SimpulRakyat.co.id – Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah seorang pemuda bernama Raihan.
Ia tumbuh besar dalam cinta dan kasih sayang seorang ibu yang bernama Maryam.
Sejak kecil, Maryam mengorbankan segalanya demi kebahagiaan dan masa depan Raihan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Raihan mulai melupakan pengorbanan ibunya.
Raihan mendapat pekerjaan di kota besar dan semakin sibuk dengan karirnya.
Ia jarang pulang ke desa, dan jika pulang pun, hanya untuk waktu yang singkat.
Maryam selalu menantikan kedatangan putranya, Raihan dengan penuh harap, meskipun sering kali kekecewaan yang ia dapatkan.
Pada setiap doanya, Maryam selalu menyebut nama Raihan, berharap anaknya selalu dalam lindungan Allah.
Suatu hari, Raihan menerima kabar bahwa ibunya sakit keras. Meski berat berat hati, ia memutuskan untuk pulang.
Di perjalanan, hatinya dipenuhi rasa bersalah. Ia teringat bagaimana ia sering kali mengabaikan telepon ibunya, bagaimana ia lebih memilih teman-teman dan kesibukan kota daripada menemani ibunya di rumah.
Ketika Raihan tiba di rumah, ia mendapati ibunya terbaring lemah di ranjang.
Wajahnya pucat, namun senyum hangat tetap terpancar dari bibirnya. “Raihan, akhirnya kau pulang, Nak,” kata Maryam dengan suara lemah namun penuh cinta.
Air mata mulai menggenang di mata Raihan. “Ibu, maafkan aku. Maafkan aku yang selama ini selalu mengabaikanmu,” katanya sambil menggenggam tangan ibunya.
Maryam mengelus kepala Raihan dengan penuh kasih sayang. “Tidak apa-apa, Nak. Ibu selalu mendoakanmu, selalu berharap yang terbaik untukmu.”
Penyesalan begitu mendalam menghantam hati Raihan. Ia sadar bahwa selama ini ia telah gagal berbakti kepada ibunya, wanita yang telah membesarkannya dengan penuh cinta dan pengorbanan. Tangisnya pecah, dan ia bersujud di kaki ibunya, memohon ampun.
“Ibu, maafkan aku. Aku berjanji akan selalu berada di sampingmu, akan menjaga dan merawatmu,” kata Raihan di sela tangisnya.
Maryam tersenyum, air matanya mengalir. “Allah Maha Pengampun, Nak. Ibu juga memaafkanmu. Yang penting, jangan pernah lupakan Allah, selalu berbuat baik, dan jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Beberapa hari kemudian, kondisi Maryam semakin memburuk. Raihan selalu berada di sisinya, membaca Al-Quran dan berdoa untuk kesembuhan ibunya.
Namun, takdir berkata lain. Maryam menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Raihan, dengan senyuman yang menenangkan.
Kepergian ibunya meninggalkan luka mendalam di hati Raihan. Ia menyadari bahwa tidak ada yang bisa mengembalikan waktu, tidak ada yang bisa menghapus penyesalan.
Namun, ia bertekad untuk memperbaiki diri, untuk selalu mengingat nasihat ibunya dan berbakti kepada orang tua yang masih ada.
Dalam setiap sujudnya, Raihan selalu mendoakan ibunya, berharap Allah memberikan tempat terbaik untuk Maryam di surga.
Semoga Cerpen ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak pernah melupakan jasa dan pengorbanan orang tua, terutama ibu.
Jangan biarkan penyesalan datang terlambat. Mari kita selalu berusaha berbakti kepada mereka selama mereka masih ada di dunia ini.
“… Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (surah Al-Isra ayat 23).


Tinggalkan Balasan