Syawir menuturkan, gagasan menggelar upacara di Batu Payung muncul secara spontan.

Menurut dia, lokasi tersebut bukan hanya simbol desa, melainkan juga menyimpan potensi wisata yang bisa lebih dikenal luas.
“Kenapa kami pilih Batu Payung, karena ini adalah ikon utama Desa Biringere. Harapannya, dengan upacara ini, Batu Payung bisa semakin dikenal dan menarik kunjungan wisatawan,” ujarya.
Saat ini, fasilitas wisata di Batu Payung masih dalam tahap pengembangan. Untuk mencapai puncaknya, peserta upacara memanfaatkan flying fox.
“Fasilitas wisata di sini sementara masih dalam proses pembangunan sesuai master plan, dan mudah-mudahan bisa segera rampung,” harapnya.
Di balik suasana khidmat upacara, tampak semangat kebersamaan warga begitu kental. Mereka bergotong royong menyiapkan perlengkapan, mengibarkan bendera, hingga memastikan anak-anak ikut merasakan pengalaman unik itu.
“Mudah-mudahan perayaan ini bisa menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan, khususnya di Desa Biringere, serta memupuk semangat gotong royong untuk membangun desa lebih baik lagi,” pungkas Syawir. (*)
Catatan Redaksi:
Tulisan ini semula merupakan straight news yang kemudian dikembangkan oleh redaksi menjadi feature.


Tinggalkan Balasan