SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Di sebuah kantor penerimaan pajak, di ruang tamu utama, seorang kepala kantor yang dikenal dengan integritas dan kejujurannya, Aisyah, sedang sibuk mengamati laporan hasil pemungutan pajak bulan ini.
Tiba-tiba, pagi itu, enam orang yang mengaku sebagai wartawan melakukan kunjungan silaturahmi. Mereka datang dengan tujuan tersembunyi, meminta uang ke pejabat.
“Selamat pagi, bu Aisyah,” sapa salah satu dari mereka, sebut saja Bang Jago, dengan senyum lebar.
“Pagi, pak. Silakan duduk,” sambut Aisyah dengan ramah.
Keenam orang itu duduk di kursi tamu dengan sikap seolah-olah mereka benar-benar ingin melakukan wawancara secara profesional.
“Saya mendengar banyak tentang program pajak yang sedang ibu jalankan tahun ini,” kata Bang Jago membuka pembicaraan.
“Kami ingin mendalami lebih dalam dan memastikan semua informasi kami akurat,” tambah dia berusaha terdengar serius.
Asiyah mengangguk. “Tentu saja. Saya senang jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang program-program ini.”
Namun, sebelum itu, kata Bang Jago, sembari mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan meletakkannya di meja, “Kami ingin mengusulkan sesuatu.”
Aisyah memandang map tersebut dengan penasaran. “Apa yang ingin Anda usulkan?”
“Begini, bu Aisyah,” lanjut Bang Jago,
“Kami ingin memastikan bahwa liputan kami nanti bisa menggambarkan kerja keras ibu dengan baik. Tentu saja, agar informasi yang kami terima lebih lancar, kami berharap ada dukungan dari ibu” tutur Bang Jago.
Mendengar itu, Asiyah mengernyitkan dahi. “Dukungan seperti apa?”
Bang Jago tersenyum. “Kami berharap ada sedikit bantuan finansial. Ini bisa membantu kami dalam proses penyuntingan dan distribusi berita.”
Aisyah menatap keenam orang tersebut, matanya tajam. “Apakah Anda mengatakan bahwa Anda ingin uang untuk mempengaruhi bagaimana berita ditulis?”
“Ah, bukan seperti itu, bu Aisyah,” kata Bang Jago, berusaha mengelak.
“Kami hanya ingin memastikan bahwa liputan kami nantinya lebih komprehensif dan informatif,” jelas oknum itu terlihat meyakinkan.
Aisyah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Anda menyebut diri Anda wartawan, tetapi Anda meminta uang untuk liputan. Ini bukan hanya melanggar kode etik jurnalistik, tetapi juga merusak integritas pekerjaan Anda.”
“Ibu Aisyah, kami hanya ingin menjaga agar berita kami tidak hanya satu sisi,” kata Bang Jago dengan nada yang mulai menunjukkan ketegangan.
“Jadi, menurut Anda, integritas jurnalistik bisa dibeli?” tanya Aisyah dengan nada dingin.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka, dan seorang jurnalis senior, Arif, memasuki ruangan.
“Maaf, ibu Aisyah. Saya dengar ada sesuatu yang kurang biasa di sini,” kata Arif.
Aisyah memandang Arif dengan rasa syukur. “Arif, ini adalah situasi yang tidak nyaman. Enam orang ini mengaku wartawan, tetapi mereka malah meminta uang.”
Arif menatap keenam orang tersebut dengan tatapan tajam. “Kalian harus tahu, permintaan seperti ini adalah penghinaan bagi profesi kami.”
Salah satu dari mereka, Beddu, mencoba meluruskan kisruh dalam ruangan itu.
“Kami hanya… mencoba mendapatkan dukungan agar berita kami bisa lebih baik” kilah Beddu dengan suara terbata-bata.
“Jadi, Anda berpikir bahwa melanggar etika bisa diterima asalkan tujuannya ‘baik’?” kata Arif dengan tegas.
“Dalam jurnalisme, integritas adalah segalanya. Apa yang Anda lakukan sekarang hanya merusak reputasi Anda sendiri dan profesi ini,” kesal Arif.
Bang Jago mulai terlihat tidak nyaman. “Kami minta maaf, pak Arif. Kami salah.”
Aisyah berdiri dan memandang keenam orang tersebut dengan wajah serius.
“Saya berharap Anda semua dapat merenungkan tindakan Anda dan memperbaiki diri,” imbuh dia.
“Jurnalisme harus didasarkan pada kejujuran dan integritas, bukan pada transaksi yang merusak nilai-nilai tersebut,” tambah Aisyah.
Keenam orang itu akhirnya meninggalkan ruangan dengan rasa malu dan penyesalan. Aisyah dan Arif melanjutkan percakapan mereka, membahas bagaimana menjaga integritas dalam jurnalisme dan memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Dengan kejadian itu, Aisyah berharap bahwa pelajaran yang dipetik dari pengalaman tersebut akan mengingatkan semua orang tentang pentingnya menjaga prinsip dan etika dalam setiap aspek kehidupan profesional mereka.
Kisah ini diharapkan bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana pejabat yang jujur menghadapi oknum-oknum wartawan yang berusaha melanggar etika, serta menunjukkan betapa pentingnya integritas dalam profesi jurnalistik.


Tinggalkan Balasan