Pandemi dan Bayangan Wajah New Normal

  • Whatsapp
Nursiah

SimpulRakyat.co.id, OPINI – Virus corona atau yang dikenal dengan Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menjangkiti banyak negara, tak terkecuali negara-negara di Asia tenggara, termasuk pula Indonesia.

Indonesia sendiri sebenarnya telah diperingatkan oleh peneliti asal Universitas Harvard terkait infeksi virus corona yang kemungkinan sudah masuk ke Indonesia pada Januari. Peringatan ini kemudian ‘diremehkan’ oleh menteri Kesehatan RI, dan kita tahu bahwa segala petaka dimulai dari sini.

Baca Juga

Tepat 2 Maret, Presiden mengumumkan kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia yang mengharuskan pemerintah mengambil tindakan dengan menerapkan social distancing dan juga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna memutus rantai penyebaran virus ini.

Akibatnya, seluruh kegiatan masyarakat seperti sekolah, bekerja, dan sebagainya hanya bisa dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan media digital sebagai satu-satunya sarana komunikasi.

Namun, tidak ada yang tahu pasti sampai kapan dan berapa lama ini akan terjadi. Secara tidak langsung Covid-19 ini mengubah tatanan masyarakat dan membentuk semacam kenormalan baru atau yang kita labeli dengan New Normal.

New Normal sendiri adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.

Jadi orang-orang sudah terbiasa dengan hal-hal yang mengharuskan mereka menggunakan media digital untuk berkomunikasi dan menganggap itu adalah sebuah kenormalan.

Jadi berbagai kegiatan dari rumah dengan memanfaatkan alat komunikasi digital sekarang telah dianggap sebagai hal yang normal.

Sejak menyebarnya Covid-19 ke berbagai negara, peristiwa ini memberikan dampak yang sangat besar, termasuk juga mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam berkomunikasi.

Komunikasi yang pada umumnya dilakukan oleh orang-orang secara langsung dan tanpa perantara, kini harus dilakukan sepenuhnya melalui media digital.

Hal ini merupakan dampak pemberlakuan PSBB guna memutus rantai penyebaran virus corona, dimana salah satu media penyebarannya adalah interaksi secara langsung˗.

Beberapa waktu lalu, kota Wuhan yang menjadi sumber pandemi Covid-19 telah membuka diri dari lockdown. Beberapa negara juga telah melonggarkan pembatasan.

Para ahli telah mewanti-wanti bahwa pandemi Covid-19 belum bisa diatasi dalam waktu singkat sampai ditemukannya vaksin Covid-19 dan diyakini bahwa dunia belum benar-benar akan pulih hingga 2022.

Maka dari itu, kita harus mempersiapkan diri untuk tetap mempertahankan prinsip social distancing.

Walaupun ketika nantinya kasus Covid-19 sudah bisa dikendalikan, namun prinsip hidup berdamai dengan kenormalan baru tetap akan berlangsung sampai benar-benar ditemukannya vaksin untuk Covid-19 ini. Kita tidak akan benar-benar bisa kembali pada situasi normal sebelum pandemi dan kita harus beradaptasi dengan realitas baru.

Penulis : Nursiah

SimpulRakyat.co.id adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis

Disarankan Untuk Anda :