SimpulRakyat.co.id, Makassar – Menuju momentum Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu 21 dan 23 Januari, Aliansi Wija To Luwu yang ada di Kota Makassar menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur Sulsel, Kota Makassar.
Aksi demontrasi ini diikuti oleh 11 lembaga Wija To Luwu, yakni PB IPMIL Raya, PP Pemilar, PP IPMA Lutim, PP IPMIL Luwu, IKPM Walmas, IPMIL Raya UMI, IPMIL Raya UNM, IPMIL Raya UNIFA, PKPT IPMIL Raya UIM, PKPT IPMIL Raya UNDIPA, PKPT IPMIL Raya Atim.
Mereka mengangkat Grand Isu “Luwu Tengah Harga Mati”. Pada aksi ini, massa menuntut keseriusan Pj Gubernur Sulsel dan DPR RI Dapil Sulsel III serius berjuang membantu Wija To Luwu menyuarakan ke pusat mekarkan Luwu Tengah.
“Jika tuntutan ini tidak diindahkan, maka kami akan melakukan aksi yang lebih besar lagi,” pekik demonstran.
Jenderal lapangan, Haikun Candra menyampaikan, historis bergabungnya Tanah Luwu ke dalam NKRI tidak terlepas dari janji presiden Soekarno menjadikan Luwu sebagai daerah istimewa.
“Namun toh, sampai hari ini janji tersebut belum jua direalisasikan, hari ini kami menanti kepekaan seluruh elemen bersatu paduh berjuang bersama menyuarakan Luwu Tengah, sebab hanya dengan begitu, jalan kemajuan di Tanah Luwu bisa terwujud,” kata Haikun Candra.
Sementara Ketua Umum PP IPMIL Luwu, Yandi mengatakan, permintaan pihaknya sederhana, dia meminta kepekaan Pj Gubernur Sulsel serius menyuarakan Luwu Tengah, bisa dimulai dengan berstatement di media sosial atau mengantarkan Wija To Luwu ke Jakarta bertemu Presiden,
“Sebab jika Tuntutan ini tidak diindahkan di puncak perayaan Hari Perlawanan Rakyat Luwu 23 Januari di Luwu Timur, kami haramkan Tanah Luwu diinjak oleh Pj Gubernur Sulsel, dan kami pastikan, akan melumpuh totalkan akses jalan Poros Palopo-Masamba di Batusitanduk, persis tragedi Walmas Berdarah 2013 silam terjadi. Ini adalah ekpresi kemarahan masyarakat Luwu, kami muak dimarginalkan,” kesal Yandi.
Aksi yang tadinya berjalan damai, tiba-tiba ricuh, sebab pihak kepolisian mengintervensi massa aksi untuk tidak menutup jalan, massa aksi yang tidak bertemu Pj Gubernur semakin marah dan memutuskan menutup full jalan Urip Sumoharjo. (*)


Tinggalkan Balasan