SimpulRakyat.co.id – Pagi itu jam 8.30 Wita. Akhirnya kami berkumpul di dermaga Sungai Pangkajene untuk melakukan perjalanan ke pulau setelah kami janjian dengan teman-teman.
Perjalanan itu kami nikmati meski kapal mulai diayun ombak, tetapi kami tetap senang karena memang tujuan ke pulau tersebut untuk hunting foto.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 2 jam, kami pun tiba di pulau tujuan. Dan seperti biasanya, kedatangan kami disambut dengan baik, terutama oleh anak-anak perempuan karena memang biasanya saat saya berada di pulau tersebut, kami biasa berkumpul dan saling bercerita.
Tapi pagi ini, saya heran melihat Yuli (nama samaran), salah satu di antara mereka dalam kondisi murung. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya. Dia hanya diam dan tertunduk, lalu memeluk dan menangis.
Saya mencoba merangkulnya, ia belum berkata apa-apa. Saya hanya menunggunya kalau-kalau ia mau bicara.
Setelah kami istirahat dan sore pun tiba, kami berkunjung ke rumah Yuli, mengajaknya untuk foto-foto dan berharap saya bisa mengetahui apa yang terjadi. Saya melihatnya sedikit tenang, tapi Yuli masih saja tetap diam.
Akhirnya saya bersama teman-temannya berjanji untuk berkumpul di dermaga pada pukul 20.00 Wita, tepatnya setelah Isya.
Tempat diskusi di dermaga ini, kayunya sudah mulai rapuh, tapi dermaga itu menjadi tempat satu-satunya bagi warga pulau untuk berkumpul karena jaringan internetnya yang sangat kuat. Anak muda sangat senang berkumpul di sini.
Malam pun tiba dan satu persatu kami berkumpul di dermaga, saya pun memulai diskusi dan dengan beberapa candaan agar suasananya mencair.
Saya mempersilahkan satu persatu untuk bercerita seperti rutinitas kami sebelumnya ketika bertemu. Akhirnya tibalah giliran Yuli untuk bercerita.
“Kak, Yuli itu mau dinikahkan sama orangtuanya,” salah seorang teman Yuli bersuara. Ia duduk di sebelah saya.
Saya menjadi tahu apa yang telah membuat Yuli diam, sedih dan murung. Saya membiarkan Yuli bercerita.
Sambil menangis Yuli berkata, “Kakak, bagaimana cara menyampaikan ke orang tuaku kalau saya belum mau menikah, saya masih mau sekolah.”
“Memangnya yang datang melamar siapa?,” tanyaku kepada Yuli.
“Yang datang melamar keluarga dekat. Sebenarnya orangtuaku itu belum menerima karena dia mau dulu diskusi sama keluarga, terutama ke kepala desa, karena hanya kepala desa yang didengar oleh orangtuaku.”
Saya menggigil mendengarnya. Sambil menangis, Yuli kembali berucap “Bantu saya kakak, agar orang tuaku tidak menerima lamaran itu.”
Saya terus merangkulnya dan berjanji akan menyampaikan nanti pada kepala desa.
Awalnya rencana saya di pulau hanya sehari, tapi akhirnya saya putuskan untuk tetap tinggal dan tidak jadi pulang.
Esok paginya, saya memutuskan untuk tidak bicara langsung ke orangtua Yuli, namun memutuskan untuk berkujung ke rumah kepala desa. Dengan berjalan kaki, saya pun tiba di rumah kepala desa.
Saya pun masuk dan duduk di ruang tamu. Sedikit berbasa-basi saya mulai bercerita soal pemerintahan desa, program desa dan kondisi warga pulau, setelah lama dan panjang lebar kami berdiskusi, saya pun membuka pembicaraan soal lamaran Yuli. Kepala desa mengatakan ia belum tahu-menahu soal lamaran itu.
“Saya berharap pak kepala desa bisa bicara ke orangtua Yuli agar lamaran itu tidak diterima. Kasihan Yuli, masih kelas 2 SMA,” kataku kepada kepala desa.
“Kalau begitu nanti saya akan cerita ke orangtua Yuli,” jawab kepala desa.
Saya berucap terima kasih. Setelah lama kami diskusi saya pun pamit dan meninggalkan rumah kepala desa.
Keesokan harinya, saya harus kembali, dan seperti biasanya anak-anak mengantar kami sampai ke dermaga. Sebelum saya naik ke kapal yang akan mengantar kami sampai ke darat, saya kembali memeluk Yuli.
“Tenang dik, tetap semangat Insya Allah pak kepala desa yang akan bercerita ke orangtuamu.” kataku ke Yuli sembari memeluknya.
Kami pun naik ke kapal dan dengan pelan, kapal kayu yang kami tumpangi perlahan meninggalkan dermaga pulau tersebut.
Di jalan saya tak berhenti memikirkan ini. Begitu banyak anak-anak perempuan yang harus menikah dini. Keinginan untuk bersekolah besar, namun harus menikah sesuai permintaan orangtua.
Kira-kira semiggu kemudian, kabar mengejutkan itu datang juga. Saya ditelepon Yuli.
“Kak, orangtuaku tak jadi menikahkan aku kak. Syukur, alhamudilah kak.”
Suara Yuli langsung kencang, berbeda dengan pertemuan terakhir kami.
Penulis: Haniah Nia (Aktivis Perempuan)


Tinggalkan Balasan