SimpulRakyat.co.id – Bencana atau peristiwa akan terus terjadi sepanjang sejarah kehidupan manusia. Dengannya media akan terus hidup karena wartawan akan menjalankan tugas pemberitaan yang tiada henti. Hari ini, besok atau lusa bumi dan kehidupan manusia berikut semua mahluk di kulit bumi akan berhadapan dengan resiko apa saja, untuk itu kabar akan menemui pembaca, memberitakan dan menimbulkan sikap.
Ashadi Siregar dalam buku; “Penjaga Akal Sehat” memberikan pengertian jurnalisme empati adalah “upaya untuk memberikan dorongan, membangun optimisme hidup, dan dukungan bahwa hidup seberapa pun panjangnya adalah karunia”. Karunia untuk manusia dan mahluk hidup harus menerimanya, dalam bentuk apapun. Keterbatasan akal dan hati menyebabkan manusia hanya kenal satu makna, yakni ‘kegembiraan’ dilain situasi menolaknya karena ‘jauh’ dari harapan dan kemampuan menerima.
Jurnalisme empati berkembang sejak era 1990, sesungguhnya memiliki kaitan dan fondasi dengan fungsi pers atau media yang diberi amanah sebagai “penjaga kepentingan publik”. Interpretasi selalu berkait kekuatan pemahaman, kedalaman pengetahuan dan kecemerlangan hati menangkap ‘cahaya’ akan beban yang dihadapi publik, juga kelompok dan pribadi. Wartawan yang punya ‘hati nurani’ akan menjadi pembawa kabar yang menggugah rasa, bukan sekadar penyampai pesan. Hal inilah yang menuntut seorang wartawan memiliki rasa dan nilai pada apa yang dilihat dan dilaporkannya.
Masyarakat pers Indonesia diminta mengembangkan jurnalisme empati di tengah-tengah bencana alam yang melanda berbagai wilayah di Tanah Air. Jurnalisme empati itu mendorong orang untuk membantu korban bencana. Fakta memang penting dan harus diinformasikan kepada masyarakat, namun pers juga harus mengedukasi masyarakat. “Jadi, fakta itu penting. Akan tetapi, edukasi juga penting dan dibutuhkan masyarakat,” kata anggota Dewan Pers, Anthonius Jimmy Silalahi. Hanya wartawan yang punya ‘perasaan’ yang akan mampu mengemban amanah ini.
Seorang wartawan dituntut bukan hanya ‘terjun’ di area bencana, melaporkan peristiwa dan mendeskripsi situasi, dengan tujuan pembaca atau pemirsa medianya akan melonjak tajam. Juga bukan sekadar liputan yang membuat bonus atau honor berita menjadi melimpah. Wartawan dituntut memiliki kepekaan sosial, rasa kemanusiaan, kecintaan pada mahluk, dan alam sekitar. Saya bersyukur pernah menjadi peserta workshop yang diselenggarakan USAID-LKBN Antara, mereka mengajarkan bagaimana wartawan hidup di area bencana dan konflik.
Penulis: Zulkarnain Hamson (Direktur Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jurnalis Online Indonesia).


Tinggalkan Balasan