SimpulRakyat.co.id, Malang, Jawa Timur — Setiap tahun, ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia berbondong-bondong menuju Kota Malang untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan nasional itu tidak hanya menawarkan kualitas akademik yang kompetitif, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan bagi beragam latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman hidup. Di antara ribuan wajah baru yang memenuhi ruang-ruang kuliah setiap tahun, terdapat sekelompok mahasiswa yang menjalani perjalanan lebih panjang dibandingkan yang lain. Mereka adalah para mahasiswa perantau dari luar Pulau Jawa yang harus meninggalkan rumah, keluarga, dan lingkungan yang selama ini membentuk kehidupan mereka demi mengejar cita-cita di bangku perguruan tinggi.
Fenomena ini juga tampak di Departemen Teknik Kimia Universitas Brawijaya angkatan 2025. Komposisi mahasiswa yang didominasi oleh peserta didik asal Pulau Jawa menciptakan dinamika sosial yang menarik untuk diamati. Sekitar 80 persen mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Jawa, sementara sekitar 20 persen lainnya datang dari Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, dan sejumlah wilayah lain di Indonesia. Secara statistik, jumlah tersebut mungkin terlihat kecil. Namun di balik angka itu tersimpan kisah-kisah perjuangan yang tidak selalu tampak di ruang kelas maupun media sosial. Perjalanan menjadi mahasiswa perantau sering kali dimulai dengan sebuah fase yang dikenal sebagai culture shock atau gegar budaya. Bukan dalam bentuk kejadian besar yang dramatis, melainkan melalui pengalaman-pengalaman sederhana yang terjadi hampir setiap hari. Perbedaan cara berkomunikasi, kebiasaan sosial, hingga pola interaksi menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi ketika seseorang memasuki lingkungan baru yang sangat berbeda dari tempat asalnya.
Bagi sebagian mahasiswa luar Jawa, bahasa menjadi tembok pertama yang harus mereka panjat. Percakapan santai di antara teman-teman kampus sering kali diselingi penggunaan bahasa Jawa yang secara alami digunakan oleh mayoritas mahasiswa. Situasi tersebut tidak jarang membuat mahasiswa pendatang merasa tertinggal dalam percakapan. Lelucon yang disambut gelak tawa oleh sebagian besar mahasiswa terkadang hanya berakhir menjadi tanda tanya bagi mereka yang belum memahami konteks budaya setempat. Kondisi seperti ini memang terlihat sederhana, tetapi jika berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan perasaan terasing, terutama pada masa-masa awal perkuliahan ketika proses pencarian teman dan lingkungan sosial sedang berlangsung. Perbedaan budaya juga tercermin melalui cara berbicara dan logat yang dibawa masing-masing mahasiswa. Beberapa mahasiswa mengaku sempat menahan diri untuk aktif berbicara di kelas atau berinteraksi dalam kelompok besar karena khawatir logat mereka dianggap aneh. Kekhawatiran tersebut bukan selalu muncul karena adanya perlakuan diskriminatif, melainkan lebih banyak berasal dari ketidakpastian dan rasa tidak percaya diri ketika berada di lingkungan yang benar-benar baru. Pada tahap tertentu, proses adaptasi sosial menjadi sama pentingnya dengan proses adaptasi akademik.
Tantangan akademik menjadi lapisan berikutnya yang harus dihadapi mahasiswa perantau. Tidak semua peserta didik datang dari latar belakang pendidikan yang memiliki fasilitas, kualitas pengajaran, dan kurikulum yang sama. Seorang mahasiswa asal Timika, Papua, misalnya, mengaku sempat mengalami kesulitan ketika memasuki dunia perkuliahan. Menurutnya, materi sains yang ia peroleh selama di sekolah menengah berkembang dengan ritme yang berbeda dibandingkan dengan sebagian besar sekolah di Jawa. Akibatnya, ketika memasuki perkuliahan yang menuntut pemahaman konsep-konsep teknik dan sains secara mendalam, ia merasa harus bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalan. tantangan tersebut tidak dimaknai sebagai keterbatasan kemampuan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa dari daerah mana pun memiliki peluang yang sama untuk berhasil, selama diberikan kesempatan dan dukungan yang memadai. Yang membedakan hanyalah titik awal serta proses yang harus dilalui untuk mencapai tujuan yang sama. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kesenjangan yang dirasakan mahasiswa perantau sering kali bukan persoalan kapasitas individu, melainkan persoalan akses dan pengalaman pendidikan yang berbeda sebelum memasuki perguruan tinggi.
Persoalan lain yang tidak kalah besar justru hadir dari aspek emosional. Berkuliah jauh dari rumah berarti belajar menjalani kehidupan secara mandiri dalam hampir seluruh aspek. Mahasiswa harus mengatur keuangan bulanan, memilih tempat tinggal, menyusun jadwal kegiatan, hingga mengambil berbagai keputusan penting tanpa kehadiran keluarga di dekat mereka. Situasi yang bagi sebagian orang terlihat sebagai proses pendewasaan, bagi mahasiswa perantau sering kali menjadi tantangan psikologis yang cukup berat. Rasa rindu kepada keluarga atau homesick menjadi pengalaman yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mahasiswa rantau. Perasaan tersebut biasanya muncul pada momen-momen tertentu, seperti setelah menghadapi ujian yang melelahkan, ketika mengalami masalah pribadi, atau saat menyaksikan teman-teman lain masih dapat pulang ke rumah pada akhir pekan. Tidak adanya sosok orang tua yang dapat ditemui secara langsung membuat mahasiswa harus belajar mengelola emosi secara mandiri. Dalam banyak kasus, kemampuan bertahan menghadapi tekanan psikologis inilah yang menjadi salah satu faktor penting keberhasilan adaptasi di lingkungan kampus.
Namun perjalanan adaptasi tidak selalu dipenuhi kesulitan. Berbagai pengalaman mahasiswa menunjukkan bahwa keberhasilan menyesuaikan diri sering kali berawal dari hadirnya lingkungan sosial yang suportif. Di balik capaian akademik yang berhasil diraih banyak mahasiswa perantau, terdapat peran teman-teman yang membantu mereka memahami lingkungan baru, mengenalkan budaya setempat, hingga memberikan dukungan ketika menghadapi kesulitan. Hubungan pertemanan yang sehat terbukti menjadi salah satu modal sosial paling berharga bagi mahasiswa rantau. Teman sebaya tidak hanya berfungsi sebagai rekan belajar, tetapi juga menjadi sumber informasi, tempat berbagi pengalaman, dan bahkan keluarga pengganti ketika jarak memisahkan mahasiswa dari orang-orang terdekatnya. Banyak mahasiswa mengaku bahwa proses adaptasi mereka menjadi jauh lebih mudah ketika menemukan teman yang bersedia menjelaskan istilah-istilah yang belum mereka pahami, mengajak berdiskusi sebelum ujian, atau sekadar menemani saat merasa kesepian.
Pengaruh lingkungan pertemanan juga terlihat dalam pembentukan kebiasaan belajar. Mahasiswa yang berada dalam kelompok dengan motivasi akademik tinggi cenderung terdorong untuk mengembangkan disiplin dan semangat belajar yang serupa. Sebaliknya, lingkungan sosial yang kurang mendukung dapat memperlambat proses adaptasi serta menghambat perkembangan individu. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan mahasiswa perantau tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pribadi, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial yang mereka bangun selama menjalani perkuliahan.
Peran penting lainnya datang dari para dosen yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Bagi mahasiswa yang masih berupaya memahami lingkungan kampus, kehadiran dosen yang terbuka dan inklusif memiliki arti yang sangat besar. Sikap yang tidak membedakan mahasiswa berdasarkan asal daerah, kemampuan ekonomi, maupun latar belakang budaya mampu menciptakan rasa aman dalam proses belajar mengajar. Hal-hal yang terlihat sederhana seperti memberikan kesempatan bertanya tanpa rasa takut, menyediakan waktu konsultasi tambahan, atau menunjukkan sikap ramah kepada seluruh mahasiswa ternyata memiliki dampak psikologis yang signifikan. Mahasiswa yang merasa dihargai dan diterima cenderung lebih percaya diri untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan akademik. Pada akhirnya, suasana pembelajaran yang inklusif menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung keberhasilan mahasiswa perantau.
Dukungan institusi juga tidak dapat diabaikan. Kebijakan akademik yang memberikan ruang konsultasi, layanan bimbingan, forum diskusi, maupun berbagai program pengembangan mahasiswa berperan dalam membantu proses penyesuaian diri. Kehadiran sistem pendukung tersebut memberikan pesan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi juga sebagai lingkungan yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh mahasiswanya. Menariknya, proses adaptasi tidak hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa perantau semata. Kehidupan kampus yang inklusif lahir dari interaksi dua arah antara mahasiswa pendatang dan mahasiswa lokal. Mahasiswa perantau perlu membuka diri terhadap lingkungan baru, sementara mahasiswa lokal juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang ramah terhadap keberagaman. Ketika kedua pihak saling memahami dan menghargai perbedaan, kampus tidak lagi menjadi ruang yang memisahkan identitas, melainkan menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif yang memperkaya pengalaman belajar.
Pengalaman seorang mahasiswa asal Bontang, Kalimantan Timur, menggambarkan proses tersebut dengan cukup jelas. Pada awal masa kuliah, ia merasa canggung untuk berbicara karena logat khas daerahnya sering mengundang tawa dari teman-teman sekitar. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa respons tersebut bukan bentuk ejekan, melainkan bagian dari proses saling mengenal. Ketika rasa canggung mulai hilang, hubungan pertemanan pun berkembang secara alami. Pengalaman sederhana tersebut menunjukkan bahwa banyak hambatan sosial sebenarnya dapat teratasi ketika terdapat komunikasi yang terbuka dan saling menghargai. Keberagaman yang hadir di lingkungan perguruan tinggi pada akhirnya bukan sekadar realitas demografis, melainkan aset yang dapat memperkaya kehidupan akademik. Pertemuan mahasiswa dari berbagai daerah menghadirkan pertukaran pengalaman, nilai budaya, serta cara pandang yang berbeda terhadap berbagai persoalan. Proses tersebut memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan kemampuan untuk hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.
Bagi mahasiswa perantau, perjalanan menempuh pendidikan di kota yang jauh dari kampung halaman bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik. Perjalanan itu juga menjadi proses pembentukan karakter, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi yang akan terus mereka bawa hingga masa depan. Mereka meninggalkan zona nyaman, menghadapi ketidakpastian, serta belajar membangun kehidupan baru dengan segala tantangannya. Karena itu, keberhasilan menciptakan lingkungan kampus yang ramah terhadap keberagaman tidak dapat diserahkan kepada satu pihak saja. Institusi pendidikan perlu menghadirkan kebijakan yang inklusif, dosen perlu membangun ruang belajar yang aman dan terbuka, sementara mahasiswa perlu menumbuhkan budaya saling menerima tanpa memandang asal daerah. Ketika seluruh unsur tersebut berjalan beriringan, kampus benar-benar dapat menjadi ruang tumbuh yang setara bagi semua orang.
Mahasiswa perantau bukan hanya bawa koper dan berkas pendaftaran ketika datang ke Malang. Mereka membawa keberanian untuk meninggalkan rumah, harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik, serta tekad untuk bertahan di lingkungan yang sama sekali baru. Keberanian itulah yang sering kali tidak terlihat, tetapi menjadi salah satu pelajaran paling berharga yang lahir dari kehidupan kampus yang sesungguhnya.
Ditulis Oleh
Tizza Azzahra Aullia Irawan, Raihanah Sabela, Shakira Rayza Zaira Ramdhan, Naura Rifda Assyifa, Dhea Janna Kenanga
*Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian lapangan terhadap mahasiswa perantau di Departemen Teknik Kimia Universitas Brawijaya angkatan 2025, sebagai bagian dari kajian akademik mata kuliah Pancasila.


Tinggalkan Balasan