SimpulRakyat.co.id, OPINI – Ada satu pertanyaan yang harus selalu kita ajukan: ketika ekonomi Bulukumba semakin besar, apakah pengusaha dan perusahaan di daerah ini juga semakin kuat?

Keberhasilan ekonomi daerah tidak cukup diukur dari PDRB atau banyaknya proyek pembangunan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu melahirkan lebih banyak perusahaan, investasi produktif, pekerjaan yang lebih baik, serta nilai tambah yang benar-benar tinggal dan berkembang di Bulukumba.

Data BPS menunjukkan perekonomian Bulukumba terus bertumbuh. Namun angka pertumbuhan bukan sekadar sesuatu yang harus dibanggakan. Ia harus menjadi pertanyaan: seberapa besar pertumbuhan itu melahirkan perusahaan baru? Seberapa banyak pengusaha lokal naik kelas? Dan seberapa besar nilai tambah yang sebenarnya menetap di daerah?

Pada Agustus 2025, terdapat 269.762 orang dalam angkatan kerja Bulukumba, di mana 264.045 orang telah bekerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja mencapai 75,16 persen dan Tingkat Pengangguran Terbuka 2,12 persen.

Sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 131.724 pekerja, disusul sektor jasa 99.024 pekerja, dan industri 33.297 pekerja. Artinya, ekonomi Bulukumba sudah menghidupi ratusan ribu orang. Namun pertanyaannya: apakah pekerjaan tersebut semakin produktif dan pendapatan masyarakat meningkat?

Di sinilah peran perusahaan menjadi sangat strategis. Perusahaan bukan sekadar tempat bekerja, melainkan instrumen untuk mengubah modal, teknologi, SDM, dan bahan baku menjadi produksi, nilai tambah, serta pendapatan. Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak perusahaan yang tumbuh dan mampu menciptakan pekerjaan produktif.

Bulukumba tidak kekurangan orang yang berusaha. Kita memiliki pedagang, petani, nelayan, pelaku UMKM, kontraktor, dan berbagai usaha keluarga. Persoalannya belum cukup banyak usaha yang tumbuh menjadi bisnis, dan belum cukup banyak bisnis yang berkembang menjadi perusahaan.

UMKM memang penting, tetapi kita tidak boleh berhenti di sana. Usaha yang sudah memiliki pasar harus diberi ruang berkembang hingga akhirnya tumbuh menjadi perusahaan. Satu perusahaan yang tumbuh dapat menciptakan rantai ekonomi baru di sekitarnya. Karena itu, agenda kita bukan sekadar menambah jumlah usaha, melainkan membesarkan usaha yang sudah ada.

Namun bisnis tidak tumbuh di ruang kosong. Pengusaha membutuhkan infrastruktur, kepastian lahan dan perizinan, pembiayaan, tenaga kerja terampil, serta akses pasar. Pertanyaannya: apakah ekosistemnya sudah memungkinkan mereka berkembang?

Pemerintah tidak harus menjadi pelaku bisnis, tetapi harus menjadi pembuka jalan dengan menciptakan kepastian, menyederhanakan regulasi, mempercepat pelayanan, dan menyediakan infrastruktur. Sementara dunia usaha harus menjawabnya dengan keberanian mengambil risiko dan membangun perusahaan yang sehat. Keberhasilan pembangunan adalah hasil kerja sama dan tanggung jawab bersama.

Fondasi sinergi sebenarnya sudah ada. Pada 4 Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Bulukumba, KADIN Kabupaten Bulukumba, dan PT Pinisi Citra Bulukumba (Perseroda) menandatangani Kesepakatan Bersama untuk memperkuat pengembangan ekonomi daerah dan investasi. Penandatanganan berlangsung di halaman Kantor Bupati Bulukumba. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf, Ketua KADIN Bulukumba Syafruddin Mualla, dan Direktur Utama PT Pinisi Citra Bulukumba (Perseroda) Zulkifli Saiye.

Ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan pariwisata, pertanian, perikanan, industri, pemberdayaan UMKM, fasilitasi investasi, peningkatan kapasitas SDM, pengelolaan aset daerah, serta kolaborasi dengan BUMN dan perusahaan dalam maupun luar negeri. Namun kesepakatan itu hanyalah titik awal. MoU harus berubah menjadi program, program menjadi proyek, proyek menjadi investasi, investasi menghasilkan produksi, dan produksi menciptakan lapangan kerja. Ekonomi tidak tumbuh karena kesepakatan di atas kertas, melainkan ketika kesepakatan itu melahirkan investasi dan pendapatan masyarakat.

Bulukumba harus tetap terbuka terhadap investasi. Namun cara mengukur keberhasilan tidak boleh hanya berapa rupiah modal yang masuk. Yang lebih penting: berapa tenaga kerja lokal terserap? Berapa perusahaan lokal menjadi pemasok? Berapa UMKM masuk rantai pasok? Dan berapa nilai tambah yang akhirnya tinggal di Bulukumba?

Investasi yang benar-benar membangun ekonomi daerah adalah investasi yang menjadikan investor besar sebagai lokomotif, bukan pulau ekonomi yang berdiri sendiri, sehingga muncul peluang bagi kontraktor, pemasok, distributor, dan berbagai usaha pendukung lokal.

UMKM tetap sangat penting dan tidak dipertentangkan dengan perusahaan. Keduanya justru saling menguatkan. Agenda kita bukan sekadar mencetak UMKM baru, melainkan membesarkan UMKM yang sudah berpotensi, membantunya naik kelas melalui jalur: UMKM → Bisnis → Perusahaan → Industri.

Namun pengusaha juga harus berubah. Tidak bisa hanya menuntut dukungan jika kualitas produk, pembukuan, dan kapasitas produksi belum siap. Pengusaha Bulukumba harus berani membangun sistem, menggunakan teknologi, memperkuat modal, meningkatkan kualitas SDM, dan membangun perusahaan. Perusahaan besar juga bisa lahir dari Bulukumba jika kita berani berpikir dalam skala yang lebih besar.

Pada akhirnya, PDRB yang besar belum tentu berarti masyarakat sejahtera. Pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi pekerjaan yang lebih produktif, pendapatan yang lebih tinggi, serta perusahaan yang lebih kuat. Diperlukan rantai ekonomi yang utuh: potensi, investasi, perusahaan, produksi, rantai pasok, lapangan kerja, pendapatan, hingga kesejahteraan.

Kemandirian ekonomi bukan berarti menutup pintu bagi investor luar. Sebaliknya, kita harus terbuka, namun memastikan ketika modal masuk, kapasitas ekonomi lokal juga ikut tumbuh sehingga semakin banyak nilai tambah yang menetap dan berkembang di Bulukumba.

Jangan hanya mengejar angka PDRB yang semakin besar. Kejar pula ekonomi yang semakin produktif dan masyarakat yang semakin sejahtera. Pemerintah membuka jalan, KADIN memperkuat konektivitas dunia usaha, Perseroda bekerja profesional, investor membawa modal dan teknologi, UMKM naik kelas, dan pengusaha lokal berani menjadi penggerak ekonomi daerah.

Tujuan akhir pembangunan bukan angka statistik, melainkan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Jangan biarkan pengusaha Bulukumba berjuang sendiri. Bangun ekosistemnya, perkuat perusahaannya, datangkan investasinya, kembangkan industrinya, dan pastikan nilai tambah yang lahir dari Bulukumba tetap berkembang di Bulukumba. Kemandirian ekonomi lahir ketika pemerintah dan dunia usaha bergerak bersama membangun perusahaan yang kuat, investasi yang produktif, industri yang tumbuh, dan masyarakat yang semakin sejahtera.

Oleh: Syafruddin Mualla

CEO Mualla Group | Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan

Senin 7-9-2026