SimpulRakyat.co.id, Makassar – Aksi unjuk rasa digelar puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa (IPPM) Pangkep, Kamis (24/4/2025).
Mereka menuntut kejelasan terkait dugaan pungutan liar dalam pelaksanaan program SuperSUN, kerja sama antara PLN dan Pemerintah Kabupaten Pangkep yang bertujuan untuk melistriki desa-desa kepulauan.
Namun di lapangan, yang dirasakan warga justru sebaliknya. Alih-alih menikmati manfaat penerangan gratis, warga mengaku diminta membayar sejumlah uang tanpa kejelasan mekanisme resmi.
“Katanya ini bantuan, tapi kami diminta bayar Rp1,35 juta sampai Rp1,5 juta. Anehnya, yang menagih justru lurah dan kepala desa, bukan dari pihak PLN,” ujar Ketua Umum IPPM Pangkep, Syahrul, saat berorasi di tengah aksi yang digelar di ruas jalan utama.
Dalam aksinya, massa membakar ban dan memblokade jalan sebagai simbol kekecewaan. Suara orasi terdengar lantang, bahkan mengalahkan bunyi genset yang biasa menjadi andalan di desa-desa tanpa akses listrik.
IPPM menyebut bahwa program SuperSUN yang seharusnya membawa manfaat, kini berubah menjadi sumber keresahan warga.
“Kalau ini memang program bantuan, kenapa ada harga? Kalau ini pemasangan resmi, mana bukti pembayaran dan dasar hukumnya?” tanya Syahrul.
“Jangan-jangan ini bukan SuperSUN, tapi malah ‘super setor’,” ujarnya menyindir.
Sekitar 78 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi turut serta dalam aksi ini. Mereka kemudian bergerak ke Gedung DPRD Pangkep untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Namun, hanya Komisi I DPRD yang bersedia menerima audiensi. Tawaran itu ditolak oleh IPPM.
Mereka menilai persoalan dugaan pungli ini tidak cukup diselesaikan di tingkat komisi, melainkan harus melibatkan pimpinan DPRD, camat, lurah, kepala desa, dan perwakilan PLN.
“Kami bicara soal dugaan pungli yang sistematis. Tapi para pemangku kepentingan seolah memilih bungkam. Tak satu pun dari mereka hadir,” kata Jenderal Lapangan, Akbar.
Meski berlangsung damai, aksi ini belum menjadi akhir. IPPM mengumumkan rencana menggelar Aksi Jilid II dengan skala yang lebih besar.
“Jika kalian tak berani keluar dari balik ruangan ber-AC, kami akan datang mengetuk. Kalau tak dibukakan, kami dobrak dengan suara rakyat,” pungkas Akbar.


Tinggalkan Balasan