SimpulRakyat.co.id, Luwu – Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) disalurkan di Desa Botta, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, pada Jumat (4/3) siang.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Yenni yang ditemui di lokasi menyebutkan, jika sebanyak 114 warga penerima manfaat bantuan sosial (Bansos) tersebut telah dilayani.

Yenni mengatakan, peserta yang mendapatkan pelayanan wajib membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) dan selembar surat dari kantor pos yang berisikan Barcode.

“Sekarang tidak lagi pakai kartu BPNT, tapi ada surat dari kantor Pos. Itu yang menjadi dasar kita untuk pencairan, selain KK dan KTP,” kata Yenni.

Diketahui, setelah dilakukan verifikasi, penerima manfaat diberikan uang tunai Rp600.000 untuk pencairan triwulan pertama. Bersama uang tunai, dan sejumlah dokumen tersebut, penerima manfaat kemudian difoto dengan alasan sebagai dasar pertanggungjawaban penyalur dari pihak kantor Pos.

Suasana antrian Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang disalurkan di Desa Botta, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Jumat (4/3). (Foto: Fatwa/SimpulRakyat.co.id).

Namun, usai difoto oleh penyalur dari kantor Pos, penerima manfaat kemudian diduga diarahkan untuk menyetor kembali uang yang baru diterima tersebut ke orang yang berbeda, untuk ditukarkan dengan Sembako.

Hal itu berdasarkan pengakuan dari salah seorang penerima manfaat Bansos BPNT yang enggan namanya ditulis media ini.

Bukannya menerima Sembako, penerima manfaat justru diminta membubuhi tandatangan di sebuah buku yang telah disiapkan, sebagai bukti telah menyetor uang tunai yang baru diterimanya.

Kata wanita yang memegang buku tersebut, Sembakonya akan diberikan setelah barangnya datang. Namun, tidak menyebutkan secara rinci kapan waktu tepatnya.

“Rp600 ribu untuk tiga bulan, tidak dibawa pulang, disetor kembali karena diminta, kalau tidak disetor, tidak dikasih ke agen, akan bla-bla-bla. Saya juga tidak tahu artinya bla-bla apa, cuman pak desa bilang seperti itu,” kata seorang penerima manfaat kepada wartawan yang enggan disebutkan secara terang identitasnya.

Ia menambahkan, jika berdasarkan informasi dari wanita yang disebutnya sebagai agen, jika uang yang disetor tersebut nantinya akan ditukar dengan beras sebanyak 3 karung, dan telur tiga rak, namun belum diberikan informasi secara pasti, kapan waktu penyerahaannya.

“Beras tiga kandu (karung-red) dan telur tiga rak. Sebelumnya, saya juga pernah ke sana mewakili orang tua saya, saya tanya, tidak bisakah saya simpan uangnya separuh, separuhnya saya belikan beras, katanya tidak bisa, katanya khusus untuk beras ini. Ada penjual beras lain,” bebernya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Masling menyebut jika agen yang mengambil uang tanpa memberikan barang ke masyarakat merupakan sebuah tindakan yang keliru.

“Ini untuk bulan Januari, Fabruari, sampai Maret, diberikan uang tunai Rp600 ribu, dibayarkan langsung oleh PT Pos. Itu dilakukan dalam rangka percepatan penyaluran. Uang yang diberikan, untuk membeli Sembako, bisa dibeli di tempat lain, tapi jika mau membeli di agen Sembako, lebih baik lagi karena itu tempatnya kemarin. Tapi aturan ini baru berlaku di triwulan ini, kita belum tau selanjutnya seperti apa,” kata Masling saat dikonfirmasi via telepon.

“Seharusnya itu kalau Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mau beli Sembako di agen, dia menyerahkan uang, sembako juga harus ada. Namanya belanja harus ada barang. Kita tidak tahu juga apa alasannya kenapa tidak ada barang. Itu kekeliruan ketika disetorkan uangnya, tanpa mengambil barang. Harusnya dia sudah serahkan uangnya, harusnya barangnya diserahkan juga. Kalau demikian, memang harus dilakukan perbaikan,” kata Masling.

Dilansir dari web resi Pusdatin Kemensos, BPNT adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk non tunai dari pemerintah yang diberikan kepada KPM setiap bulannya melalui mekanisme akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di pedagang bahan pangan/e-warong yang bekerjasama dengan bank.

Pada awal penyalurannya, penerima BPNT akan mendapatkan ATM yang berisi uang dan bisa untuk membelanjakan Sembako di e-warong (elektronik warung gotong royong). Namun, pada penyaluran bulan Januari hingga Maret 2022 dilakukan secara rapel dan diberikan uang tunai Rp600 ribu di PT Pos.

Hal itu bertujuan untuk percepatan penyaluran Bansos Sembako atau BPNT 2022, agar cepat tersalurkan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menargetkan penyaluran BPNT akan selesai pada 3 Maret 2022. Semula Bansos Sembako ditargetkan selesai penyalurannya pada Februari 2022 ini.

“Diharapkan 3 Maret nanti kelar, semua sudah tersalurkan,” ucapnya dikutip dari Antara, Senin, 28 Februari 2022.

Reporter: M Fatwa
Editor: Ahmad