SimpulRakyat.co.id, Cerpen – Makassar, pukul delapan pagi. Langit pucat seperti wajah yang baru saja menangis. Dari beranda kecil rumahnya di Barukang, Putra berdiri menatap pot bunga yang mulai kering. Hari itu Minggu, hari yang selalu ia pilih untuk mengganti bunga layu di vas kristal peninggalan ibunya, seolah dengan itu ia menjaga kenangan agar tak ikut mati.

Ibunya-lah yang sejak kecil mengajarkannya bahwa bunga tak sekadar hiasan, melainkan cara sederhana untuk menjaga keteduhan batin. Sejak ibunya tiada, vas kristal itu menjadi satu-satunya benda yang membuat Putra merasa seolah masih bisa berbicara dengannya.

Setiap Minggu pagi, ia mengganti bunga dengan hati-hati. Menyapa keheningan. Mengucapkan doa yang sama. Dan seperti biasa, ia akan duduk di kursi rotan tua di pojok ruangan, menatap kelopak bunga sambil membiarkan pikirannya berkelana ke masa lalu.

Namun akhir-akhir ini, semua terasa berbeda. Bunga-bunga itu tak lagi membawa kedamaian. Warna-warnanya tetap indah, aromanya masih lembut, namun hatinya sepi, seolah di dalam dirinya ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh wangi melati, mawar, atau anggrek.

Putra merasa kehilangan sesuatu yang tak ia mengerti, kerinduan akan cinta. Cinta yang hidup, nyata, dan mampu memeluk hatinya yang tiba-tiba rapuh.

Ia malu mengakui itu. Selama ini, ia menertawakan orang-orang yang hidup dari notifikasi dan cinta digital. Teman-temannya rajin memburu “cinta sejati” di segala platform, menggubah kutipan manis, menata wajah dengan filter, dan membeli perhatian di toko-toko murahan bernama perhatian instan.

Sementara ia, bertahun-tahun merasa cukup dengan bunga dan kenangan.

Kini, keyakinan itu retak. Ia tak tahu sejak kapan, tapi setiap kali melihat pasangan berboncengan di bawah lampu jalan, hatinya mencelos. Kadang, ia berhenti di halte, menatap dua orang yang saling tertawa, lalu pulang dengan dada yang terasa sesak.

Malam-malamnya diisi lagu-lagu cinta yang dulu ia hindari. Ia bahkan menulis kalimat manis di kertas kecil, bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk tahu rasanya menulis sesuatu dengan lembut.

“Lucu,” gumamnya.

“Aku mulai jadi seperti mereka.”

Namun rasa itu tumbuh seperti semak yang tak bisa dibabat. Hingga suatu sore, di sebuah kafe Jalan Urip Sumoharjo, kawannya, penggila cinta daring berkata sambil terkekeh: “Sekarang cinta sejati bisa dibeli, Bro. Ada tokonya di Jalan Penghibur. Orang-orang antre.”

Putra tertawa kecil, tapi di dadanya, sesuatu berdenyut pelan. Ia pulang dengan kepala penuh tanda tanya. Malam itu, ketika membuka gawainya, matanya menangkap iklan aneh: “Promo Cinta Sejati.”

Ada dua pilihan toko, yaitu Toko Penitipan Rindu dan Toko Harapan yang Luruh.

Yang kedua menawarkan “sekantong air mata manusia paling tulus”, tapi Putra tak percaya pada hal yang berlebihan. Ia memilih yang pertama, iklan yang tenang, tanpa janji bombastis.

Syaratnya sederhana: “Cinta sejati harus dibayar lunas, tanpa cicilan, tanpa refund. Jika kau berani membayar penuh, semesta akan memberi tanda.”

Putra tersenyum kecil. Kalimat itu terasa akrab di hatinya. Ia percaya, semesta selalu memberi tanda bagi yang mau membaca. Seperti ibunya dulu yang yakin, angin membawa kabar, dan bunga diam-diam menyimpan doa.

Malam itu, dengan dada yang hangat oleh harapan, Putra memutuskan: esok, ia akan pergi ke sana.

Hari itu cerah, tapi udara Makassar terasa aneh, panas sekaligus lembap, seperti menahan hujan yang enggan turun. Putra mengenakan kemeja kotak-kotak dan sepatu kulit yang sudah lama tak disentuh. Di jalan, suara angkutan umum, aroma aspal, dan teriakan pedagang kaki lima bercampur jadi musik latar kehidupan yang terasa asing.

Toko Penitipan Rindu berada di sebuah bangunan tua dekat Benteng Rotterdam. Cat kremnya memudar, tapi jendela kacanya berkilau. Di dalam, aroma sedap malam samar-samar mengisi udara. Seorang perempuan berwajah tenang menyapanya sopan.

“Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin membeli cinta sejati,” ucap Putra, suaranya lirih, seolah takut kalimat itu akan hancur sebelum sempat sampai.

Perempuan itu tersenyum tipis, lalu berkata pelan:

“Maaf, Tuan. Stok cinta sejati kami sudah habis dua bulan terakhir. Permintaannya tinggi sekali.”

“Jika Tuan berkenan, silakan mendaftar waiting list. Tapi… banyak yang rela membayar tiga kali lipat untuk didahulukan,” lanjutnya.

Putra terpaku. Ia ingin tertawa, tapi senyum itu tak jadi lahir. Hanya sebuah rasa hampa yang menekan dadanya.

“Terima kasih,” katanya akhirnya, lalu melangkah pergi.

Makassar sore itu murung. Langit menggantung rendah, seolah ikut menahan air mata. Ia berjalan tanpa arah, menelusuri trotoar basah di Barukang. Di seberang jalan, sepasang muda-mudi tertawa di bawah payung. Di sisi lain, seorang ibu memeluk anaknya yang tertidur. Semua tampak punya tempat pulang.

Ia berhenti di sebuah taman kecil. Di ujungnya berdiri sesuatu yang ganjil, sebuah tempat sampah yang dikelilingi bunga sedap malam.

Tempat itu bersih, dicat dengan grafiti lembut warna biru langit. Di sekelilingnya, kelopak bunga layu berserakan tapi wangi, wangi yang menenangkan seperti aroma sabun ibunya.

Putra mendekat, lalu menyingkap penutup tempat sampah itu. Di dalamnya bukan sekadar sampah. Ada kelopak bunga, kertas kusut, dan satu gulungan kertas kecil yang diikat pita hijau tua.

Entah kenapa, jantungnya berdegup cepat. Ia mengambil gulungan itu, membukanya perlahan. Tulisan tangan di atasnya miring dan lembut, ternyata sebuah puisi: “Aku sapi kerontang di padang yang kering. Hidupku baru mulai ketika kau datang membawa sungai.”

Putra membaca ulang. Ada getar aneh yang menyelinap dari huruf-huruf itu. Kalimatnya sederhana, tapi menyimpan luka dan rindu yang tak bisa dijelaskan.

Ia terdiam lama. Mungkin cinta sejati memang tak bisa dibeli. Mungkin ia hanya bisa ditemukan, bahkan di tempat yang paling tak terduga.

Tanpa sadar, Putra melipat surat itu kecil-kecil dan menyelipkannya ke dalam dompet, di antara foto dirinya dan ibunya. Ia tak tahu siapa penulisnya, tapi setiap kali membaca puisi itu, ada sesuatu yang hangat menetes perlahan di dadanya.

Malamnya, ia kembali ke rumah. Di beranda, ia menatap vas kristal itu. Bunga baru yang tadi pagi ia letakkan tampak lebih segar dari biasanya. Ia duduk lama, membiarkan udara malam menyentuh pipinya.

“Mungkin semesta tak memberi tanda lewat bintang atau cahaya,” gumamnya pelan.

“Tapi lewat sesuatu yang jauh lebih sederhana.”

Ia menatap bunga sedap malam yang ia beli seminggu lalu, aromanya masih bertahan. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Putra tersenyum tulus.

Di luar, Makassar tetap bising. Namun di dalam dirinya, ada keheningan yang baru. Dan ia tahu, ibunya pasti ikut tersenyum di suatu tempat.