Prof Arlin Adam Dorong Integrasi Peran Stakeholders dalam Program Stunting di Sulsel

  • Whatsapp

SimpulRakyat.co.id, Bone – Program yang dicanangkan oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah bernama Gammara’NA (Gerakan Masyarakat Mencegah Stunting) sudah berlangsung selama 3 Bulan terakhir.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan evaluasi program yang dilaksanakan di Hotel Helios, Jl Langsat No 88, Jeppee, Tanete Riattang Bar, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Rabu kemarin (14/10/2020).

Baca Juga

Di Sulawesi Selatan, angka stunting masih berkisar 40% dan ditargetkan pada tahun 2023 angkanya bisa mencapai 14%, maka inovasi program Gammara’NA dalam bentuk pendampingan keluarga 1000 HPK oleh konselor gizi dengan lokus desa-desa yang memiliki angka stunting tertinggi.

Para konselor gizi pendamping desa tinggal di desa lokus selama 6 bulan untuk memberikan intervensi perubahan perilaku bagi keluarga 1000 HPK melalui berbagai kegiatan.

Kegiatan yang dimaksud, seperti kunjungan rumah, penyuluhan, diskusi warga, koordinasi layanan kesehatan dasar, dan berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran keluarga dalam memelihara kehamilan dan kesehatan anak usia 2 tahun, sehingga diharapkan anak yang dilahirkan tidak mengalami stunting.

Pertemuan ini dibuka oleh Bupati Bone, diwakili Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bone dan dihadiri Kepala Bidang Kesmas Dinkes Provinsi Sulsel H Moh Husni Thamrin bersama dengan tim ahli.

Prof Arlin Adam yang juga merupakan Guru Besar Bidang Promosi Kesehatan Masyarakat mengatakan, tantangan-tantangan yang disampaikan oleh para konselor gizi di desa dipengaruhi oleh kurangnya keterlibatan para pemangku kepentingan dalam program pencegahan stunting.

Khususnya kelembagaan yang ada di tingkat desa, menangani stunting dibutuhkan keterlibatan sektor non-kesehatan dengan porsi 70% karena penyebabnya bersifat multi-dimensi seperti akses pangan, sanitasi, PAUD, perkawinan usia dini, mitos atau kepercayaan, dan lainnya, sementara sektor kesehatan hanya memiliki porsi 30%.

“Performance sementara program Gammara’NA di lapangan bersifat eksklusif karena hanya sektor kesehatan yang lebih dominan, padahal logika penanggulangan berdasarkan penyebab semestinya sektor non-kesehatan yang harus mengambil peran lebih banyak,”

“Perlu dire-formulasi strategi pendampingan dengan melibatkan secara aktif para pemangku kepentingan tingkat desa melalui pembentukan forum stakeholders penanggulangan stunting,” kata Arlin Saleh.

Hasil pertemuan monitoring evaluasi pertengahan ini digunakan sebagai bahan dalam menyempurnakan model pendampingan konselor gizi agar replikasinya di kabupaten lain yang direncanakan pada tahun depan sebanyak 9 kabupaten kota menjadi lebih baik lagi. (M Arif Alif)

Disarankan Untuk Anda :