SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang wartawan bernama Arif.

Arif bekerja di sebuah kantor berita lokal yang gajinya tak seberapa.

Setiap hari, Arif berkeliling mencari berita, mencoba mengungkap kebenaran di balik cerita dan kisah yang sering terlupakan.

Suatu malam, saat dia pulang ke rumah kontrakannya yang sempit, dia disambut oleh istrinya, Mira, dan kedua putra mereka, Rafli dan Razka.

Mira membuka pintu dan tersenyum lelah, menyapa suaminya.

“Kak, kamu pulang terlambat lagi. Sudah makan?” sapa Mira.

“Belum, Bu. Kerjaan banyak sekali hari ini,” jawab Arif sembari meletakkan tasnya.

Rafli dan Razka yang meilhat ayahnya pulang berlari kecil, memeluk Arif.

“Ayah, Rafli kangen. Ayah sibuk terus,” kata Rafli.

Arif pun merangkul dan menggendong kedua putranya itu, dia mencium keningnya satu persatu.

“Maaf ya, Nak. Ayah harus kerja keras. Kamu tahu kan, Ayah ingin kalian punya kehidupan yang lebih baik,” imbuh Arif ke kedua putranya,

Istrinya, Mira yang sedang sibuk menyiapkan makan malam sederhana, menyampaikan ke suaminya, Rafli butuh uang sekolah.

“Kita harus bayar uang sekolah Rafli bulan ini. Aku tidak tahu harus cari uang dari mana lagi,” ungkap Mira dengan suara bergetar.

Mendengar itu, Arif menghela napas panjang, duduk di kursi reyot.

“Aku tahu, Bu. Aku akan cari cara. Mungkin aku bisa ambil kerja sambilan di malam hari,” ujar dia.

Mira menatap Arif dengan cemas.

“Kak, kamu sudah kerja keras siang malam. Tubuhmu butuh istirahat” ucap istrinya.

Arif hanya tersenyum pahit.

“Aku harus, Bu. Demi kalian bertiga,” ujarnya.

Hari-hari berlalu dengan penuh perjuangan. Arif bekerja lebih keras dari sebelumnya, sering kali melewatkan makan dan istirahat demi menghemat uang.

Suatu hari, di kantor redaksi, Bosnya Syahrul, memanggilnya.

“Arif, kamu sudah berapa kali telat mengumpulkan laporan? Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Syahrul dengan suara tegas.

Arif menunduk, suaranya pelan, “Maaf, Pak. Saya akan berusaha lebih baik.”

Syahrul menghela napas, mengingatkan Arif untuk disiplin menulis laporan hasil liputan.

“Kita semua sedang kesulitan, Arif. Tapi aku berharap kamu bisa lebih disiplin” printah pemimpin redaksinya itu.

Arif pulang dengan hati yang berat. Di rumah, Mira menunggunya dengan wajah cemas.

“Kak, ada apa? Kamu kelihatan lelah sekali,” suara pelan menenangkan Arif.

Arif mencoba tersenyum, “Hanya sedikit masalah di kantor, Bu. Aku bisa atasi kok.”

Tiba-tiba, Rafli menghampiri ayahnya, menarik lengan Arif.

“Ayah, lihat gambar yang Rafli buat di sekolah!” rengek anak sulungnya itu.

Arif melihat gambar itu, sebuah rumah kecil dengan keluarga yang tersenyum di depan pintu. Air matanya hampir tumpah.

Arif mengusap kepala Rafli, “Bagus sekali, Nak. Ayah bangga sama kamu.”

Malam itu, setelah Rafli tertidur, Arif dan Mira duduk di ruang tamu yang remang-remang.

Mira menggenggam tangan Arif, “Kak, kita akan bisa melalui ini semua, kan?”

Arif menatap jauh wajah istrinya itu, tak terasa air matanya menetes.

“Aku harap begitu, Bu. Aku hanya ingin kalian bahagia” ucap Arif dengan suara serak.

Mendengar itu, Mira ikut menangis pelan, memeluk Arif, “Kita bersama-sama, kak. Selalu.”

Hari berikutnya, Arif mendapat tugas meliput di daerah kumuh yang terancam digusur karena proyek rel kereta api.

Di sana, ia bertemu dengan seorang ibu tua yang tinggal sendirian di rumah gubuk.

Ibu Tua dengan suara lirih mengadu ke Arif, “Nak, apa yang akan terjadi pada kami? Di mana kami akan tinggal?”

Arif menghapus air matanya, menulis di buku catatannya.

“Saya akan menulis kisah ini, Bu. Agar semua orang tahu. Saya akan berjuang untuk kalian,” tegas Arif.

Setelah menulis artikel yang menggugah hati, Arif menyerahkannya kepada Syahrul.

Syahrul membaca, mengangguk dan tergugah akan nasib yang dialami ibu tua itu.

“Ini bagus, Arif. Ini bisa membuka mata banyak orang” puji Syahrul.

Malam itu, saat membaca artikel Arif, Mira menangis tersedu. Dia memeluk suaminya.

“Kak, kamu tidak hanya berjuang untuk kita. Kamu berjuang untuk banyak orang,” kata Mira.

“Aku hanya ingin melakukan yang benar, Bu” pungkas Arif.

Di balik pena yang tersedu itu, Arif menemukan kekuatan untuk terus berjuang.

Bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk orang-orang yang suaranya sering tak terdengar. Karena dalam setiap kata yang ditulisnya, tersimpan harapan dan cinta yang tak terhingga.