SimpulRakyat.co.id, Luwu – Memulai usaha tidaklah selamanya harus dengan modal besar. Kebanyakan orang kadang enggan mulai berusaha dengan alasan tidak memiliki modal awal untuk menjalankan usahanya.

Padahal, sejumlah pengusaha sukses baik pada tingkat mancanegara maupun pengusaha di Nusantara telah membuktikan jika dalam membangun usaha tidak mesti dengan modal besar.

Bahkan, sejumlah pengusaha yang telah berhasil meraih omset jutaan bahkan triliunan, justru memulai usahanya hanya dengan modal barang bekas dan potensi alam sekitar.

Misalnya, perusahaan Raksasa Google, saat ini dikenal sebagai salahsatu perusahaan terbesar di Dunia. Awal dari Google ternyata dirintis dari sebuah garasi rumah.

Google didirikan oleh dua orang mahasiswa Universitas Stanford yang melakukan eksperimen dan menciptakan alat-alat dan software terkait dengan internet di garasi tersebut. Disitulah awal mula Google tercipta.

Ternyata cerita mirip dengan perusahan Google tersebut, tampak tercermin pada sebuah usaha pas bunga yang dirintis seorang guru Honorer, Darmawati Hasmawi, yang beralamatkan di Desa Komba Selatan, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu.

Menggunakan ruangan kosong yang ada di belakang rumahnya, memanfaatkan rang bekas jendela yang ia miliki dan melihat potensi alam yang ada di sekitarnya, ia berhasil membuat pas bunga sehingga mampu meraup omset empat belas juta rupiah dalam sebulannya.

Menurut Darmawati, usahanya tersebut bermula saat sang suami tidak lagi mampu melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang pelaut karena terhambat Virus Corona atau Covid-19 yang melanda penjuru negri bahkan dunia pada bulan dua 2020 lalu.

Apalagi, setelah sebulan tinggal dirumah, pemerintah Indonesia kala itu melakukan Lock Down, tepat sebulan setelahnya yakni pada bulan tiga. Sehingga, tidak banyak pilihan pekerjaan yang dapat dilakukannya.

Ia sempat menghabiskan beberapa waktu di rumah dan tidak menghasilkan sepeser pun rupiah, Darmawati bersama sang suami lantas memutar otak sembari melihat potensi alam sekitar, lalu mendiskusikan dengan sejumlah kawan lama terkait usaha apa yang dapat dijalankannya.

Darmawati kemudian mendapatkan saran dari rekan pelaut sang suami untuk memulai usaha pas bunga anggrek dari sabut kelapa. Pasalnya, di pulau Jawa produk tersebut sangat diminati, bahkan pengirimannya mencapai pulau Sulawesi.

Sedangkan saat itu dipantau di market place salahsatu media jual beli online, belum ada yang memproduksi pas bunga tersebut, sehingga peluang pemasarannya kala itu semakin terbuka luas. Melihat potensi sumber alam yang seakan telah menyiapkan bahan baku sabut kelapa yang melimpah semakin memantapkan niatnya untuk memulai usahanya.

“Bapak (suami) saya sebenarnya seorang pelaut, waktu bulan dua kemarin dia turun dari kapal karena kan tujuan kapalnya ke China waktu itu, sudah mulai ada Corona. Setelah tinggal di rumah satu bulan, ternyata Corona mulai masuk di Indonesia itu sekitar bulan tiga. Jadi Bapak tinggal saja dirumah tidak ada pemasukan, pengeluaran terus. Kemudian saya tanya ke bapak apa yang bagus kita buat ini, supaya ada yang bisa jadi pemasukan. Jadi kita berfikir terus, cari inovasi, minta pendapat sama teman-teman, liat potensi alam sekitar, sehingga kemudian dengan proses itu kita memulai membuat Pas Bunga dari sabut Kelapa,” cerita Darmawati saat ditemui di Kediamannya.

Kecintaan Darmawati akan tanaman hias sehingga kerap menghabiskan uang untuk membeli pas bunga menjadi alasan awal sang suami merilis pas bunga pertamanya. Membuat pas bunga dengan bentuk tabung dengan bahan dasar Sabut kelapa yang dililit dengan rang besi menjadi kejutan bagi Darmawati.

Kreatifitas suaminya tersebut kemudian membawanya untuk memfoto dan mempostingnya di social media Facebook. Meski dengan bentuk yang masih dianggapnya biasa saja, serta pengerjaannya belum serapi saat ini, tampaknya Pas Bunga tersebut lantas meraih simpati kalangan emak-emak penggiat social media.

Melalui postidngan di Facebook tersebut, pesanan kemudian mulai berdatangan. Ada yang awalnya memesan satu pcs, lalu menambah empat pcs. Ada pula yang langsung memesan lima hingga sepuluh item. Sehingga jika ditotalkan, omset Darmawati di bulan Pertama mencapai empat belas juta rupiah.

Bagi Darmawati yang kini memiliki Sembilan karyawan, Facebook yang saat itu awalnya hanya sebagai wadah komunikasi, tempat berbagi kabar dengan teman jauh, lantas berubah fungsi sebagai wadah yang empuk untuk memasarkan produknya.

Awalnya, Darmawati hanya memproduksi pas bunga berbentuk tabung, dengan ukuran diameter 8 cm dengan tinggi 13 cm, dibandrol dengan harga lima belas ribu rupiah per itemnya.

Namun, hingga kini inovasinya berlanjut, produk dibuat variatif baik pada bentuk pas bunga maupun pada ukurannya. Ukuran terbesar yang pernah ia buat dengan diameter 30 cm. dan tinggi 30 cm. harga item terbesarnya tersebut dipatok dengan harga dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Jika awalnya hanya digunakan sebagai Pas Bunga, kini produk sabut kelapa Darmawati mulai merambah sehinga dapat difungsikan untuk kegunaan lain, misalnya erang-erang, keset, nampan, dan lain-lain. Bentuk, ukuran dan fungsi juga kini dapat dibuat sesuai permintaan konsumen.

Bukan hanya konsumen local, produk yang dibuat Darmawati bersama sang suami berhasil menembus pasar nasional. Konsumen tersebut datang dari pulau Jawa, ada pula dari pulau Kalimantan. Beberapa lainnya datang dari Indonesia bagian timur. Karena bahan baku yang mudah didapatkan sehingga membuat Harga produk Darmawati dijual dengan harga rendah menjadi salah satu alasan konsumen menggemari produk tangan Darmawati.

Sayangnya, transaksi kadang terkendala pada proses pendistribusian barang ke luar pulau Sulawesi. Harga yang ditawarkan jasa pengiriman barang kadang melebihi harga satuan produk, sehingga menjadi pertimbangan kedua konsumen. Misalnya, produk yang dikirim ke pulau Jawa, beberapa waktu lalu menghabiskan biaya hingga ratusan ribu rupiah.

Darmawati kemudian berharap kedepannya dapat memiliki rekan kerja baik dari pihak swasta maupun pemerintah, sehingga tidak lagi terkendala pada jalur distribusinya serta dapat membantu Darmawati mengadakan mesin perajut sabut kelapa.

Selain di Facebook, Produk kerajinan tangan Darmawati, dapat ditemukan di pusat Industri Kecil Menengah (IKM) Barambing, Luwu. Namun, pemasaran di lokasi tersebut dianggapnya kurang maksimal, hanya sedikit barang yang terjual tiap minggunya, sehingga modal dan barang disebutnya menumpuk. Pasalnya harga barang yang dijual disna, itu dapat diterima setelah barang telah laku dijual oleh pengelola.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kabupaten Luwu, Andi Fatahillah membenarkan jika masih terdapat beberapa kekurangan di IKM Barimbing, karena memang masih terbilang baru, umurnya yang belum genap setahun membuatnya masih terus berproses.

Kekurangan sumber daya juga menjadi alasan kurang maksimalnya penjualan di IKM Barimbing. Dengan demikian menurut Fatahillah, pihaknya akan terus berbenah diri, di tahun ini ia telah menyiapkan sejumlah trobosan kaitannya dengan pembenahan IKM Barimbing sehingga nantinya dapat lebih maksimal membantu pengusaha kecil memasarkan produknya. Diantaranya perbaikan fasilitas seperti Air Bersih, kemudian fasilitas penunjang lainnya.

Pihakya juga tengah menjalin komunikasi dengan dinas perhubungan kabupaten Luwu, sehingga Barimbing bisa menjadi lokasi cek point mobil angkutan seperti Bus Pariwisata dan angkutan daerah lainnya. Dengan demikian akan semakin membuka peluang pasar produk yang dipamerkan di Barimbing.

“Sementara kita menyiapkan regulasi dan payung hukumnya, agar kita tidak terkendala kedepannya jika payung hukumnya sudah jelas,” pungkas Fatahillah.