SimpulRakyat.co.id, Luwu – Dugaan penyalahgunaan penyaluran BBM subsidi kembali mencuat di Kabupaten Luwu. Sorotan tertuju pada SPBU 75.91926 Lare-Lare, Desa Lare-Lare, Kecamatan Bua, yang diduga masih melayani kendaraan pelangsir dalam pengisian Solar bersubsidi, Selasa (21/07/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas pengisian Solar masih berlangsung. Sejumlah warga menilai penyaluran BBM subsidi lebih banyak dinikmati kendaraan pelangsir dibanding masyarakat umum. Padahal, Solar subsidi dan Pertalite diperuntukkan bagi masyarakat dan sektor yang berhak menerima subsidi negara. Dugaan praktik ini pun memunculkan keresahan warga.
Sebelumnya, dugaan kerja sama oknum petugas SPBU dengan pelangsir sempat ramai diberitakan. Menanggapi hal itu, Riska yang mengaku mewakili pengelola SPBU membantah adanya kerja sama tersebut. Dalam pesan WhatsApp pada Jumat (10/7), ia menyatakan pengisian dilakukan sesuai ketentuan.
“Kami tidak ada pungli. Pengisian BBM subsidi semua sesuai barcode, plat kendaraan, dan STNK,” tulisnya. Ia juga membenarkan penawaran Dexlite seharga Rp50–100 ribu namun menegaskan tidak bersifat wajib. “Jika berminat silakan, tidak ada paksaan,” ujarnya. Kendaraan yang tidak sesuai data pun ditegaskan tidak dilayani.
Namun, pernyataan tersebut dibantah warga sekitar yang meminta identitas disamarkan sebagai AAN. Menurutnya, pengisian Solar oleh pelangsir masih berlangsung hampir setiap hari.
“Bohong itu. Tiap hari masih ada mobil pelangsir isi solar. Cuma sekarang tidak semua dilayani, seolah dipilih-pilih,” ungkap AAN, Senin (20/7/2026). Ia juga mempertanyakan kewajiban beli Dexlite bagi pelangsir. “Kalau tidak ada kerja sama, kenapa setiap pelangsir yang masuk diwajibkan beli Dexlite Rp50–100 ribu?” katanya.
Hal senada disampaikan Arman (nama samaran), mantan pelangsir yang kini sudah tidak dilayani. Saat ditemui Selasa (21/7/2026), ia menyebut praktik tersebut masih berjalan.
“Masih melayani. Cuma sekarang mobil Panther dipilih-pilih, mungkin takut terbongkar. Tapi kalau pelangsir pakai mobil tongkang tetap masuk,” ujarnya.
Warga menilai kondisi tersebut berpotensi merugikan masyarakat yang seharusnya menjadi penerima utama BBM subsidi. Mereka meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait turun tangan memeriksa. Apabila dibiarkan, dinilai tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga mencederai rasa keadilan masyarakat kecil yang sangat bergantung pada subsidi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPBU Lare-Lare tetap menyatakan seluruh pengisian dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.


Tinggalkan Balasan