SimpulRakyat.co.id, Pangkep – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Drs Anwar A Recca menggelar konsultasi publik sistem pertanian organik di Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini berlangsung di kantor Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Jl Cempaka, Kelurahan Minasatene, Sabtu (4/9).
Bertindak sebagai moderator, Andi Baso Kemal, dan menampilkan para narasumber Dr Rahman Syamsudin dan dr Jamilah.
Sementara bertindak sebagai Tim perumus adalah Anwar Ali, Muhammad Amiruddin, Ketua DPC PKB Pangkep Drs Abdurrahman Assegaf, Kabid Holtikultura Dinas Pertanian Pangkep Andi Nasrun, Suwardi, dan notulen Ina Yuliana Dewi.
Kegiatan yang sangat dinamis ini berlangsung dalam protokoler kesehatan sangat ketat, diikuti para peserta yang terdiri dari para penyuluh Pertanian para pengurus serta anggota kelompok tani serta seluruh stakeholder terkait di bidang pertanian.
Ketua DPC PKB Kabupaten Pangkep Drs Abd Rahman Assegaf menguraikan tentang selayang pandang potensi pertanian Kabupaten.
“Pangkep dulu pernah berjaya, hari ini hilang, potensi yang sangat diandalkan terkenal dengan beras mandi (Ace 8), bersanding dengan Pangkep sebagai daerah ikan banden,” kata Abd Rahman Assegaf.
Masih di tempat yang sama, Dr Rahman Syamsuddin mengatakan, DPRD sudah saatnya cara-cara konvensional bukan harus ditinggalkan, tetapi menempuh yang lebih bijak, menerapkan cara-cara regulasi yang lebih baik dan menguntungkan.
“Saat ini pertanian kita masih banyak yang menggunakan cara-cara konvensional yang pada saatnya nanti saat tanah pertanian membutuhkan pupuk akan jadi masalah di kemudian hari. Sistem dan proses pertanian organik adalah metode yang digunakan secara biologi dari insektisida, menjadi bahan pupuk alami,” imbuh dia.
Sedangkan menurut dokter Jamilah, produk organik memiliki efek positif terhadap konsumen dan produsen (para petani), dimana pertanian konvensional bertolakbelakang yang mengutamakan produksi yang berdampak kepada lingkungan.
“Kita yang mengkonsumsinya saja berefek kepada kesehatan, apalagi mereka yang berkecimpung di bidang itu,” kata Jamilah.
Cemaran kerusakan lingkungan itu, kata Jamilah, nanti berdampak kepada masyarakat.
“Kenapa diterapkan di Bali karena di sana daerah wisata yang kesadarannya sudah tinggi menggunakan produk makanan yang sehat dan aman,” pungkas dia.
Sementara itu, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pangkep, Andi Nasrun menyampaikan organik menuju sehat adalah sesuatu yang tidak tersentuh zat-zat yang merugikan.
“Kalau penggunaan pestisida orang yang lewat di situ bisa tercemar. Di Jawa Barat misalnya, sudah sangat dapat dibedakan mana organik dan anorganik, Sama halnya di Bali, agrowisata ada beberapa tempat yang tidak menjual lagi hasil produksi pertanian, tetapi dia mengundang pembeli untuk datang ke sana,” terang Nasrun.
Lanjut dikatakan, kebetulan angka data stunting di Pangkep cukup tinggi, maka untuk stunting ini, setiap bayi harus dijamin 1000 hari bahkan sebelum lahir, bahkan pengantin harus mulai diberi makanan bergizi.
“Yang justru menjadi tanda tanya di beberapa tempat, mereka tidak konsumsi produksinya, mereka lebih memilih beli di pasar karena lebih memilih harga. Insya Allah kalau ini diterapkan Pangkep kedepan bisa bebas stunting dan bebas dari kategori kabupaten miskin,” tambah dia.
Dikatakan pula, sekarang ini ada pendapat, kalau tanaman ingin diperbaiki maka yang perlu diperhatikan adalah akar tanam tersebut.
“Harus dicarikan pupuk dari pembusukan, pembusukan akarnya juga, kalau daunnya ya dari daunnya juga, demikian juga dengan batang dari batangnya juga,” pungkas Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Pangkep ini.
Reporter: Sukma Paramita
Editor: Sukma Paramita


Tinggalkan Balasan