SimpulRakyat.co.id – Di balik gemerlapnya kota Pangkajene, ada realitas pahit yang jarang terlihat.
Kesenjangan sosial yang menganga lebar semakin memperlihatkan wajah asli kota ini, satu sisi yang diliputi kemewahan, dan sisi lain yang terpuruk dalam kemiskinan.
Di tengah-tengah hiruk-pikuk kota, ada banyak cerita tentang mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, berjuang setiap hari hanya untuk bertahan hidup.
Seperti keluarga Dg Baco, mereka tinggal di sebuah rumah tak layak huni di pinggiran kota.
Rumah mereka hanya berukuran kurang dari 8 meter persegi, dihuni oleh Dg Baco, istrinya, dan dua anak mereka.
Dindingnya mulai mengelupas, atap bocor saat hujan, dan ventilasi udara yang minim membuat ruangan pengap.
Setiap malam, mereka tidur berdesakan di atas kasur tipis yang sudah usang.
Dg Baco bekerja sebagai tukang becak motor (Bentor), berangkat pagi dan pulang malam.
Penghasilannya tidak menentu, kadang cukup untuk makan sehari-hari, kadang harus berhutang ke warung sebelah.
Istrinya, Syamsiah, berusaha menambah penghasilan dengan bekerja sebagai buruh tani.
Namun, pekerjaan mereka tak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan dasar, apalagi biaya sekolah anak-anak mereka.
“Saya ingin anak-anak saya bisa sekolah tinggi, biar tidak seperti saya,” kata Dg Baco dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi, kadang uang buat makan saja susah, apalagi untuk sekolah” lirihnya.
Ironisnya, di saat yang sama, kita sering mendengar berita tentang para pejabat yang hidup mewah.
Beberapa di antaranya terjerat kasus korupsi, menguras uang negara untuk kepentingan pribadi.
Mereka tinggal di rumah-rumah mewah, mengendarai mobil mahal, dan sering berlibur ke luar kota.
Kontras yang menyakitkan ini semakin terasa ketika melihat kehidupan Dg Baco dan keluarganya.
Korupsi yang merajalela di kalangan pejabat pemerintah bukan hanya sekadar angka-angka di berita.
Itu adalah pengkhianatan terhadap rakyat yang mereka sumpah untuk layani.
Uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan masyarakat miskin, justru mengalir ke kantong-kantong pribadi para pejabat korup itu.
Dampaknya begitu nyata dan dirasakan langsung oleh mereka yang paling membutuhkan.
“Saya tahu ada pejabat yang tertangkap korupsi, tapi apa bedanya buat kami? Hidup kami tetap susah,” ucap Syamsiah dengan nada putus asa.
“Kadang rasanya seperti tidak ada harapan lagi,” ujarnya.
Anak-anak Dg Baco, seperti ribuan anak lainnya di kota ini, terpaksa bersekolah di fasilitas yang minim dan guru yang kekurangan gaji.
Mereka belajar dalam kondisi yang jauh dari layak, namun tetap berjuang untuk meraih mimpi-mimpi mereka.
Di sisi lain, anak-anak para pejabat korup menikmati pendidikan terbaik di sekolah-sekolah unggulan, tanpa perlu merasakan getirnya kehidupan yang dialami anak-anak miskin.
Kontras yang mencolok ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Bahwa ada ketidakadilan yang perlu diperbaiki, ada kebijakan yang harus diubah, dan ada korupsi yang harus diberantas.
Jika tidak, kita hanya akan terus memperpanjang derita mereka yang terpinggirkan.
Kini, Dg Baco memboyong istri dan anaknya meninggalkan Kota Pangkajene, menuju salah satu kabupaten di Papua untuk mengubah nasib yang dialaminya.
Kisah Dg Baco dan keluarganya adalah potret nyata dari sekian banyak keluarga yang hidup dalam kemiskinan di tengah kota Pangkajene.
Mereka adalah pengingat bahwa di balik kemajuan dan modernitas, ada tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat bisa merasakan manfaatnya.
Selama korupsi masih merajalela, harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang miskin akan tetap menjadi mimpi yang sulit terwujud.


Tinggalkan Balasan