SimpulRakyat.co.id – Ketika mendengar informasi tekait kondisi SMK Negeri 1 Biak yang membutuhkan perhatian serius dari seorang sahabat karibnya, Mufti Makarimal Ahlaq Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan Hak Asasi Manusia (HAM) Kantor Presiden Republik Indonesia yang sedang bertugas di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, langsung mengambil keputusan untuk mengunjungi sekolah dimaksud.
Jumat, 03 Desember 2021, tepat jam 07.30 Waktu Papua, suasana SMK Negeri 1 Biak dikagetkan dengan kehadiran Mufti Makarimal Ahlaq didampingi kepala sekolah Yesaya Ap, S. Pd setelah turun dari mobil yang ditumpangi, langsung meninjau seluruh ruangan yang bertebaran di areal seluas 50.000 M² sebelum menemui para guru di ruang pertemuan yang sedang menunggu.
Prof Dr Wardiman Djojonegoro dan Pendidikan di Desa
Ketika meresmikan gedung SMEA Negeri Biak kala itu di tahun 1993, wartawan Tifa Papua Paulus Laratmase mewawancarai Menteri Pendidikan kala itu, “Mengapa bapak Menteri Pendidikan harus membangun sekolah termegah dengan gedung-gedung bersebaran di areal yang begitu luas di lokasi yang jauh dari pusat kota?”
Jawab Prof Wardiman, “Hal pertama yang harus saya katakan adalah warga negara Irian Jaya adalah warga negara Indonesia sama seperti saudaranya di Indonesia bagian tengah dan Indonesia bagian barat atau mereka yang sekolah di kota, namun mereka yang di desa-desa terpencil sekalipun berhak mendapatkan pendidikan dan fasilita yang sama. Untuk itu sarana dan prasaran pendidikan harus sama sehingga output siswanya memiliki kesamaan kualitas seperti saudaranya di wilayah lain.”
“Kedua Kabupaten Biak Numfor memiliki indicator tersendiri terkait Index Pembangunan Manusia dalam dunia pendidikan. Banyak pemikir rasional di Irian Jaya adalah putera dan puteri terbaik dari Biak. Demikian peradaban manusia dimulai dari Kabupaten Biak Numfor dan itu sebabnya SMEA Negeri Biak adalah sekolah model pertama yang didirikan di Irian jaya sebagai pilot projek yang nantinya dikembangkan di daerah lain di Irian jaya.”
”Mimpi Besar Yang Terhenti”
Memulai pertemuan dengan para guru, Tenaga Ahli Utama Kedeputian V bidang Politik, hukum, Pertahanan, Keamanan dan hak Asasi Manusia, Mufti Makarimal Ahlaq menekankan tujuan yang ditandatanganinya Inpres No.9 Tahun 2020, Tentang Papua Sebagai Wilayah Dengan Perhatian Khusus.
Mimpi besar membangun Indonesia, harus menyeluruh dari Sabang sampai Merauke. Fakta terdapat disparitas pembangunan di Indonesia Timur termasuk Papua menjadi alasan mendasar dikeluarkannya Inpres Nomor 9 Tahnun 2020. Mimpi besar juga termasuk di dalamnya Pembangunan Sumber Daya Manusia di Papua yang secara tegas dijabarkan dalam pasal per pasal Inpres dimaksud.
Penampilan fisik gedung SMK Negeri 1 Biak dengan segala fasilitas yang 28 tahun lalu dibangun oleh Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, sebagian besar telah rusak dimakan usia alias tidak ter-up date lagi. Kerusakan ruang belajar siswa, ruang laboratorium bahasa, laboratorium computer, sarana olah raga, drum band dan hampir seluruh gedung tidak terawat dengan baik. Itu Sebabnya menurut Mufti Makarimal Ahlak, jangan sampai Mimpi Besar Presiden Jokowi dan Pendiri SMK Negeri 1 Prof. Wardiman menjadi “Mimpi Yang Terhenti.”
Tujuan Inpres Nomor 9 Tahun 2020 yang salah satunya adalah bidang sumber daya manusia, maka SMK Negeri 1 Biak perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah dalam rangka pembentukan kharakter generasi muda anak bangsa dan pengambangan intelektualnya. Mereduksi pendapat Prof Wardiman, Mufti Makarimal Ahlak menegaskan, “Generiasi muda Biak Numfor di pedesaan sekalipun berhak mendapatkan pendidikan yang layak termasuk sarana dan prasarana pendidikan yang baik dan layak dalam visi masa depannya yang baik.
SMK Negeri 1 Biak “Center of Excellent
Dengan melihat sarana dan prasarana pendidikan dari ruangan ke ruangan mengelilingi SMK Negeri 1 Biak, di hadapan para guru, Mufti Makarimal Ahlak dari gesture tubuh tampak sedih. Namun dengan tegas mengatakan, “Para Pendiri sekolah ini memiliki visi mulia, ingin menjadikan SMK Negeri 1 Centere of Excellent di Kabupaten Biak Numfor. Sejatinya desentralisasi pemeritahan tidak mengurangi perhatian pemerintah daerah dalam mempertahankan visi mulia dari para penggagas SMK di desa. Justeru dari desalah konsep link and match dari visi mulia didirikannya sekolah ini sebagai role model bagi sekolah-sekolah lain untuk berlomba memajukan dunia pendidikan di Provinsi Papua dan Papua Barat.
Penutup
Ada fakta mengejutkan mengenai keberadaan sekolah menengah kejuruan (SMK). Angka pengangguran dari lulusan SMK ternyata lebih besar bila dibandingkan dengan tamatan dari sekolah menengah atas (SMA). Pemerintah dan seluruh stakeholder harus segera mencari solusi jitu agar keberadaan SMK benar-benar bisa memberikan sumbangsih yang baik bagi dunia industri seperti tujuan awal pembentukannya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sebanyak 7 juta orang menganggur hingga Agustus 2018. Lulusan SMK ternyata mendominasi jumlah pengangguran tersebut, yakni sebesar 11,24%. Lulusan SMA hanya sebesar 7,95%. Tentunya fenomena ini sangat memprihatinkan. Karena ada banyak keunggulan yang sebenarnya dimiliki lulusan SMK daripada lulusan SMA.
Mungkin saja disebabkan oleh minimnya sarana dan prasaran atau fasilitas penunjang yang mendorong para guru dan siswa link and match dalam proses pembelajaran di sekolah seperti dialami SMK Negeri 1 Biak.
Penulis: Paulus Laratmase


Tinggalkan Balasan