SimpulRakyat.co.id, Luwu – Pupuk merupakan unsur penting dalam menunjang keberhasilan produksi pertanian, setelah racun dan cara pengolahan lainnya.
Awalnya, teknik bertani menggunakan pupuk organik pernah menjadi cara yang efektif, namun dengan adanya perkembangan teknologi, di masa modern, petani berpindah menggunakan pupuk kimia karena alasan produksi yang jauh lebih tinggi dan proses pengerjaan yang lebih mudah.
Namun saat ini, harga pupuk kimia yang selangit justru menyulitkan petani dalam mendapatkan produksi maksimal.
Ketua Kelompok Tani Padang Sagena, Desa Libani, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Darwis mengungkapkan jika kondisi tersebut terus terjadi hingga periode-periode berikutnya, jelas akan menurunkan produksi pertanian di Luwu. Pasalnya, petani akan berusaha menyeimbangkan neraca modal dan keuntungan dalam bertani.
“Pupuk sekarang kan mahal, jadi kalau begini terus, kita tidak bisa paksakan beli, memang kalau kita pupuk ada kemungkinan lebih banyak buahnya, tapi kan masih ada faktor lain, siapa tahu juga kita gunakan semua uang tabungan untuk beli pupuk lantas ada hama, kan kita terancam gagal panen. Jadi satu-satunya cara supaya ada persiapan dana membeli racun hama, ya mengurangi penggunaan pupuk, jadi sudah jelas produksi kurang, tapi setidaknya lebih baik sedikit daripada tidak ada sama sekali,” tutur dia saat disambangi SimpulRakyat.co.id, Jumat (13/8).
Lanjut dikatakan, jika itu terus terjadi hingga dua periode panen kedepan, kemungkinan teknik pertanian akan dirubahnya. Ia tidak akan lagi menggunakan pupuk kimia, dan beranjak menggunakan pupuk organik.
“Kalau begini terus, ada kemungkinan kedepan kita tidak pakai lagi pupuk kimia. Kalau biasanya kita menanam dua kali dalam setahun, kedepannya kita menanam padi satu kali saja dalam setahun, di antara waktu tanam itu, kita gunakan sawah untuk budidayakan ikan, kita lepas ikan di sawah, supaya unsur hara di tanah itu ada, kembali alami, baru kita menanam di periode berikutnya,” tambah Darwis.
Keresahan yang sama juga dialami petani di Desa Binturu, diungkapkan La Baratang, petani cengkeh, saat ditemui di lahan pertaniannya.
Menurutnya di tahun ini ia tidak lagi melakukan pemupukan karena alasan harga pupuk non subsidi yang tidak terjangkau dengan kondisi ekonomi saat ini.
Sehingga di tahun berikutnya, ia memperkirakan produksi cengkehnya akan menurun drastis.
“Saat ini pupuk subsidi terbatas, kita mau beli tapi habis, sedangkan pupuk biasa harganya tidak terjangkau karena mahal sekali, kita tidak tahu permainannya seperti apa, tapi kalau saya lebih baik hilangkan saja pupuk subsidi, asalkan pupuk biasa itu harganya masuk akal. Kalau sekarang seakan-akan ini barang cuman disubsidi silangakan,” harapnya.
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, A Albaruddin melempar tanggung jawab kelangkaan pupuk kepada 3 distributor pupuk di Luwu.
Kelangkaan pupuk dianggapnya persoalan teknis saja. Selain itu, Albaruddin membenarkan adanya pengurangan jumlah pupuk subsidi. Itu disebutnya sebagai upaya efisiensi pupuk sesuai rekomendasi litbang.
“Kalau persoalan pupuk itu sudah clear yah, langkah pupuk itu terkait dengan distributor, pengecer, itu urusan untuk ketersediaannya. Kita di dinas hanya untuk bagaimana pengawasan terhadap penyaluran pupuk. Kita punya komisi pengawasan pupuk dan pestisida (KP3) untuk pupuk bersubsidi,” ungkapnya.
Reporter: M Fatwa
Editor: Sukma Paramita


Tinggalkan Balasan