, tapi aku mencoba untuk tetap kuat,” katanya sambil tersenyum pahit.

“Kau sudah melakukan yang terbaik, Dewi,” kataku lembut.

“Hidup memang tidak selalu adil, tapi kita harus tetap berjalan,” ucapku memberi semangat.

Dewi mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Syahrul. Aku butuh mendengar itu.”

Spontan aku meraih tangan Dewi, menggenggamnya dengan erat, menenangkan dia yang sedang berurai air mata.

“Kita semua butuh seseorang yang mau mendengarkan dan peduli. Dan kau sudah menemukan tempat yang tepat untuk itu,” kataku menghibur dia.

Kami duduk di sana, berbicara sepanjang malam. Dewi dengan cerita-ceritanya, aku dengan keinginan untuk mendengarkan dan memahami.

Namun, saat malam semakin larut, aku tahu bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah awal dari sesuatu yang indah, sesuatu yang mungkin bisa mengobati luka lama dan membawa harapan baru.

Di bawah langit malam yang sunyi, di antara gemerlap bintang yang berseri, diiringi deru ombak yang tenang, kami menutup malam itu dengan janji untuk bertemu lagi.

Sebuah awal baru, dengan Dewi, wanita pirang yang penuh misteri dan kehangatan.