SimpulRakyat.co.id, Manggarai Timur – Masyarakat sekitar Desa Satar Kapas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, terpaksa harus bergotong-royong pada Jumat (6/1) siang.

Masyarakat bergotong royong membangun Tambahan Ruang Kelas (TRK) Mbijar Larok setelah sebelumnya bangunan rusak akibat diterjang angin kencang.

Bangunan dari bambu itu tidak mampu menahan terjangan angin pada usianya yang telah mencapai 7 tahun. Setelah rata dengan tanah, TRK tersebut tidak kunjung mendapat perhatian pemerintah.

Akibatnya, sejumlah murid terpaksa menumpang dirumah warga sampai TRK selesai dibangun dan siap untuk dihuni kembali.

Finsensius Simer, ketua komite saat dimintai keterangan berharap pemerintah segera membangun dan mendefinitifkan TRK tersebut. Pasalnya murid Mbijar Larok harus menyebrang sungai jika harus ke sekolah induk di SD Wae Ciu.

“Pemerintah segera defintifkan TRK ini dan bangun gedung permanen, karena setiap tahun kami selalu melakukan rehab dinding mengganti bambu yang lapuk. Akses jalan tolong diperbaiki juga penerangan apalagi PLN kan sudah ada,” katanya.

Di tempat yang sama Josep Fina Jase, guru yang sudah mengabdi sejak TRK dibangun berharap hati nurani pemerintah, memperhatikan keselamatan anak yang ingin berjuang mendapatkan pendidikan.

“Pemerintah lebih perhatikan lagi keselamatan murid dan guru, sarana prasarana, juga gaji kami kalau bisa tolong dinaikan lagi,” sambungnya.

Senada, Kepala sekolah Wae Ciu, Damianus Sati juga berharap perbaikan sekolahnya. Pasalnya 54 siswa yang berada di Indonesia Timur ini, juga butuh pendidikan yang layak.

“Semoga dalam waktu dekat pemerintah bisa bangun gedung permanen, sudah cukup penderitaan masyrakat mengumpul uang untuk beli tanah lokasi TRK, material bangunan dan lain sebagainya untuk kebutuhan pembangunan TRK. Saya merasa sedih melihat kondisi bangunan, kasihan anak anak yang yang belajar disini yang jumlahnya 54 orang,” tutupnya.