SimpulRakyat.co.id, Manggarai – Masyarakat Kedindi, Kelurahan Baru, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, diresahkan dengan debu yang bertebaran akibat dari aktivitas kontener dan alat berat yang beroperasi di pelabuhan Reo, Rabu (18/10).

Hasil pantauan media ini, debu yang bertebaran karena aktivitas di pelabuhan tersebut mengakibatkan rumah warga dipenuhi debu.

Saat dikofirmasi warga sekitar pelabuhan, mereka mengaku resah dengan debu yang bertebaran masuk hingga di dalam rumah mereka.

Seorang warga berinisial J menerangkan, mereka resah dengan debu yang bersumber dari pelabuhan tersebut.

“Kami sangat berharap pihak Syahbandar siram agar tidak debu, akibat debu kami batuk dan gatal-gatal,” tutur J pada media ini.

Di tempat berbeda, Kaharudin selaku Ketua RT setempat, menyampaikan bahwa keresahan warga sudah lama dan sampai saat ini belum ada tindakan dari pihak Syahbandar.

“Keresahan ini sudah lama, akibat debu yang bersumber dari aktivitas di pelabuhan, memang mereka siram namun di pelabuhan aktivitas terus, mereka siram pagi, sementara siang sampai sore debu lagi karena aktivitas kontener dan alat berat,” terang Kaharudin

Lanjut ia katakan, warga pernah melakukan demo di pelabuhan akibat sudah sangat resah dengan debu yang menyelimuti Kedindi.

“Warga pernah demo akibat debu ini, sampai polisi dan tentara turun urus di kantor Syahbandar dan aktivitas sempat diberhentikan sementara,” terangnya

“Debu yang bertebaran di sini itu debu semen, pelabuhan di dalamkan lantai dengan semen karena kontener dan alat berat lantai pecah pasti jadi debu,” tambah dia.

“Rumah saya saja kasih pelafon di depan agar debu tidak masuk, namanya debu kan kaya air ada lubang kecil pasti tetap bisa masuk, padahal rumah saya jaraknya ini 100 meter kurang lebih dari pelabuhan, apalagi rumah warga yang di depan pelabuhan pasti dampaknya sangat mereka rasakan,” tegas Kaharudin.

Sementara itu, saat media ini berupaya mengkonfirmasi kepala Syahbandar perihal keluhan warga tersebut, seorang staf mengatakan bahwa pimpinananya tak berada di kantor.

“Kepala Syahbandar lagi diluar daerah, namun biasanya Pa Wira yang layani, tapi beliau juga tidak ada di kantor,” kata staf Syahbandar itu.

Saat media ini menanyakan selain dari Kepala Syahbandar dan Wira, siapa lagi yang bisa ditemui. Staf pelabuhan itu mengarahakan ke pria yang disebut “Pa Genting”, hanya saja pegawai yang di maksud juga tak berada di pelabuhan.

“Maaf sebelumnya, Pa Genting lagi sibuk hari ini dia tidak bisa temui,” kata staf tersebut.

Saat diminta nomor seluler pegawai Syahbandar tersebut, staf itu enggan memberikannya.

“Saya tidak bisa memberikannya, saya takut karena nomor Pa Ginting tidak bisa dikasih ke sembarang orang,” tutupnya. (*)