SimpulRakyat.co.id – Kuda merupakan salah satu hewan yang biasa digunakan sebagai alat transportasi untuk delman, atau untuk mengangkut barang yang cukup berat. Namun beda halnya dengan di Bima Nusa Tenggara Barat, kuda malah dijadikan sebagai cabang olahraga yang biasa disebut “Pacoa Jara” (pacuan kuda).
Uniknya, olahraga ini biasa dilakukan oleh kalangan anak-anak mulai dari umur 8 hingga 10 tahun. Anak-anak Bima juga Sumbawa, sudah dilatih mental dan keberanian, sembari mempersiapkan diri mengikuti lomba pacuan kuda, mulai dari antar kelurahan hingga antar kota.

Sejak Abad XII Masehi, kuda asal Bima sudah tersohor di Nusantara. Saat itu, para pedagang dari berbagai penjuru datang membeli kuda Bima, kemudian dijual di negeri asalnya untuk dijadikan tunggangan para raja, bangsawan, dan panglima perang.
Raja-raja dan panglima perang Kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit, dalam buku Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, juga selalu memilih kuda Bima untuk memperkuat armada kavalerinya.
Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) I Made Purna mengingatkan kenangan itu saat berbicara dalam seminar yang membahas secara khusus tentang kuda Bima yang merupakan rangkaian Bulan Citra Budaya NTB XVII di Bima, Senin pekan lalu.
Salah satu keturunan Sultan Bima, Hj Siti Maryam R Salahudin (83), memperkuat kenangan lama itu. Menurut dia, di masa lampau, kuda Bima juga berperan penting memperkuat angkatan perang Kerajaan Kesultanan Bima.
Para Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia pun sering minta dikirimi kuda Bima, dinilai sebagai jenis kuda terbaik di Kepulauan Hindia Belanda.
Kuda Bima dinilai sebagai sarana transportasi yang tangguh karena kuat membawa beban hasil panen, tahan cuaca panas, serta jinak.
”Layaknya sepeda motor sekarang, dulu jika suami istri bepergian jauh, berboncengan menumpang kuda (jara kapa nae–kuda berpelana besar),”
kenang Maryam.
Dalam Nota Penjelasan Perjanjian Politik antara Kerajaan Bima dan Gubernur Sulawesi, DP Van Braam Morris, tertanggal 20 Desember 1886, tercatat bahwa kuda Bima pernah dikirim ke Sulawesi dan Jawa. Jumlahnya mencapai 1.000 sampai 1.500 ekor per tahun. Saat itu, harga kuda tertulis 40-50 poundsterling, sedangkan harga lokal di Bima saat itu 15-25 poundsterling per ekor.
Tercatat juga pernah ada seorang pangeran dari Madura yang memesan beberapa kuda kepada Sultan Abdul Kadim, Sultan Bima ke-8 (abad ke-18). Saat itu, Kesultanan Bima memiliki ranch, tempat pemeliharaan kuda di Desa Wera, Lambu, Kangga, Paile, Sangeang Darat, Sangeang Api, dan Poja.
Sedemikian akrabnya orang Bima dengan kuda, sampai kini pun banyak cerita soal kuda yang berkembang di masyarakat. Kuda Bima bahkan juga sudah dijadikan simbol pantang menyerah, mau hidup prihatin, dan berjuang demi mencapai tujuan. Kuda Bima juga jinak, tidak mau dikasari, dan akan tunduk jika diperlakukan secara lembut.

Lain sekarang, kini kuda Bima di Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa, NTB, kian terancam kelestariannya. Keberadaan kuda Bima sudah terdesak oleh kuda jenis lain, seperti sandalwood dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang banyak dipelihara dan dikembangkan sebagai kuda pacu.
”Tahun 2009 lalu, sedikitnya ada 20 ekor kuda Sumba masuk ke Bima setiap sepuluh hari sekali, sedangkan upaya pelestarian kuda lokal Bima belum terlihat nyata,” ujar Said Abdullah, penggemar kuda Bima.
Diketahui, kuda Bima bentuk badannya pendek. Tinggi badan kuda Bima usia 1-3 tahun rata-rata 110 sentimeter-113 cm, kuda usia 4-8 tahun setinggi 114-117 cm, kuda dewasa (usia 10 tahun ke atas) adalah 119-120 cm. Namun, kuda Bima memiliki daya tahan tubuh yang baik dan langkah cepat.
Said Abdullah juga mengungkapkan, masuknya kuda sandalwood ke Bima itu tidak terbendung karena Kabupaten Bima bertetangga dengan Pulau Sumba sebagai tempat asal kuda sandalwood.
Selain transportasi yang mudah, kata Abdullah, animo para pejabat dan kalangan berduit di Bima mencari kuda sandalwood sangat tinggi untuk dilombakan pada pacuan kuda yang menjadi tradisi masyarakat daerah itu.
”Jangan sampai kuda Bima senasib dengan kuda poni yang kini sulit ditemukan di Sumbawa (meliputi Kabupaten Bima, Dompu, Sumbawa, dan Sumbawa Barat),” ujar Said Abdullah khawatir.
Menurut Said Abdullah, sesungguhnya penangkaran kuda Bima sangat mungkin dikembangkan mengingat teknologi ataupun sumber daya manusia tersedia di NTB.
”Cuma pemerintah memiliki skala prioritas tidak?,” katanya.
Sementara, H Adnan Abdullah yang banyak melakukan kawin silang antara kuda Bima (betina) dan sandalwood (jantan) dalam tiga tahun ini berpandangan, kawin silang justru akan melestarikan plasma nutfah kuda lokal.
Selain itu, kata Adnan Abdullah, kawin silang kedua kuda tersebut juga menghasilkan kuda keturunan yang tangguh, bertenaga, memiliki kecepatan lari (didapat dari induknya), serta fisik memadai (didapat dari pejantan) sebagai kuda pacu.
Sayangnya, pemerintah provinsi (Pemprov) belum memiliki data lengkap soal kuda Bima ataupun kuda dari luar yang masuk.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan NTB, Aminurrahim saat ditanya soal ini, dia hanya menunjukkan data populasi kuda secara menyeluruh di NTB.
Menurut dia, populasi kuda di NTB tahun 2009 berjumlah 77.847 ekor. Dari jumlah tersebut, 16.873 ekor berada di Pulau Lombok, sisanya 60.964 ekor di Pulau Sumbawa.
Populasi kuda di NTB ini, menurut dia, masih menduduki 20 persen dari populasi kuda secara nasional yang berjumlah 398.000 ekor.
Soal kawin silang kuda Bima dengan sandalwood, Aminurrahim membenarkan, sama sekali bukan halangan. Menurut dia, dengan sistem penangkaran yang baik, kuda Bima merupakan sumber plasma nutfah, sebab tangguh sebagai hewan kerja, tahan cuaca panas, dan relatif jinak.
Keunggulan kuda Bima, betinanya terutama, apabila dikawinsilangkan dengan pejantan sandalwood (Sumba, NTT, tinggi 127 cm) dan thoroughbred (dari Inggris, tinggi 176-178 cm), yang postur tubuhnya lebih besar dan kekar, bisa menghasilkan kuda pacu yang andal.
”Teknologinya kita sudah punya, sumber daya manusia kita juga tersedia, hanya tinggal soal waktu untuk mewujudkannya. Pemprov NTB sesuai skala prioritas, kini menggarap perbanyakan sapi Bali lewat program ’Bumi Sejuta Sapi’. NTB menjadi sumber plasma nutfah sapi Bali,” paparnya.
Lalu Gita Aryadi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, berharap kuda Bima bisa dijadikan ikon pembangunan pariwisata.
Bima bersama kabupaten tetangganya (Kota Bima, Dompu, Sumbawa, dan Sumbawa Barat), di antaranya diangkat lewat lomba pacuan kuda (pacoa jara), seperti kebiasaan masyarakat etnis Mbojo (Bima dan Dompu) selama ini.
”Ingat kuda ingat Bima, ingat Bima ingat kuda,” begitu ujarnya.
Mudah-mudahan kekhawatiran kuda Bima yang terancam punah tidak segera terjadi. Kalau itu terjadi, kuda Bima hanya bisa diingat, tidak lagi bisa dilihat.
Dalam sejarahnya, pacuan kuda khas Bima ini pertama kali muncul pada tahun 1920-an. Dikutip dari laman warisanbudaya.kemendikbud.go.id, pacoa jara pertama kali diadakan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1927.
Pacoa jara diselenggarakan untuk merayakan hari kelahiran Ratu Wilhelmina di negeri asalnya. Saking asyiknya dunia berkuda, banyak anak di atas 10 tahun juga ikut dalam olahraga tersebut, dengan menyiapkan kuda yang menurut mereka kuat, lalu dibawanya untuk diperlombakan.
Salah satu anak dari Kelurahan Nungga, Akbar pernah meraih juara pada saat lomba pacuan kuda 2016 Wali Kota Cup Bima. Ia mengaku bahwah hal itu tidaklah mudah, untuk mendapatkan juara setelah beberapa kali mengikuti lomba tersebut.
Ia sering melatih kudanya, lalu merawat dengan sepenuh hati. Seperti memberinya makan, agar semakin kuat untuk diperlombakan. Sempat gagal beberapa kali sebelumnya, tidak membuat Akbar menyerah sampai di situ. Saking cintanya dengan olahraga berkuda, ia berhasil membuktikan bahwa dirinya juga pantas untuk juara.
Lelaki 23 tahun ini, menceritakan dengan penuh haru. Sembari tidak menyangka ia bisa meraih juara 1 lomba pacuan kuda, meskipun sempat ada kejadian anak kecil umur 10 tahun meninggal dunia pada saat mengikuti lomba pacuan kuda.
Ia mengaku bahwa kematian adalah sebuah takdir, yang memang sudah diatur oleh sang pencipta dan tidak ada kaitannya dengan perlombaan atau apapun yang dilakukandi oleh orang-orang di dunia ini.
Melansir dari https://acehprov.go.id, pacuan kuda tradisional Gayo merupakan sebuah event yang berlangsung tiap tahun. Peristiwa ini adalah bagian dari peringatan hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Perhatian masyarakat bertumpu seluruhnya ke arena pacuan ini.
Di Bima selain olahraga kuda diabadikan dan dibikin patung, di salah satu lapangan Serasuba yang berada tepat di depan museum sejarah asi Mbojo, sebagai lambang bahwa orang Bima kuat dan berani, seperti layaknya kuda.
Diketahui, olahraga berkuda bentuk olahraga yang menggabungkan aktivitas fisik, koneksi dengan hewan, dan banyak manfaat kesehatan. Olahrga berkuda dipercaya dapat meningkatkan kesehatan jantung, kekuatan otot, keseimbangan, serta suasana hati Anda.
Beberapa joki kuda lainnya mengaku, mengikuti olahraga kuda dikarenakan ada sebagian yang menarik, ada juga yang mengaku untuk menghapus segala pikiran dan masalahnya.
“Daripada ke jalan yang salah, mabuk-mabukan atau bahkan narkoba mending olahraga berkuda. Sehat dan menguji mental, dan badan fisik juga ikutan sehat. Bisa juga dapat prestasi, jika ditekuni dengan giat. Lagian saya sangat sayang dengan kuda saya,” begitulah pengakuan dari salah satu joki kuda, saat diwawancarai.
Penulis: Oriza Sativa Nabatiyah (50500121063), UIN Alauddin Makassar


Tinggalkan Balasan