SimpulRakyat.co.id, Luwu – Suasana khidmat menyelimuti Baruga Arung Senga pada Jumat malam (3/7/2026). Masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Luwu melaksanakan ritual adat Maddoja Roja, salah satu prosesi sakral dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Luwu, Sabtu (04/07/2026).
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi simbol pelestarian adat, penguatan nilai spiritual, sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala keberkahan yang diberikan kepada Tana Luwu.
Kegiatan dihadiri Wakil Bupati Luwu Muhammad Dhevy Bijak Pawindu, Sekretaris Daerah Muh. Rudi, Ketua DPRD Ahmad Gazali, Kapolres Luwu, Danramil Belopa, Ketua TP PKK Ny. Hj. Kurniah Patahudding, serta jajaran pimpinan perangkat daerah.
Turut hadir pula Yang Mulia Macenning Luwu Andi Sitti Husaima, Makole Baebunta Hj. Andi Syarifah Muhaeminah, Maddika Ponrang Andi Saddawero Kira, Maddika Bua Andi Syarifuddin, Patunrung Luwu Andi Saddakayi Arsyad, Direktur Utama PT Masmindo Dwi Arya, para pemangku adat, dan tamu undangan lainnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Luwu, Mulianto Taro, menjelaskan bahwa rangkaian ini dikenal dengan sebutan Mappacekke Wanua, yang berarti “mendinginkan negeri”. Tradisi ini merupakan ikhtiar bersama untuk membersihkan daerah dari hal-hal buruk, serta memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat Luwu.
Rangkaian prosesi diawali dengan Mallekke Wai, yaitu pengambilan air dari sumber mata air yang disakralkan. Dilanjutkan dengan Maddoja Roja, ritual berjaga semalam suntuk yang diisi dengan doa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan zikir. Keesokan harinya, pada Sabtu pagi, akan dilaksanakan Mangeppi Wai, yaitu pemercikan air suci sebagai simbol penyucian negeri dan permohonan keselamatan bagi warga.
Dalam sambutan yang dibacakan Wakil Bupati, Bupati Luwu H. Patahudding menyampaikan bahwa Mappacekke Wanua memiliki makna mendalam sebagai upaya membersihkan negeri secara lahir dan batin. Nilai yang terkandung di dalamnya mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan, mempererat hubungan antarsesama, serta memperkuat persatuan.
Menurutnya, Maddoja Roja bukan sekadar penghormatan kepada warisan leluhur, melainkan juga wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Pemerintah Kabupaten Luwu menempatkan pelestarian adat dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan daerah.
Kemajuan Kabupaten Luwu harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya, memperkuat karakter masyarakat, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.
Melalui pelaksanaan tradisi ini, Pemerintah Kabupaten Luwu bersama para pemangku adat meneguhkan komitmen untuk menjaga warisan budaya sebagai jati diri Tana Luwu. Pembangunan daerah akan semakin bermakna apabila tetap berpijak pada nilai adat, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur.


Tinggalkan Balasan